KHUTHBAH RASULULLAH SAW DI PENGHUJUNG BULAN SYA’BAN

Spread the love

Oleh : Yulida Hasanah

(Forum Silaturahmi Ustadzah dan Muballighoh (FORSIMA))

 

#MuslimahTimes — Imam  Ibn  Khuzaimah  dalam  kitab  at-Targhib  (jld.  2,  hal.  217-218),  meriwayatkan  sebuah  hadits dari  sahabat  Salman  ra  yang  mengatakan,  bahwaRasul  Saw  pada  hari  terakhir  bulan  Sya’ban berkhutbah di hadapan kaum Muslim,

Wahai  manusia,  sesungguhnya  kalian  akan  dinaungi  oleh  suatu  bulan  yang  agung  lagi  penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan; bulan yang  Allah  telah  menjadikan  puasaNya  suatu  kewajiban  dan  qiyam  (sholat)  pada  malam  harinya suatu tahawwu’ (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan). Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah  dengan  suatu  pekerjaan  kebajikan  (sunnah)  di  dalamnya,  (ia  diganjar  pahala)  sama  seperti menunaikan  kewajiban  (fardhu)  di  bulan  yang  lain.  Dan  siapa  saja  yang  menunaikan  kewajiban  di bulan  Ramadhan,  (ia  diganjar  pahala)  sama  dengan  orang  yang  mengerjakan  70  kali  kewajiban tersebut  di  bulan  yang  lain.  Ramadhan  adalah  bulan  sabar,  sedangkan  sabar  itu  pahalanya  adalah surga (al-jannah). Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rizki  para  mukmin  di  dalamnya.  Siapa  saja  yang  pada  bulan  itu  memberikan  makanan  berbuka kepada  orang  yang  puasa,  maka  perbuatan  itu  menjadi  pengampunan  atas  dosa-dosanya,  ke- merdekaan dirinya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

Lalu para sahabat  menyahut,  “Ya  Rasululullah,  tidak  semua  dari  kami  memiliki  makanan  berbuka  untuk orang-orang  yang  berpuasa.”  Rasulullah  Saw  pun  menjawab,  “Allah  memberikan  pahala  tersebut kepada orang yang memberikan sebutir korma sekalipun atau sekedar seteguk air atau sehirup susu. Bulan  Ramadhan  ini  adalah  bulan  yang  permulaannya  adalah  rahmat,  pertengahannya  adalah ampunan,  dan  akhirnya  adalah  pembebasan  dari  neraka.  Siapa  saja  yang  meringankan  beban  dari orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya  dari  api  neraka.  Karena  itu  perbanyaklah  empat  perkara  di  bulan  Ramadhan  ini. Dua  perkara  yang  dengannya  kalian  menyenangkan  Tuhan  kalian  dan  dua  perkara  lainnya  sangat kalian  butuhkan.  Dua  perkara  yang  kalian  lakukan  untuk  menyenangkan  Tuhan  kalian  adalah: mengakui dengan sesungguhnya bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan kalian memohon ampunan kepadaNya. Adapun dua perkara yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surgaNya dan berlindung  dari  api  neraka.  Siapa  saja  yang  memberi  minum  kepada  orang  yang  berpuasa  niscaya Allah akan memberinya minum dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasa haus lagi sesudahnya hingga ia masuk surga.”

Ada tiga belas informasi dan pesan penting dari khutbah singkat Rasul Saw di atas, yaitu:

Pertama,  bulan  Ramadhan  adalah  bulan  agung  (Syahrun  ‘Azim)  yang  penuh  berkah  (Syahrun Mubarak) yang mempunyai bobot lebih dibanding sebelas bulan lainnya dan disebut sebagai penghulusegala  bulan  (Sayidus  Syuhur).  Oleh  karena  itu,  kaum  muslimin  harus  menyiapkan  diri  memasuki bulan ini dengan penyambutan yang luar biasa dan jangan sampai melewatkannya begitu saja atau menjalaninya biasa-biasa saja.

Kedua,  di  dalam  keagungan  bulan  Ramadhan  terdapat  suatu  malam  yang  sangat  utama  bagi  ummat manusia yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan, atau sekitar sekitar 83 tahun 4 bulan). Imam Ibn Jarir meriwayatkan suatu hadits dari Mujahid yang mengatakan, bahwa ada seorang lelaki Bani Israil yang setiap malam selalu sholat hingga pagi hari, kemudian pada siang  hari  ia  selalu  berjihad  melawan  musuh-musuh  Allah  hingga  sore  hari.  Hal  itu  dilakukannya secara terus-menerus selama seribu bulan. Lalu Allah SWT menurunkan firmanNya, “Lailatul Qadar (malam kemuliaan) itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Qs. al-Qadar [97]: 3).

Ketiga, pada bulan ini Allah SWT mewajibkan shaum sebulan penuh (lihat Qs. al-Baqarah [2]:183) yang tujuannya adalah agar kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan semaksimal mungkin. Pada bulan-bulan lain ibadah puasa hukumnya hanyalah sunnah dan bilangan harinya tidak sampai sebulan penuh.

Imam Bukhâri dalam kitab Fath al-Bârî (jld. 4, hal. 173), meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah ra, bahwasanya  ia  berkata,  “Rasulullah  Saw  kadang-kadang  terus-menerus  berpuasa  (sunnah) sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka. Kadang-kadang beliau terus-menerus berbuka sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa (sunnah). Saya tidak pernah melihat  Rasulullah  menyempurnakan  puasa  sebulan  penuhselain  bulan  Ramadhan  dan  saya  tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa lebih dari bulan itu pada bulan Sya’ban.”

Keempat, selain mewajibkan ibadah puasa di siang hari, Allah SWT menganjurkan ibadah sunnah di malam hari berupa qiyamul lail yang kemudian dikenal dengan sholat Terawih. Rasul Saw bersabda,

 “Sesungguhnya  Allah  telah  memfardhukan  shaum  di  bulan  Ramadhan  kepada  kalian  dan  aku syari’atkan  kepada  kalian  agar  mendirikannya  (dengan  sholat  Terawih).  Barangsiapa  yang mempuasai  dan  mendirikannya  karena  iman  dan  mengharapkan  ridha  Allah  SWT  niscaya  ia  keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dikeluarkan dari ibunya.” [HR. an-Nasâ’i dan Ahmad].

Kelima,  Allah  SWT  menawarkan  pahala  luar  biasa  kepada  kaum  Muslim  yang  rajin  beribadah  di bulan Ramadhan. Siapa saja melakukan amalan sunnah di bulan Ramadhan akan dinilai sama dengan melakukan  amalan  wajib  di  bulan  lain.  Orang  yang  mengerjakan  amalan  fardhu  di  bulan  itu, dilipatgandakan 70 kali pahalanya.

Oleh karena itu, di bulan Ramadhan kaum Muslim panen pahala.  Sebab, jika ia melaksanakan sholat lima waktu terus menerus selama sebulan, akan dinilai oleh Allah SWT seperti mengerjakannya dalam 70 bulan. Sedangkan sholat-sholat sunnah seperti rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, Terawih malam hari, dan lain-lain diganjar pahala setara dengan sholat fardhu pada bulan lain. Orang yang membayar shadaqah dianggap sama dengan membayar zakat pada bulan lain. Sedangkan  yang  membayar  zakat  dinilai  seperti  70  kali  membayar  zakat  pada  bulan  lain.  Siapa  saja yang  umrah  di  bulan  Ramadhan  akan  mendapatkan  pahala  setara  dengan  yang  pergi  haji. ( Lihat kitab Hakadza Nashumu) Karena

Keenam, Ramadhan disebut juga dengan bulan kesabaran (syahrul shabri). Dalam suatu hadits Rasul Saw  menggambarkan  puasa  sebagai  separuh  kesabaran  (nisfu  sabri)  dan  ganjarannya  adalah  surga. Dalam  pidato  di  atas  Rasulllah  Saw  menyebutkan  ganjaran  sabar  adalah  surga.  Ini  sesuai  dengan firman  Allah  SWT,  “Sesungguhnya  hanya  orang-orang  yang  bersabarlah  yang  dicukupkan  pahala mereka tanpa batas.” (Qs. az-Zumar [39]: 10).

Ketujuh,  Ramadhan  adalah  bulan  memberikan  pertolongan  (Syarul  Muwâsah).  Pada  bulan  ini  kaum Muslim sangat dianjurkan mengulurkan tangan mereka kepada kaum lemah, yakni para fakir miskin dan  orang-orang   yang   sedang  kelaparan.

Pada  bulan  inilah  sikap  kepedulian  sosial  kaum  muslim ditempa,  dan  mereka  disadarkan  bahwa  di  dalam  harta  mereka  terdapat  hak  kaum  lemah,  baik  yang meminta-minta  maupun  yang  tidak  mau  mengemis  (Qs.  adz-Dzâriyât  [51]:  19).

Mereka  pun diingatkan  oleh  hadits  Rasulullah  Saw,  “Tidaklah  beriman  kepadaku  orang  yang  tidur  nyenyak  dan kenyang di malam hari sementara tetangganya kelaparan padahal ia mengetahui hal itu.”

Kedelapan,  Ramadhan  adalah  bulan  dimana  Allah  SWT  menambahkan  rizkiNya  kepada  seorang Mukmin.  Kaum  Mukmin  yang  sedang  berpuasa  dan  bekerja  mencari  nafkah  hingga  kepayahan, dengan rahmat Allah akan ditambah rizkinya. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan, rahmat Allah  juga  diberikan  kepada  orang-orang  miskin  yang  tidak  bekerja  atau  tidak  memiliki  pekerjaan.

Kesembilan,  kita  dianjurkan  untuk  memberi  makan  untuk  berbuka  bagi  orang-orang  yang mengerjakan ibadah puasameski  hanya  sekedar  memberikan  satu  butir  kurma, seteguk air, atau satu hirup susu.

Perbuatan seperti ini adalah perbuatan mulia yang akan dibalas oleh oleh Allah  SWT  dengan  tiga  balasan  sekaligus;  pertama,  menggugurkan  dosa-dosanya;  kedua, membebaskan dirinya dari siksa api neraka; ketiga, diberi pahala setara dengan orang yang berpuasa itu  tanpa  mengurangi  pahala  yang  bersangkutan  sedikitpun.

Kesepuluh,  Ramadhan  adalah  bulan  yang  hari-hari  pertamanya  adalah  rahmat  (kasih  sayang)  Allah SWT  kepada  kaum  Muslim,  hari-hari  pertengahannya  adalah  hari  pengampunan  (maghfirah),  dan hari-hari  terakhirnya  adalah  pembebasan  kaum  Muslim  dari  api  neraka.  Dalam  suatu  hadits disebutkan,  bahwa  pada  bulan  Ramadhan,  Allah  menurunkan  rahmatNya  dengan  membuka  pintu- pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.

Kesebelas,  ada  empat  perkara  yang  dipesankan  Rasul  Saw  agar  diperbanyak  kaum  muslimin  di bulan  Ramadhan.  Dua  perkara  sangat  disenangi  oleh  Allah  SWT;  yakni  meyakini  dengan  sungguh- sungguh, bahwa tiada tuhan selain Allah dan istighfar (memohon ampunan) kepadaNya.

Dua perkara sisanya sangat dibutuhkan kaum Muslim, yakni memohon surgaNya dan berlindung dari api neraka. Oleh  karena  itu,  di  bulan  Ramadhan,  dianjurkan  memperbanyak  membaca  kalimat  “Asyhadu  an  lâ ilaha illa al-Allah. Astaghfirullah. As’alukal jannata wa a’uzubika minannâr.”

Keduabelas,  siapa  saja  yang  memberi  minum  kepada  orang-orang  yang  berpuasa  akan  mendapatkan ganjaran  yang  tak  ternilai  harganya;  yakni  akan  mendapatkan  minuman  dari  Allah  SWT  di  akhirat nanti.  Minuman  itu  diambil  dari  telaga  (haudh)  Rasulullah  Saw,  dan  siapa  saja  yang  meminumnya tidak  merasa  haus  lagi  sesudahnya  hingga  ia  masuk  surga.  Tentunya,  orang  yang  mendapatkan minuman  itu  akan  merasakan  kesegaran  luar  biasa.  Lebih-lebih  lagi,  peminumnya  tentunya  habis menjalani  pemeriksaan  di  pos-pos  pemberhentian  (mauqif)  di  padang  mahsyar  yang  lamanya  500 tahun.

Inilah dua belas perkara penting yang bisa kita pahami dari khuthbah Rasulullah Saw. Semoga di bulan Ramadhan yang tinggal hitungan hari tahun ini, kita bisa menjalakan perkara-perkara penting yang telah Rasulullah wasiatkan untuk kita umatnya. Dan Allah SWT menyampaikan umur kita sampai pada bulan penuh berkah, bulan Ramadhan. Amiin Allahumma Amiin.

 

Sumber : Fikh Puasa Praktis, Berpuasa Seperti Rasulullah Saw

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *