IBU SIBUK, GENERASI AMBRUK!

Spread the love

Oleh : VIKI N. MUSWAHIDA, S.PD

(Seorang Praktisi Pendidikan)

 

Melihat fenomena Zaman Sekarang dimana banyak sekali kaum wanita yang memenuhi lapangan kerja, mulai dari sekelas homeindustry kecil hingga jajaran anggota pemerintahan, ternyata memberikan dampak besar terhadap perkembangan generasi. Kesibukan kaum hawa berada di ruang public membuatnya kurang maksimal menjalankan kewajiban di ranah domestik (rumah tangga), abai terhadap peran sebagai alummu warabbatul bait (ibu pengatur rumah tangga) dan al ummu madrasatul ula (ibu pendidik utama bagi anak).

 

Banyak faktor penyebab kaum ibu mengambil peran menjadi tulang punggung keluarga. Pertama, karena pemikiran kaum ibu zaman Sekarang terpintal dengan ikatan sistem kapitalisme yang menjadikan materi diatas segala-galanya. Kedua, hedonisme (hura-hura) menjadi tuntutan gaya hidupnya. Ketiga, ingin mendapatkan penghasilan sendiri untuk memenuhi naluri eksistensinya. Keempat, membantu suami mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan pokok rumah tangganya.

 

Tidak dapat dipungkiri, hari demi hari harga kebutuhan pokok semakin membumbung tinggi, ditambah lagi abainya pemerintah terhadap kesejahteraan rakyatnya dengan menaikkan tarif dasar listrik, PDAM, gas elpigi, BBM, biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan yang mahal. Dihantamkan pada persoalan seperti ini, tak sedikit membuat rumah tangga semakin carut-marut perekonomiannya. Penghasilan/ nafkah sang suami tidak cukup untuk membiayai perekonomian keluarga. Walhasil, mengharuskan istri untuk bekerja membantu perekonomian rumah tangga, sampai rela menjadi TKW di negeri tetangga.

 

Disinilah peran ibu dalam pengasuhan anak mulai berkurang. Lemahnya kontrol orang tua dalam kegiatan harian sekolah anak, sepulang sekolah tak ada pengasuhan dari orang tua, anak dengan siapa, melakukan agenda apa, anak di didik oleh siapa dan pemikiran apa, anak bergaul dengan siapa, tak ada pendampingan dari orang tua dalam aktivitas anak.

 

Lahirlah penyimpangan perilaku pada anak. Karena ketika mereka bergaul dengan teman atau lingkungannya, mereka belum bisa menyaring baik buruknya perbuatan. Tayangan televisi yang bisa mengalihkan perhatian anak dari kesepian ditinggal bekerja orang tuanya, tanpa didampingi orang tua mereka belum bisa memilih tayangan TV yang mendidik. Nyaris generasi makin rusak akibat mereka dididik TV, game online dan lingkungan yang tidak Islami. Peran orang tua semakin tergantikan dengan hal-hal yang sifatnya membuat nyaman mereka, seperti teman, gadget, atau lingkungannya. Akhirnya mereka lebih nyaman pada lingkungan lain daripada dengan orang tuanya sendiri.

 

Jika kita teropong dari sudut lain. Selain untuk membantu perekonomian rumah tangga, istri kadang sengaja mencari materi hanya sekedar memenuhi naluri eksistensinya akibat gaya hidup hedonism zaman sekarang yang menjamur dikehidupan sosial masyarakat. Sehingga tak asing ketika istri memiliki pendapatan sendiri, maka dia merasa mampu memenuhi kebutuhan hidup dan perekonomian.

 

Akibatnya, istri merasa tidak membutuhkan peran suami, enggan untuk taat apalagi bila pendapatan suami dibawah pendapatan istri, dan tidak memenuhi hak-hak suami dengan totalitas. Fakta yang memprihatinkan, terjadilah pertentangan dan pertengkaran dalam rumah tangga yang berujung pada perceraian, naudZubillah. Anaklah yang menjadi korban, sebab dia tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya. Mirisnya generasi yang seharusnya mendapatkan kasih sayang utuh dari orang tuanya, akhirnya hanya mendapatkan kasih sayang dari seorang single parent, diperebutkan hak asuhnya hingga berpengaruh pada kondisi psikis perkembangan anak.

Generasi yang merupakan amanah dari Allah seharusnya mendapatkan kasih sayang terbaik dari orang tua, dicetak dengan pendidikan islam yang menjadi akidah dalam kehidupannya dan menjadikan dia generasi revolusioner untuk memajukan agama, bangsa, dan kaumnya.

 

Pengalaman anak dalam hal beragama harus dikontrol oleh sepasang ibu dan ayahnya. Tugas ayah dan ibu yaitu mendampingi sholat, menyimak hafalan, dan menjadikannya hafidZ Al-Qur’an agar memahami kandungannya tentang perintah dan larangan Allah untuk diamalkan dalam kehidupan, mengajarkan tsaqafah islam yang tak lekang oleh zaman agar paham tentang penataan peraturan kehidupan, mengajarkan ilmu saintek dan ilmu umum untuk perkembangan teknologi demi kemajuan bangsa dan digunakan sesuai syariat islam. Disinilah pentingnya sinergi antara ibu dan ayah untuk membersamai anak mencapai target perkembangan anak.

 

Memang, hukum bagi istri untuk bekerja adalah mubah (diperbolehkan). Namun, jika kemubahan tersebut justru menjadikannya melupakan akan kewajiban dan amanahnya, malahan hal ini akan mendatangkan kemudharatan dan menuju ke keharaman. Jika memang sangat terdesak oleh kondisi pekerjaan pada bidang pendidikan, kesehatan, atau membuka usaha sampingan di rumah adalah pekerjaan yang sesuai untuk kaum wanita tanpa harus meninggalkan kewajibannya. Namun hal ini hanya solusi parsial, tidak sampai menyelesaikan sampai ke akar permasalahan. Karena jeratan sistem kapitalisme yang semakin mencekik rakyat dalam memenuhi kebutuhan hidup justru semakin menguat jika kita menjadi objek yang ikut arus dalam melanggengkan misi kapitalisme.

 

Fenomen-fenomena kurangnya kasih sayang orang tua pada anak, ibu menjadi TKW, ibu menjadi tulang punggung keluarga, kasus perceraian, semua kebutuhan serba mahal, istri tak taat suami, kenakalan dan penyimpangan generasi, membukakan perasaan dan pemikiran kita bahwa sistem sekularisme-kapilasme ini tidak sesuai untuk diterapkan dalam kehidupan. Hanya sistem Islam dengan penegakan syariah kaffah yang mampu menjadi solusi fundamental bagi kehidupan umat sekarang. Tak hanya peran keluarga yang diperbaiki, peran dari pemerintah untuk mengelola sumber daya alam negeri muslim yang melimpah guna mensejahterakan warganya, bukan malah dikomersialkan kepada pihak swasta, seperti asing, aseng, dan asong. Dengan menerapkan hukum islam akan memberikan rahmatanlilalamin.

 

Ahli saintek, faqih fiddin, dan generasi berjiwa revolusioner amanah,  akan mengelola sumber daya alam untuk diberikan kepada rakyat. Memutus hubungan internasional dengan negara-negara yang memerangi islam sehingga tidak ada rakyat yang merasa kekurangan dan merasa tidak diriayah oleh penguasanya. Maka dari itu, kewajiban kita untuk berdakwah agar sistem kapitalisme ini segera diganti dengan sistem syariah islam dan diterapkannya dalam kehidupan. Sesungguhnya tidak ada syariat Allah yang dapat memberikan keburukan bagi manusia.

 

Wallahualam bisshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *