Instrumen Penjajahan VOC dan OBOR

Spread the love

Oleh : Tari Ummu Hamzah

MuslimahTimes– Kita tahu bahwa bumi pertiwi Indonesia pernah menjadi medan pertempuran fisik dari beberapa negara penjajah. Yaitu Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. Perebutan kekuasaan di Indonesia kala itu didasari oleh eksploitasi sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Semua orang tahu bahwa Indonesia kaya akan komoditi rempah-rempah. Ditambah lagi Indonesia merupakan negara yang dilewati rute jalur sutra dan memiliki pelabuhan strategis perdagangan dunia. Tak ayal jika Indonesia bak sebuah tambang emas yang mengiurkan.

Dari sekian penjajahan di Indonesia, yang paling membekas di hati rakyat Indonesia adalah penjajahan Belanda dengan VOC-nya. Sebab pada masa VOC berjaya, Indonesia (Hindia-Belanda) masuk menjadi bagian negara kolonial Belanda. VOC tidak hanya lihai dalam memonopoli perdagangan di Nusantara, tetapi juga memiliki kekuatan militer layaknya sebuah negara. Sebab Belanda telah memberikan hak istimewa ini kepada Voc. Jadi singkatnya, mereka adalah perusahaan dagang yang memiliki angkatan senjata sendiri, guna untuk melindungi kepentingan keamanan dan politik perdagang mereka. Bahkan saat VOC telah bangkrut, Belanda tetap mampu mengendalikan perekonomian jajahannya, sehingga wilayah jajahannya menggunakan mata uang Belanda kala itu.

Cara mereka menjajah Indonesia kala itu adalah dengan melakukan pendekatan awal, dimulai dengan “make friends and create common enemy”. Jika diartikan, menjadi teman dan menciptakan musuh bersama. Lalu menjadikan pemimpin suatu daerah untuk direkrut sebagai bagian dari struktural VOC. Alih-alih menjalin persahabatan, wilayah itu malah dijadikan bagian dari koloni. Pemimpin lokal yang bekerjasama biasanya akan dihadiahi istana yang megah dan harta yang jumlahnya relatif besar. Jumlah yang sangat sulit untuk ditolak. Tentu saja imbalannya adalah kesepakatan yang menguntungkan Belanda. (peneliti-budaya.blogspot.com)

Setelah mereka mengadakan negoisasi perdagangan dengan para pemimpin dan beberapa penguasa tanah jawa, maka mereka berhasil mendapatkan izin untuk membangun infrastruktur. Seperti membangun kantor, jalan raya Anyer Panarukan, bahkan di pertengahan abad ke 19 mereka berhasil membuat jalur kereta api sepanjang pulau Jawa, yang tujuannya untuk mempermudah akses pengangkutan hasil rempah-rempah dari petani ke pelabuhan.

Itu adalah sedikit keterangan tentang kolonialisme Belanda, dengan VOC sebagai alat kolonialisme mereka. Kini di era milenial Indonesia dihadapkan dengan kebangkitan China yang menggeliat di wilayah Asia dan Eropa. Jika dulu Belanda menggunakan VOC sebagai alat kolonialisme, maka Cina menggunakan OBOR sebagai alat penjajahan negeri-negeri kolonial mereka. Bedanya jika VOC dilengkapi dengan angkatan militer untuk menyiksa rakyat, merampas, dan mengusir rakyat untuk merebut tanah jajahannya, maka Cina menggunakan hutang luar negeri untuk mencekik sebuah negara, agar negara tersebut tidak bisa lepas dari jeratan hutangnya. Pada akhirnya Cina mendapatkan wilayah jajahannya.

Contohnya saja negara Zimbabwe yang telah mengganti mata uang mereka menjadi Yuan, gara-gara tidak mampu membayar hutang, Pemerintah Sri Langka melepas Pelabuhan Hambatota sebesar US$1,1 triliun. Tak ketinggalan Pakistan yang membangun Gwadar Port bersama Cina dengan nilai investasi sebesar US$46 miliar harus rela dilepas. Itu semua adalah akibat dari jeratan hutang luar negeri dari Cina. Saat mereka tak mampu membayar hutang, maka negara-negara tersebut harus merelakan aset-asetnya.

Inilah fakta bahwa sesungguhnya, para penjajah memiliki instrumen yang sama dalam melakukan penjajahan. Baik itu di masa feodalisme atau era milenial seperti saat ini, sebab negeri-negeri penjajah itu di mana-mana sifatnya sama. Fatalnya, mengapa negeri kita tidak belajar dari sejarah. Bukankah negeri kita ini amat mencintai sejarah, sebab pendahulu kita mengajarkan kepada kita untuk selalu belajar dari sejarah.

Jadi apakah bangsa kita ini dicukupkan sebagai objek jajahan saja selama ratusan tahun? Atau kita sebagai pemeran utama di negeri kita ini? Seluruh bangsa di dunia ini pasti ingin menjadi pemeran utama di negerinya sendiri. Mampu mengelola tatanegara beserta sumber dayanya. Jadi sudah saatnya masyarakat Indonesia bangkit dari keterpurukan penjajahan. Menjadi pemain serta tuan rumah di negerinya sendiri.

Pertanyaannya, siapakah yang akan membalikkan kondisi bangsa ini? Tidak lain dan tidak bukan masyarakat Indonesia itu sendiri. Lalu dengan apa masyarakat akan merubah suatu kondisi dari keterjajahan menuju merdeka yg hakiki? Hanya Islam yang mampu mengeluarkan umat dari keterpurukan sistem. Memberantas semua makar penjajahan, dan mengembalikan gelar kaum muslimin sebagai Khairu Ummah.

[Mnh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *