Breaking News

Jangan Hanya Kurma

Spread the love

Oleh. Lulu Nugroho

MuslimahTimes.com–Kejahatan Zionis di Palestina, semakin menjadi-jadi. Banyak masyarakat sipil, perempuan dan anak-anak, menjadi korban. Termasuk para petugas medis dan jurnalis, yang seharusnya bukan menjadi target mesiu. Bangunan, rumah sakit, sekolah yang hancur pun tak terkira jumlahnya. Mirisnya, penderitaan panjang masyarakat Palestina masih berlanjut hingga saat ini, sebab tidak ada satupun negara yang berani mengirimkan tentaranya menghadang Zionis Israel.

Sementara pemimpin-pemimpin negeri muslim hanya sibuk mendiskusikan solusi Palestina, gerakan individu juga terus berjalan. Baik dengan memberikan donasi melalui lembaga-lembaga kemanusiaan, maupun aksi boikot. Seperti terjadi pada Ramadan kali ini, boikot kurma produk Zionis yang menjadi aksi dunia, menjadi upaya lanjutan dari aksi sebelumnya, yakni boikot produk Israel dan produk-produk lainnya yang mendukung Israel.

Masyarakat kini serempak beralih ke brand lokal. Sebab mereka telah menyaksikan kezaliman Zionis Israel dengan terang benderang, dan memilih memihak muslim Palestina. Alhasil, sejumlah perusahaan yang menjadi sasaran boikot mulai ketar-ketir, beralihnya pelanggan mereka kepada merek lain. Sebab hal ini akan memengaruhi pendapatan perusahaan. Pada faktanya, Zionis Israel adalah pengekspor kurma terbesar.

Meskipun belum ada laporan nilai kerugian terbaru yang diderita Israel, laporan Al-Jazeera pada 2018 lalu mengungkap bahwa gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga US$ 11,5 miliar atau sekitar Rp180,48 triliun (asumsi kurs Rp15.694/US$) per tahun bagi Israel. (Cnbcindonesia, 19-11-2023)

Ampuhkah Aksi Boikot Ini Menuntaskan Peperangan?

Hanya saja boikot masih tergolong upaya individu. Meskipun berpengaruh terhadap perekonomian Israel, tetapi belum menghasilkan perubahan secara signifikan pada keberlangsungan perang itu sendiri. Pasalnya, meski upaya boikot telah dilakukan sejak lama, akan tetapi cengkeraman kezaliman Zionis Israel terhadap masyarakat Palestina, belum lepas sejak 1948.

Hal ini menunjukkan perlu adanya upaya lain yang lebih solutif selain boikot produk, yaitu boikot seluruh pemikiran mereka, baik sekularisme, kapitalisme, sosialisme, nasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan ide-ide kufur lainnya yang menghalangi tegaknya hukum Allah Swt di muka bumi. Beragamnya pemikiran rusak ini, menjauhkan pemikiran umat dari Islam, menghalangi persatuan umat, hingga melahirkan sikap antipati terhadap Islam.

Termasuk sikap bergemingnya para pemimpin dunia menghadapi genosida yang dilakukan Zionis Israel, juga akibat pemikiran-pemikiran tadi. Maka diperlukan upaya-upaya sistematis, untuk memperbaiki pemikiran rusak yang bercokol di benak umat, dan menggantinya dengan Islam.

Satu-satunya jalan adalah melalui dakwah menyampaikan Islam sebagai kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah). Upaya ini akan mengadang pemikiran kufur, kemudian meruntuhkannya dan sebagai langkah mencerdaskan umat. Dengan memosisikan Islam sebagai qiyadah fikriyah, maka Islam akan berada di seluruh aspek kehidupan. Karenanya perlu ada institusi yang menerapkannya, dengan pemimpin yang siap menjadi pengatur (raa’in) dan perisai (junnah) bagi umat.

Melalui kepemimpinan Islam, akan tegak seluruh syariat Allah Swt, pun menyatukan kaum muslim di berbagai penjuru dunia yang selama ini tersekat ide negara bangsa. Sebagaimana hadits Rasulullah saw.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)

Ikatan sesama muslim ini telah terburai sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Umat tak lagi merasakan bahwa sejatinya mereka bersaudara. Akibatnya, penderitaan muslim Palestina tak menjadikan para pemimpin negeri muslim bersegera menuntaskannya. Masing-masing hanya sebatas mengecam, atau melemparkan bantuan melalui udara, tanpa ada satupun yang berani menghadang Zionis Israel.

Begitu pun masyarakat muslim lainnya, lama kelamaan akan merasa kebal, mati rasa, tak lagi merasakan penderitaan muslim Palestina atau muslim lainnya yang saat ini berada di bawah kekuasaan represif. Yang di awal perkara merasakan kesedihan mendalam menyaksikan derita mereka di lini masa, tetapi karena terpampang terus berbulan-bulan, jari jemari kita akhirnya hanya otomatis gulir (scrolling), pindah ke unggahan berikutnya.

Enggan memikirkan nasib saudara muslim kita, sebab tak mampu memberikan pertolongan yang nyata. Lupa bahwasanya seharusnya kita juga merasakan sakit, saat bagian tubuh kita (sebagaimana perumpamaan dalam hadits tadi), terluka. Mereka harus terus kita pikirkan, didoakan, kemudian terus menyampaikan pada khalayak tentang solusi hakiki bagi penjajahan yang saat ini meraja di muka bumi.

Maka, mengembalikan pemikiran Islam, adalah mengembalikan jati diri kaum muslim sebagai khairu ummah. Umat terbaik akan beraktivitas mulia, sebab ia sandarkan pada tolok ukur syariat. Umat terbaik hanya bersedia taat dan patuh kepada Allah semata. Alhasil mereka pun akan menolak penerapan hukum yang tidak diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hingga tidak perlu menunggu lama untuk menolong saudaranya, tapi bersegera mengerahkan segenap daya membela umat Muhammad.

Karenanya jangan hanya kurma, tetapi boikot seluruh pemikiran kufur yang akan menggelincirkan umat dari jalannya yang lurus. Islam adalah solusi hakiki bagi seluruh problematika umat, di mana pun mereka berada. Islam membebaskan manusia dari penjajahan, menyelesaikan masalah kehidupan dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Kaanannaasu ummataw waahidah.