Kiat Menghadapi Anak Usia Pra-Baligh

Spread the love

Oleh: Wati Umi Diwanti

(Pengasuh MQ.Khadijah Al-Qubro Martapura)

 

TIba-tiba Si Tengah yang berusia tujuh tahun bertanya “Mi baligh itu apa?” Tak menyangka apa-apa, langsung jawab aja. “Kalo perempuan tandanya baligh itu haid. “Oooh”  Jawabnya sambil manggut-manggut.

 

Lumayan lama berselang, dia tanya lagi. “Mi, kata umi tadi pas ceramah, kalau belum baligh kan belum dihisab. Berati gapapa dong Atiyya biasanya marah-marah sama umi.”  Sambil senyum-senyum.

 

Spechlees. Rupanya isi ceramah tadi bikin dia mikir lalu merasa ada hujah yang membenarkan sikap salahnya. Saya pun berfikir keras. “Benar sih anak-anak belum dihisab, tapi kalau dijawab IYA GAPAPA, wah bisa jadi tambah sering marah ini anak.”

 

“Iya, memang belum dihisab, tapi apa yang sering dilakukan saat belum baligh itu akan jadi kebiasaan seseorang saat sudah baligh nanti. Atiyya mau ga kalau nanti pas baligh terbiasa marah-marah? Dan malaikat terus terusan mencatat. Isinya dosa melulu.

 

“Ga mau.” Jawabnya melemas. Sumringahnya di awal bertanya mulai memudar.

 

“Nah makanya itu, harus dari sekarang dibiasakan yang baik-baik. Walaupun belum dihisab.” Dia bengong seperti sedang mikir buat menimpali nasehat saya.

 

Sebelum dia sempat bersuara, si emak yang tidak rela anaknya berbuat semaunya karena tahu dirinya belum dihisab. Segera menambahkan penjelasan.

 

“Coba Atiyya liat di luar sana banyak kan perempuan yang tidak mau menutup aurat. Padahal itu wajib. Tahu kenapa? Ya, karena tidak pernah dibiasakan sama Umi mereka dari kecil.”

 

“Iya mi, ada ibu-ibu pakai kerudung tapi anaknya tidak pakai kerudung.” Timpalnya. “Nah itu karena menganggap belum kalau belum dihisab belum perlu diajari menutup aurat. Akhirnya nanti kalo sudah baligh pasti susah disuruh nutup auratnya. Karena belum terbiasa. Umi ga mau Atiyya begitu.”

 

Sekarang ekspresi wajahnya sudah mulai berubah. Mulai bisa nerima kalau dia tetap harus nahan emosinya. Meski belum baligh dan belum dihisab.

 

Saya pun melanjutkan percakapan, mumpung momennya pas. Xixiii.  “Atiyya mau tidak kalau umi biarkan setiap Atiyya marah atau berbuat salah. Dan pas baligh Atiyya punya kebiasaan buruk. Jadi deh dosa terus yang Atiyya dapat.”

 

“Gimana? Mau Umi biarkan saja?

 

“Hmm, ga mau.”

 

“Nah sekarang Atiyya tahu kan kalau Umi marah ke Atiyya, itu bukan karena umi tidak sayang. Justru karena umi sangat sayang. Umi tidak mau anak-anak Umi kebiasaan berbuat buruk. Dapatnya dosa. Gimana kita mau ngumpul di Syurga?”

 

Dalam hati. “Alhamdulillah dapat jawaban. Semoga bisa dipahami ya Nak. Umi sayang sama pian. Moga pian bisa jauh lebih baik dari umi.”

 

***

 

Masa pra baligh adalah kesempatan bagi kita untuk mengajarkan dan membiasakan anak-anak beramal sholih. Sekaligus membiasakan mereka menjauhi perilaku salah meski terlihat mewah.

 

Jangan sampai para ibu menyia-nyiakan kesempatan emas membangun habit di fase ini. Jangan sampai menyepelekan ketidak sesuaian dengan syariat Allah. Dengan anggapan “Ah belulm dihisab ini.”

 

Tapi juga tidak harus diktator. Sesuaikan dengan perkembangan anak, baik umur maupun karakter. Tiap anak berbeda meski bersaudara sekalipun.

 

Kita sebagai ibunyalah yang paling tahu perlakuan yang paling tepat untuk mereka. Tentu ini perlu ilmu. Itulah pentingnya wanita juga harus menuntut ilmu setinggi-tigginya.

 

Jangan sampai kita salah jawab pertanyaan mereka. Yang seringnya diluar nalar kita. Datangnya pun tiba-tiba.

 

Menghadapinya lebih berat daripada menjawab UASBN. Jika UAN salah jawab paling besar tidak lulus. Kalau pertanyaan anak kita salah jawab. Besar urusannya!

 

Untuk itu selain ilmu, seorang ibu juga perlu waktu dan energi. Setinggi apapun ilmu tak akan banyak guna, jika ibu kekurangan waktu dan tenaga. Emosi jiwapun melanda. Jangankan menjawab pertanyaan. Untuk tidak marah saja begitu susahnya.

 

Karenanya bijaklah memilih aktivitas. Susun betul-betul skala prioritas. Wajib dulu, baru sunah, jika tenaga dan waktu masih bersisa bolehlah yang mubah kita ambil.

 

Itupun harus dipastikan tak akan mengurangi kualitas kewajiban. Jika bisa pilihlah yang justru memberi nilai tambah pada tiap kewajiban. Renungkanlah wahai diri!

==========================================

Sumber Foto : Play and Learn Centre

One thought on “Kiat Menghadapi Anak Usia Pra-Baligh”

  1. Jawaban-jawaban di dialognya sangat membantu. Kebetulan punya tetangga usia pra-baligh yang juga suka sekali bertanya. ? Kadang agak sulit untuk menjawabnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *