Islam dan Istilah Deen Assalam

Spread the love

Oleh : Wardah Abeedah*

*Penulis adalah muballighah dan Islamic Freelance Writer

 

#MuslimahTimes — Gambus Sabyan. Siapa anak muda Indonesia zaman now belum pernah mendengar namanya maupun lagunya? Beberapa minggu terakhir channel Youtube Sabyan sering menempati trending topic Youtube. Terlebih sejak dia merilis cover lagu Deen Assalam. Lagu yang terlebih dulu booming di Timur Tengah ini menyampaikan pesan Islam damai. Sebuah ide yang saat ini ramai disuarakan banyak pihak.

Seperti apakah Islam damai menurut mereka? sebagaimana lirik lagu Deen Assalam, Islam damai adalah Islam yang yang toleran, menyebarkan perkataan manis, cinta dan penghormatan. Indah bukan? Apakah kata salam (keselamatan atau kedamaian) cukup untuk menggambarkan secara utuh dien yang mulia ini?

Makna Islam

Islam berasal dari kata aslama – yuslimu. Maknanya berserah diri. Secara istilah, Islam bermakna agama (ad-dîn) yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya. (Dr. Samih Athif az-Zain, Al-Islâm wa Aidiyûlûjiyyah al-Insân, 1982: hal. 66). Dari definisi di atas, setidaknya ada tiga hal penting yang harus menjadi pegangan dalam mendefinisikan Islam ;

Pertama, bahwa agama selain yang diturunkan Allah bukan Islam. Ini selaras dengan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 19,

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”

Kedua, agama Islam diturunkan pada Nabi Muhammad SAW. Agama yang diturunkan pada nabi-nabi sebelumnya tidak bisa disebut Islam. Pasca turunnya Alquran dan diutusnya Muhammad SAW   yang menasakh agama-agama sebelumnya, maka tidak bisa diklaim bahwa agama samawi lainnya seperti Nashrani dan Yahudi juga diridhoi Allah. Setelah diutusnya Rasul Muhammad SAW, maka seluruh manusia wajib masuk Islam. Bahkan wajib tetap dalam keIslamannya hingga maut merenggut kehidupan dunianya.

Jikapun di dalam surah Ali Imran 67 disebutkan bahwa Ibrahim adalah seorang yang “Haniifan Musliman”, oleh para mufassir kata musliman dimaknai  menyimpang dari kemusyrikan dan cenderung kepada iman. Ini menegaskan yang disebut dalam ayat tersebut bahwa Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nashrani.

Artinya, muslim dalam artian definisi syar’i hanyalah yang memeluk agama yang dibawa oleh Rasul Muhammad SAW. Sedangkan ahli kitab tidak bisa disebut muslim, tetapi mereka adalah kafir. Agama Islam tak sama dengan agama yang mereka anut. Ini tentu bertolak belakang dengan faham pluralisme yang menyatakan semua agama sama. Pun bertentangan dengan mereka yang menyatakan bahwa semua agama samawi (Islam, Yahudi, & Nashrani) sama benarnya dan sama diridhainya di sisi Allah jalla wa ‘ala.

Poin penting ketiga dari definisi di atas adalah, Islam agama yang sempurna. Yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya.

Allah SWT berfirman,

أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta Aku ridhai Islam sebagai agama kamu.” (QS. Al-Mâidah [5]: 3).

Islam telah sempurna sejak berakhirnya wahyu. Tak perlu ditambah-tambahi dengan syariat nabi sebelum kita yang telah dinasakh. Tak boleh pula ditambahi atau dimodifikasi dengan pemikiran dan aturan yang berasal dari ideologi selain Islam (kapotalisme dan komunisme), ataupun dari pemikiran filsafat ala Yunani dan lainnya. Islam sudah sempurna karena berasal dari dzat yang Maha Sempurna.

 

Deen Assalam (Agama Damai), Tak Mencakup Definisi Islam.

 

Kesempurnaan Islam meliputi aqidah dan syariat (aturan) yang meliputi seluruh sistem kehidupan. Syariah Islam mewajibkan bersikap ramah dan lemah lembut terhadap mukmin lainnya, menganjurkan jangan marah, bersikap toleran terhadap muslim yang berbeda pendapat dan kepada kafir dzimmi tanpa melewati batasan syariah. Disini, Islam bisa disebut sebagai agama yang mengajarkan kedamaian (Deen As-Salam).

Namun syariat Islam juga mewajibkan kita marah terhadap kemungkaran, bahkan jika marah di hati tanpa merubahnya dengan kekuasaan yang kita miliki atau dengan lisan, disebut sebagai iman terlemah. Islam juga mewajibkan negara untuk melaksanakan jihad dalam rangka menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Juga jihad dalam mempertahankan jiwa dan tanah kaum muslimin ketika dijajah. Islampun mengatur soal peradilan yang di dalamnya terdapat had potong tangan, rajam, dll. Islam juga mewajibkan amar makruf nahyi munkar, menasehati penguasa yang berbuat dzalim bahkan menyebut aktifitas tersebut sebagai jihad yang paling afdhal. Disini bisa disebut Islam sebagai agama yang anti kedzaliman dan mewajibkan keadilan.

Ditinjau dari penjelasan di atas, menyebut Islam dengan sebutan Deen AsSalam semata kurang tepat. Meski kata Islam dan Salaam memiliki akar kata yang sama, definisi Islam bukanlah Deen Assalam. Karena salam bermakna selamat dan damai. Sedangkan Islam secara istilah syar’i memeiliki definisi sebagaimana di atas. Ini sama dengan kata jama’ah dan jima‘ yang memiliki akar kata yang sama, yakni kata “jama’a”. Jama’ah bermakna sekumpulan orang, bahkan dalam konteks syar’i bisa dimaknai jamaah shalat atau jamaah negara. Sedangkan jima’  bermakna persetubuhan antara laki-laki dan perempuan.

Terlebih lagi, saat ini kata Deen Assalam atau Agama damai diidentikkan dengan hal-hal yang berbau moderat. Islam yang konon tak radikal tapi non liberal. Istilah yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat dan anteknya. Salah satu tujuannya untuk meredam ruh jihad di tengah-tengah umat. Hingga muncullah jargon Islam ramah, bukan Islam marah. Ramah terhadap pemikiran-pemikiran kufur Barat, ramah terhadap kebijakan negara yang didikte Barat. Menguntungkan Barat namun mendzalimi ummat. Islam yang diam ketika sumber daya alamnya dirampok, bungkam saat tanah kaum muslimin diajajah. Bergandengan mesra dengan kafir, namun nyinyir terhadap muslim yang berupaya taat Islam secara sempurna.

Hingga muncullah pengkotakan yang memecah belah umat Islam. Dimunculkan istilah Islam damai vs Islam radikal. Islam ramah vs Islam marah. Islam moderat vs Islam fundamental. Sejatinya Islam itu satu. Tak ada istilah Islam yang diembel-embeli dengan kata moderat, fundamental dan lainnya. Istilah itu tidak pernah dikenal dalam khazanah tsaqafah Islam.

Sebagai muslim yang baik, hendaknya kita tak terjebak dengan istilah-istilah yang dipropagandakan Amerika dan sekutunya. Terlebih jika kita sampai terjebak mengambil pemikiran mereka. Tenggelam dalam perpecahan sesama muslim, mengidap Islamphobia dan menganggap ajaran Islam yang selain akhlaq dan diidentikkan “tak ramah” sebagai kejahatan, naudzubillah. Ini justru berbahaya bagi aqidah umat, bahkan akan menjauhkan umat dari agama yang akan menjadi jalan keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bis shawab.

 

=================================================

Sumber Foto : Jabar TribunNews

(Visited 51 times, 1 visits today)

One thought on “Islam dan Istilah Deen Assalam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *