Kilas Balik Wajah Dunia Pendidikan Kita

Spread the love

Oleh Henyk Nur Widaryanti (Dosen Swasta)

#MuslimahTimes –“Pendidikan adalah senjata yang sangat mematikan, karena lewat pendidikan maka kamu bisa mengubah dunia.” (Nelson Mandela)

Melalui pendidikan perubahan dunia dapat diarahkan. Begitulah kira – kira maksud tokoh revolusioner Afrika Selatan tersebut. Dimana pendidikan mampu merubah seseorang, mengembangkan pengetahuan dan menciptakan kepribadian yang unggul. Perubahan peradapan, kemajuan teknologi, pola hidup, bahkan pola pikir dipengaruhi oleh apa yang telah diperoleh manusia melalui pendidikan. Maka, tak heran jika pendidikan diibaratkam oksigen yang tak boleh hilang dalam mengarungi hidup ini.

Pentingnya pendidikan ditunjukkan dengan dibuatnya Perpres (Peraturan Presiden) dalam Lampiran XIX Nomor 107 Tahun 2017 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2018 menanggarkan 20% untuk pendidikan. Anggaran ini dipergunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan. Bahkan mengeluarkan program beasiswa bagi keluarga tidak mampu agar tetap bisa bersekolah. Setiap tahun senantiasa menambah guru, dengan open recrutmen melalui CPNS. Ditambah lagi pemberian penghargaan bagi para guru, agar lebih semangat mengajar.

Namun, jauh panggang dari api. Kebijakan tinggallah peraturan. Masalah pendidikan datang silih berganti. Mulai dari kasus kenakalan remaja yang menjamur di kalangan anak sekolah, hingga honor guru non PNS yang bikin melongo. Sebagai contoh, di Kabupaten Ngawi ada sekolah SMP yang terancam ditutup karena kekurangan murid. Minimnya jumlah murid disebut – sebut sebagai alasan ditutupnya sekolah tersebut (Radarmadiun.co.id, 04/06/19).

Di sisi lain, fenomena kekurangan guru juga banyak terjadi. Sebagai contoh di Ngawi, sebuah kota “bumi orek – orek” di Jawa Timur. Kota kecil ini masih membutuhkan banyak guru agama dan olah raga, padahal ratusan PNS baru telah direkrut. Menurut Kabid Pembinaan Ketenagaan Dindik Ngawi Fachrudin, kekurangan ini akan ditutupi dengan perekutan guru melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) (Jpnn.com, 08/06/19).

Problem pendidikan seakan tak bisa sirna. Padahal berbagai kebijakan telah dilakukan. Mulai dari alokasi anggaran, perubahan kurikulum, hingga pengadaan persiapan calon pendidik telah disiapkan. Namun, segala solusi yang ditawarkan belum mampu menyelesaikan masalah pendidikan.

Fenomena kekurangan murid merupakan sesuatu yang tak lazim bagi negeri ini. Pasalnya, bonus demografi sedang menghampiri. Lantas apakah yang telah menyebabkan sekolah bisa kekurangan murid? Apakah ini merupakan indikasi dari keberhasilan KB? Dua anak cukup. Jika KB menjadi salah satu faktor berkurangnya jumlah pelajar, maka bisa dipastikan beberapa tahun mendatang Indonesia akan minim penduduk usia muda. Padahal, kelahiran anak di luar pernikahan semakin meningkat. Akan dikemanakan generasi ini selanjutnya?

Tidak bisa dipungkiri, jumlah pelajar adalah salah satu faktor terpenting bagibh zona  pendidikan. Para generasi muda inilah yang akan membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Akan tetapi harapan itu hanya tinggal kenangan jika SDM nya saja minim. Tak ayal jika kita perlu khawatir dengan semakin berkurangnya SDM muda.

Selain itu, masalah kurangnya tenaga pengajar menjadi momok tersendiri. Banyaknya perekrutan namun tidak diimbangi dengan gaji yang relevan membuat para guru jauh di bawah sejahtera. Apalagi jika ada kesenjangan antara guru ASN dengan non ASN. Sebagaimana masalah menerima THR lebaran kemarin.

Pantas jika kita mengatakan akar permasalahan ini bersumber dari ketidakjelasan konsep penyelesaian pendidikan. Teknik tambal sulam adalah harapan satu – satunya bagi para pemegang kebijakan. Di satu sisi menginginkan terbentuk generasi yang handal, di sisi lain kurangnya perhatian terhadap kualitas pendidikan.

Dalam dunia mendidikan saat ini lebih diutamakan kuantitasnya, anak lulus tepat waktu, guru memenuhi laporan, tunjangan cair, persyaratan administrasi terpenuhi. Jarang sekali memperhatikan bagaimana proses mereka lulus, mendapat nilai baik, kepribadian baik, dan guru juga jujur.

Berbeda halnya dengan Islam. Pendidikan dipandang sebagai suatu kebutuhan pokok bagi warganya. Sehingga negara mengambil peran terpenting dalam hal ini. Dalam menentukan kebijakan disandarkan pada aturan Allah. Sehingga tujuan utama pendidikan adalah membentuk keimanan dan ketakwaan dalam individu. Serta mendorong para generasi untuk mengamalkan ilmunya demi kemakmuran umat. Bukan sekadar untuk menumpuk kekayaan.

Pada tingkat dasar anak akan dididik agama. Setelah itu baru diperkenalkan dengan ilmu lainnya. Harapannya, agama yang mereka pegang akan menjadi landasan mengamalkan ilmu lainnya. Sehingga para generasi tidak akan terjerumus dalam lubang kemaksiatan.

Perhatian pada kesejahteraan guru itu sangat penting. Karena ilmu dipandang sesuatu yang berharga, maka gaji guru pun tidak sekenanya. Biaya keperluan pendidikan dialokasikan maksimal, dengan bersumber dari hasil pengolahan SDA.

Oleh karena itu, pendidikan Islam tak mungkin bisa berdiri sendiri. keberhasilannya perlu sokongan dari sistem ekonomi Islam maupun kebijakan lainnya. Salah satunya lewat pengelolaan SDA (karena dana pendidikan tidak sekadar dari pengelolaan SDA). Akankah kita masih berharap dengan sistem saat ini?

Wallahu a’lam bishowab

Sumber Foto : AsikBelajar.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *