Jadilah Pribadi yang Tak Berduri

Spread the love

Oleh. Intan Alawiyah

(Pemerhati Sosial)

 

#MuslimahTimes — Tak ada sesuatu yang lebih menyakitkan manusia kecuali lisan yang berkata dusta. Yuph, bahaya lisan begitu dahsyat. Ketika manusia tak mampu mengendalikannya maka tak ada yg selamatlah dari keburukan lisannya. Benar apa yg disabdakan oleh rasulullah , “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Andai kita mau merenungi hadits ini, pasti setiap kita akan berhati-hati dalam melontarkan setiap kata-kata. Bertabayyun terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sesuatu. Sebab, menyebarkan informasi tanpa ada sumbernya yang jelas dan  fakta yang benar maka itu bisa masuk dalam kategori mengghibah.

Ghibah  adalah membicarakan aib orang lain, baik hal itu ada pada diri yang dibicarakan terlebih lagi jika hal itu tidak ada padanya yang justru menjurus kepada fitnah. Ghibah itu sendiri dapat menghadirkan perpecahan, pertikaian dan kebencian diantara manusia. Oleh sebab itu jauhilah bahaya ghibah. Apalagi ghibah ini ditujukan kepada sesama saudara muslim, sungguh lebih bahaya lagi dosa yang akan diterima si pelakunya. Sebab, mengghibah seseorang sama saja ia memfitnahnya. “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” Tepatlah ayat Alqur’an  ini mengatakan demikian. Sebab, orang yang ditimpa fitnah laksana disambar petir di siang bolong. Tak pernah ia melakukan kesalahan, tiba-tiba dihakimi bak seorang pelaku kriminal.

Alkisah, pada saat Rasulullah hendak melakukan sebuah peperangan. Beliau mengundi diantara istri-istrinya yang berhak mengikuti beliau dalam perjalannnya. Dan terpilihlah Aisyah salah satu istri Nabi yang saat itu usianya masih belia. Aisyah lah yang akan menemani perjalanan Rasulullah. Ketika hendak menuju Madinah. Tiba-tiba Aisyah turun dari sekedup untanya untuk memenuhi hajatnya. Ketika Aisyah sudah selesai dengan urusannya, ia pun merasakan ada sesuatu benda yg hilang darinya. Ternyata kalung dari Merjan Zhifar terjatuh dan Aisyah berusaha mencarinya. Ketika kalung miliknya sudah ia temukan maka Aisyah pun kembali kerombongan. Nahas, ternyata rombongannya telah meninggalkannya dan tidak menyadari bahwa Aisyah tidak ada dalam sekedup unta yang mereka bawa. Rasa lelah pun menghampiri Aisyah, sehingga ia tertidur pulas. Tiba-tiba shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwani yang tertinggal di belakang melihat sosok hitam dari kejauhan. Ia pun menghampirinya.

Alangkah terkejutnya shafwan yang ia lihat adalah Aisyah istri Rasululullah, segera ia turun dari untanya dan memberi isyarat agar Aisyah menaiki untanya. Aisyah pun menaiki unta tersebut sedangkan Shafwan berjalan di depannya sambil menuntun unta tersebut. Sungguh sangat malang nasib Aisyah. Hal tersebut dimanfaatkan orang-orang munafik untuk menyebar isu bahwa telah terjadi sesuatu antara Aisyah dan Shafwan. Orang-orang munafik ini menyebarkan fitnah keji yang tak mungkin dilakukan seorang istri nabi. Ketika kabar tersebut sampai kepada Rasulullah, seketika itulah sikap rasul dingin terhadap Aisyah. Ia yang  belum menyadari penyebab perubahan sikap rasul terhadap dirinya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, “apa gerangan yang membuat sikap rasul berubah terhadapku?”

Singkat cerita, turunlah wahyu kepada rasulullah untuk memberi jawaban atas fitnah yang melanda kehidupan rumah tangganya bersama Aisyah. Seketika itulah saat wahyu itu turun maka bersihlah nama Aisyah dari tuduhan fitnah yang dihembuskan orang-orang munafik terhadapnya.

Inilah bukti nyata bahaya dari ghibah. Terlihat sepela, namun jika dikemas sedemikian rupa, maka akan mendatangkan bencana bagi yang menimpanya. Maka dari itu, jauhilah perbuatan mengghibah.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuuraat: 12)

Berhati-hatilah dalam menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Kedepankan sikap tabayyun terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sesuatu. Sebab seseorang yang pandai menjaga lisannya ialah orang yang mampu mengontrol hawa nafsunya.

Rasulullah pun berpesan agar manusia berhat-hati dalam hal ini, sebagaimana sabdanya. “Wahai segenap manusia yang masih beriman dengan lisannya namun iman itu belum meresap ke dalam hatinya janganlah kalian menyakiti kaum muslimin. Dan janganlah melecehkan mereka. Dan janganlah mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang sengaja mencari-cari kejelekan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengorek-ngorek kesalahan-kesalahannya. Dan barang siapa yang dikorek-korek kesalahannya oleh Allah maka pasti dihinakan, meskipun dia berada di dalam bilik rumahnya.” (Hadits ini tercantum dalam Shahihul Musnad, 1/508)

Oleh karena itu, peliharalah lisan kita agar mengucapkan hal-hal yang ahsan, agar tidak ada satupun perkara yang terlontar darinya kecuali perkataan yang benar. Jauhilah sesuatu yang akan mendatangkan mudharat yang diakibatkan oleh lisan yang tak bertulang. Mengghibah sesama saudara muslim adalah suatu perbuatan yang sungguh sangat dilarang, sebab akan menghantarkan pelakunya pada kemurkaan Allah. Dan mengakibatkan perpecahan diantara umat muslim.

Selalu pererat ukhuwah diantara kita, kedepankan sikap husnudzhan yang Rasulullah contohkan, agar tidak ada permusuhan diantara sesama saudara seiman. Berhati-hati pada propaganda yang selalu digambar-gemborkan dengan tujuan memecah belah antara umat Islam. Selalu bermunajatlah pada Allah agar dilindungi dari bahaya lisan dan selalu kedepankan sikap tabayyun terlebih dahulu sebelum kita menyebarkan informasi. Wallahu’alam.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *