Islam dalam Pusaran Deradikalisasi

Spread the love

Oleh. Fatimah Az-Zahra, S.Pd

(Kontributor Muslimahtimes.com)

Muslimahtimes.com–Apa arti agama untuk kita? Apakah ia jadi beban karena tak sesuai keinginan? Apakah ia jadi Solusi atas semua permasalahan? Atau ia ibarat musuh yang senantiasa menghadang? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menggambarkan pola pikir kita tentang agama.

Seruan R20

Tanggal 2 hingga 3 November yang lalu, perhelatan akbar agama, Forum Agama G20 atau R20 secara resmi dibuka di Nusa Dua, Bali. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 400 undangan dari dalam dan luar negeri. Mereka adalah para pemimpin agama, sekte, dan aliran kepercayaan dari berbagai negara dengan jutaan pengikut. R20 diinisiasi oleh NU dan diketuai secara bersama dengan Liga Muslim Dunia atau Muslim World League (MWL). (republika.co.id, 2/11/2022)

Hasilnya lahirlah komunike Bali yang merupakan intisari dari semua hal yang diungkapkan oleh 40-an pembicara dalam Forum R20. Komunike ini telah dikeluarkan dan disahkan di Yogyakarta pada Jumat (4/11/2022). Terdapat 11 poin dari komunike ini.

Kontradiktif

Sesuatu yang bagus menjadikan agama sebagai solusi permasalahan yang ada di dunia. Hal ini sejalan dengan ajaran agama kita, Islam. Hanya saja, ada hal kontradiksi yang terjadi. Disatu sisi menyuarakan agama menjadi solusi, namun di sisi lain pemerintah mengeluarkan program deradikalisasi.

Sudah menjadi rahasia umum, istilah terorisme dan radikalisme digunakan untuk menyasar umat muslim dan ajaran Islam. Salah satunya bisa dilihat dari ciri-ciri bibit teroris yang sempat dikemukakan pemerintah, yakni pemuda good looking, belajar Islam, menjadi aktivis dakwah, dan religius. Perempuan yang berpakaian sesuai syariat, seperti memakai gamis, kerudung panjang atau cadar, tak lepas dari label radikal. Bukti-bukti penangkapan terduga terorisme pun selalu menyasar pada agama Islam. Misalnya, Al-Qur’an, kitab Arab, buku tentang jihad juga Khilafah. Seolah menyatakan Islam adalah sumber munculnya radikalisme dan terorisme.

Isu toleransi pun selalu menyasar islam dan kaum muslim. Dianggap sebagai mayoritas yang menindas minoritas. Padahal sejak dulu Islam selalu mengajarkan toleransi. Standar toleransinya yang harus dibenahi sesuai koridor syara bukan malah menjadikan Islam lagi sebagai pihak tertuduh. Semuanya bermuara pada seruan moderasi beragama, penguatan budaya nusantara dan ideologi kebangsaan yang diyakini sebagai solusi.

Apa Kabar Kapitalisme?

Mengubah posisi agama dari bagian masalah menjadi solusi nyatanya justru menyudutkan Islam. Opini yang dibangun tak keluar dari pernyataan apa pun masalahnya radikalisme penyebabnya. Sampai-sampai kepala BNPT menyebutkan bahwa radikalisme jadi salah satu virus yang berbahaya dan mengancam NKRI.

Apakah masalah KDRT disebabkan oleh radikalisme? Bukan. Justru ia terjadi karena sekularisme, menjauhkan peran agama dari kehidupan. Apakah maraknya pembunuhan dan bunuh diri juga karena radikalisme? Bukan. Ia juga terjadi karena sekularisme.

Apakah tingginya angka HIV/AIDS karena radikalisme? Bukan. Kapitalisme yang berkolaborasi dengan sekularisme jadi akar masalahnya. Apakah kerusakan lingkungan yang terjadi di negeri ini, perampokan sumber daya alam, sampai krisis kemanusiaan terjadi karena radikalisme? Lagi-lagi jawabannya bukan.

Inilah tuduhan yang lahir karena menempatkan agama hanya sekedar mengurusi ibadah ritual belaka. Kapitalisme sebagai ideologi yang saat ini berjaya tak ingin Islam bangkit berjaya seperti dulu kala. Mereka tanamkan napas kebencian dan ketakutan pada umat akan agamanya. Hingga takut bahkan phobia pada Islam. Jangan sampai kita ikut terjebak. Bahkan ikut memusuhi islam dan mempropagandakan opini sesat tentang Islam.

Islam Solusi Hakiki

Betul, agama memang solusi permasalahan global. Apalagi jika kita bicara tentang islam. Karena Islam diturunkan oleh Allah Swt sebagai tanda sayang pada kita, hamba-Nya. Islam adalah aturan hidup yang sempurna yang jadi Solusi permasalahan dunia.

Namun, tidak dengan mengubah ajaran islam agar sesuai dengan cara pandang kapitalisme sekularisme saat ini. Sebagai mana Islam dikelompokkan menjadi islam radikal, moderat dan liberal. Padahal yang Rasul contohkan hanya Islam saja. Allah pun memerintahkan kita untuk masuk ke dalam islam secara kaffah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, ” Wahai orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah. Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Surat Al-Baqarah ayat 208).

Islam bukan hanya teori belaka. Ia juga ajaran yang aplikatif. Sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat menerapkan Islam sebagai aturan kehidupan. Tak hanya salat, puasa juga zakat, tapi juga mengatur sistem pendidikan, ekonomi, politik, keamanan, industri, hubungan dalam negeri dan luar negeri.Karena itu, umat Islam sudah seharusnya mempelajari Islam kaffah agar tidak ikut salah kaprah. Ikut memperjuangkan islam sebagai sistem kehidupan bukan mempersekusi.

Wallahua’lam bish shawab.