HTI, Dari Hati Sampai Di Hati

Spread the love

Oleh: Dede Yulianti

(Revowriter Bogor)

 

#MuslimahTimes — Siapakah yang sanggup meneruskan tugas mulia mengemban dakwah Islam seperti Baginda Rasulullah Saw? Ikhlas, lillah, tanpa bayaran, tanpa niatan dunia. Jangankan harta duniawi, justru yang di genggaman dilepas di jalan dakwah demi keberlangsungannya. Ringan. Bukan perkara dunia pula yang ditawarkan. Maka tak ada nasi bungkus, iming-iming beasiswa, apalagi tunjangan bulanan.

Satu-satunya dorongan adalah kekuatan iman. Keyakinan akan perjumpaan dengan Rabb yang harus dipersiapkan sedari detik ini. Pun keyakinan Islam sebagai jurus ampuh penyelesai segala masalah manusia, yang berasal dari Sang Maha Sempurna. Begitulah pula yang ditawarkan. Hanya Islam satu-satunya. Tak ada yang lain. Maka kesempurnaan Islam itulah yang menjadi magnet dakwah ini. Bukan nasi bungkus, rokok, apalagi amplop sebagai tawaran.

Hanya hati yang diselimuti ketaqwaan yang sanggup mengemban amanah agung ini. Begitupun hanya hati yang bersih saja yang menerima tawaran pahala dan surga. Kehadiran dakwah HTI bagai oase di tengah kerontangnya jiwa yang haus siraman kehidupan. Di antara banyaknya kaum oportunis yang mati-matian membela kepentingan dunia yang melenakan, harta, jabatan, kekuasan. Dakwah HTI murni berjuang demi tegaknya kehidupan Islam. Jangan dibayangkan simpatisannya hanya dari kalangan pesantrenan yang dekat dengan agama. Siapapun dapat merasakan cahaya Islam, jika hatinya tersentuh dengan iman.

Tak dipungkiri sistem hidup sekuler telah menumbangkan iman generasi saat ini. Korban pun berjatuhan. Dari pelaku zina, hingga kriminal. Mantan agen pergaulan bebas hingga mantan narapidana. Semua mendapatkan sambutan dakwah yang sama dari HTI. Tak sedikit mereka yang menyadari lumuran dosa telah menutupi cahaya iman dalam dirinya. Hingga tersadar akhirat-lah tujuan. Hijrah menjadi syarat melayakkan diri mendapat syafaat dan ampunan. Tak berhenti di sana, HTI mendorong mereka turut berkontribusi mengubah wajah masyarakat yang terlanjur kelam akibat sekulerisme. Aktivitas dakwah sebagai kewajiban menjadi keseharian para kadernya.

Tak perlu menunggu sempurna. Sebab hakikatnya manusia diperintahkan untuk saling menasehati. Juga Rasulullah Saw. memerintahkan untuk menyampaikan apa yang berasal dari Beliau, walaupun satu ayat. Inilah sesungguhnya yang menjadikan dakwah HTI besar. Siapapun yang bersentuhan dengan dakwahnya akan terdorong untuk kembali mendakwahkan, bahkan memperjuangkannya.

Namun sebagaimana jalan dakwah Baginda Rasulullah Saw. yang tak pernah sepi dari berbagai ujian dan rintangan. Begitupun dakwah menegakkan Islam di masa kini. Fitnah terus disuarakan kalangan yang tak menginginkan Islam tegak. Bahkan khilafah sebagai salah satu ajaran Islam pun dikriminalkan. Tak lain agar umat merasa ‘phobia’ terhadap ajaran agamanya sendiri. Asing dan menakutkan itulah yang coba ditanamkan. Padahal sejarah mencatat 13 abad Khilafah Islam berjaya, manusia bebas dari penjajahan. Kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia tercapai kala itu, bukan hanya dirasakan umat Islam saja. Khilafah pun mampu menjaga kedamaian agama-agama yang hidup di dalamnya. Terlebih di situasi sekarang yang penuh dengan kezaliman, kesengsaraan, dan pertikaian.

Islam adalah jawaban semua yang kita butuhkan saat ini. Syariat Islam tak hanya menjadi solusi di dunia, sekaligus penyelamat di akhirat kelak. Itulah satu-satunya poin penting yang ditawarkan HTI. Alhamdulillah dukungan umat pun terus bertambah seiring dengan badai fitnah yang coba hentikan langkah dakwahnya. Dakwah perintah langit yang tidak memerlukan ijin penduduk bumi. Begitupun Khilafah yang merupakan janji Allah. Listrik bisa dipadamkan, namun tak akan ada yang sanggup mencegah terbitnya fajar.

=================================================

Sumber Foto : RMOL JABAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *