Resensi : Jejak Kekhilafahan Turki Utsmani di Nusantara

Spread the love

Judul : Jejak Kekhilafahan Turki Utsmani di Nusantara

Penulis : Deden A.Herdiansyah

Tahun Terbit : 2017
Penyunting : Irin Hidayat
Penerbit : Pro-U Media
Halaman : 240
Cover : Soft
Harga : 45000
Peresensi : Dwi Agustina DjatiBuku satu ini cukup rekomended bagi seseorang yang tertarik pada sejarah. Terdiri atas 4 bab dengan fokus bahasan sesuai dengan judul yang sudah di pilih. Jejak Kekhilafahan Turki Utsmani di Nusantara : Menyelisik Hubungan Dua Bangsa Besar di Masa Silam. Bab awal perkenalan asal muasal Turki Utsmani dan bagaimana membangun imperium besar melanjutkan kebesaran Kekhilafahan Abbasyiyah. Bab dua membahas tentang hubungan Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Bab tiga hubungan Turki dengan Kesultanan Islam di Tanah Jawa dan bab 4 membahas tentang kemunduran Imperium besar ini hingga keruntuhannya di tahun 1924.

Intisari dari buku ini terletak pada bab 2 dan 3. Saat berhubungan dengan Kesultanan Aceh dijelaskan tentang pandangan kebanyakan masyarakat Aceh terhadap kekuatan Politik Kaum Muslimin Dunia tersebut dan masyarakat Sumatera pada umumnya. Pengaruh Hubungan Turki Utsmani pada Aceh terlihat pada hubungan perdagangan (penghasil Lada Terbesar di Pantai Timur Sumatera dan pemilik wewenang jalur pelayaran Selat Malaka) dan militer (seperti pasukan militer, alat militer dan juga pelatihan militer lewat Akademi Militer). Salah satu lulusan terbaik akademi militer aceh adalah Laksamana Keumalahayati yang memiliki pasukan militer perempuan bernama Inong Balee.

Sedangkan hubungan Turki Utsmani dengan Jawa dimulai dengan Demak, Pajang dan Mataram. Ulama juga didatangkan untuk membantu syiar Agama Islam di Tanah Jawa lewat WaliSembilan atau Walisongo. Walisongo merupakan dewan penasehat Kesultanan di tanah Jawa. kemudian pemberian gelar bagi para Sultan semisal : Sultan Demak ketiga Sultan Trenggono adalah Sultan Ahmad Abdul Arifin, sedang Sultan Agung bergelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram. Sultan Banten bergelar Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qodir. Sementara untuk bidang militer pengaruh Utsmani terlihat di Perang Jawa. Kesatuan kesatuan militer Pasukan Diponegoro menggunakan nama nama janissary, pasukan militer Turki Utsmani (seperti Bulkiyo, Borjomuah dan Turkiyo). Nama pemimpin pasukannya Alibasah (Komandan Divisi infanteri dan kavaleri). Kepangkatan pasukan di bawah Alibasah ada Basah, Dulah dan paling rendah adalah Seh.

Terakhir bab ini ditutup dengan kondisi Utsmani yang semakin mundur akibat kemunduran pemikiran dan bagaimana barat berupaya keras untuk menghancurkan Kekuatan Kaum Muslimin termasuk pengaruhnya di dunia Islam. Juga di singgung bagaimana upaya ulama Nusantara dalam mengembalikan kembali Khilafah lewat komite khilafah, namun sayang perjuangan ini telah dibajak oleh barat lewat Isu Pan Islamisme.

Dari sisi struktur bahasa gampang untuk dipahami, runut dan kaya akan data literasi. Dilengkapi dengan lampiran lampiran dalam bahasa Arab berupa surat menyurat antara Aceh dengan Utsmani. Sangat cocok bagi temen temen yang menggeluti ilmu sejarah karena penelusuran data historisnya cukup kredibel. Penulis berusaha dengan apik meramu data data sejarah dan memberikan

Sedikit pandangan beliau akan sumber sejarah yang dipakai. Mana yang merupakan cerita tanpa sumber mana yang bersumber. Demikian hasil resensi saya.
Wallahu ‘alam bi showab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *