Homeschooling sebagai Alternatif Pendidikan Pencetak Anak Tangguh

Spread the love

Oleh : Netty Susilowati, SPd.

(Kepala Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Malang)

Muslimahtimes– Tahun pelajaran 2019-2020 penerimaan siswa baru diwarnai dengan banyak kegoncangan, kekisruhan dan kepanikan emak-emak yang memikirkan sekolah putra putrinya. Sistem zonasi lah penyebabnya. Belum lagi heboh dengan wacana menghapus pendidikan agama dari kurikulum pendidikan Indonesia. Hasil proses pendidikan pun tak selamanya indah. Bahkan lebih banyak mengenaskan. Kasus seks bebas selalu mewarnai bangku sekolah. Tidak hanya dilakukan antarsiswa, tetapi juga siswa dengan gurunya. Adab pelajar ke guru yang semakin menipis jika tidak mau dibilang telah hilang. Narkoba, tawuran antar pelajar, hingga aborsi mewarnai dunia pendidikan kita. Masalah klasik juga masih tersisa, yakni mahalnya pendidikan berkualitas.

Berbagai kondisi ketimpangan dalam dunia pendidikan menjadikan sebagian masyarakat mulai melirik homeschooling sebagai salah satu alternatif pendidikan. Juga ada yang karena alasan ekonomi, akhirnya beralih ke homeschooling. Di Indonesia, sekolah rumah yang sebenarnya telah ada sejak 1990-an. Misalnya, Helen Ongko (44) salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah. Dia rela hingga keluar negeri untuk mempelajari apa dan bagaimana homeschooling tersebut. Hari ini, homeschooling sudah mulai berkembang tidak hanya sebagai sekolah rumah. Tetapi sudah ada yang menyelenggarakan dalam bentuk grup. Juga sudah banyak muncul PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) sebagai lembaga yang menyelenggarakan homeschooling.

PKBM merupakan program pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan jalur informal. Badan penyelenggara PKBM sudah ada ratusan di Indonesia. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A (setingkat SD), Paket B (setara SMP), dan paket C (setara SMA). Sehingga bagi anak-anak yang mengikuti program homescholling tidak perlu khawatir mereka tidak mendapat ijazah dan tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena dengan ijazah kejar paket ini pun mereka mendapatkan hak yang sama dengan siswa yang bersekolah di jalur formal.

Homeschooling sebagai salah satu alternatif pendidikan, mulai berkembang menjadi homescholling grup. Bukan sekedar karena alasan ekonomi, tetapi ada juga karena pemilihan visi misi pendidikan bagi anak-anaknya. Juga karena kurikulum yang diterapkan saat ini yang hanya berorientasi materi tidak mampu membentuk kepribadian siswa. Terutama kepribadian Islamnya.

Dengan homeschooling, orang tua bisa menentukan sendiri, mau diarahkan kemana pendidikan anak-anaknya? Mau dibentuk seperti apa kepribadian mereka?

Tetapi tidak selamanya Homeschooling akan berjalan mulus tanpa kendala. Bahkan bisa menjadi bumerang jika orang tua tidak siap dengan konsep pendidikan anaknya. Yang ada anak-anak hanya akan “terlantar” di rumah sendiri tanpa pendidikan yang memadai. Maka ada dua hal yang harus dipersiapkan orang tua sebelum menjalankan homeschooling antara lain :

1. Persiapan mental
Orang tua harus siap mental menghadapi pertanyaan masyarakat, keluarga besar jika ada yang mempermasalahkan pendidikan putra putrinya. Sekolah dimana? Mengapa tidak sekolah? Bagaimana ijazahnya? Bagaimana jika mau sekolah ke jenjang lebih tinggi? Bagaimana nanti jika melamar kerja? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin muncul. Selain itu mendampingi anak selama 24 jam non stop dalam keseharian dan belajar mereka membutuhkan kesabaran ekstra. Stamina tingakt tinggi. Dan dukungan keluarga. Jangan sampai orang tua terutama ibu sebagai madrasatul ula mengalami depresi karena keputusan homescholling ananda yang indah di awal saja.

2. Persiapan konsep yang matang.
Konsep ini berkaitan dengan kurikulum yang akan kita ajarkan kepada anak-anak. Apa yang harus kita ajarkan pertama kali? Bagaimana cara mengajarkannya? Materinya apa saja. Untuk memulainya hal pertama yang harus kita pikirkan adalah visi misa kita kepada anak. Orang tua ingin anaknya seperti apa dengan pendidikan yang akan dijalankan?

Jika orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, maka sejak kecil dalam proses homescholling maka cukup pengetahuan tentang ilmu kedokteran dan persiapan menuju ke sana yang orang tua berikan. Seperti ini gambarannya. Maka sebagai seorang muslim tentunya kita ingin anak-anak menjadi anak yang bertakwa, berkepribadian Islam, menjadi pemimpin di masa depan. Dengan visi seperti ini, menjadikan kita harus menanamkan akidah anak-anak terlebih dahulu. Sebagaimana yang diajarkan oleh Lukman kepada anaknya yang diabadikan Allah dalam Alquran surat Lukman ayat 13.

Berikutnya untuk membentuk kepribadian anak diperlukan pola pikir dan pola sikap yang Islami. Maka orang tua harus memastikan yang masuk ke dalam akal anak adalah pengetahuan yang tidak bertenatangan dengan Islam. Dan memastikan perilaku dan sikapnya selalu sesuai dengan Alquran.

Setelah menentukan visi misi ini, baru orang tua bisa menentukan cara dan sarana pra sarana dalam belajar. Bagaimana cara menanamkan akidah kepada anak-anak? Lewat berceritakah, membuat craft atau apapun yang mengantarkan pada pemahaman anak terhadap akidahnya. Alat-alat apa saja yang mendukung dari proses belajar tersebut juga perlu dipikirkan.

Nah, apakah anda siap melaksanakan homesholing sebagai alternatif pendidikan untuk anak-anak? Wallahu a’alam bi showab. [nb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *