Konde Diikat Zaman, Hijab Mengikat Perbuatan

Spread the love
Oleh Alga Biru
.
.
.
Perayaan Hari Kartini masih lama, konde mendadak jadi buah bibir dua hari ini. Belum ada yang mempersalahkan konde, saya rasa. Hanya setelah Ibu Sukmawati membacakan puisinya yang mengegarkan itu, beberapa orang akhirnya garuk-garuk kepala.
“Aku tak tahu Syariat Islam
 Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
 Lebih cantik dari cadar dirimu”
Andai ini perlombaan kecantikan, lalu dimenangkan ‘konde’, misalnya. Saya pikir tidak ada yang gemar menginjak harkat martabat kontestan lain kecuali dia adalah juri yang intoleran. Itu kalau benar keduanya sejajar loh. Dan apa betul telah terjadi perlombaan ‘cantik mana’, konde ataukah cadar? Kita sudah terbiasa berjalan bersisian, di tengah Indonesia yang berbhineka. Sampai detik ini, wawasan bangsa Indonesia tentang keragaman masih kental.
Konde atau kundai merupakan warisan budaya. Gelung rambut ke belakang, yang sarat dengan nilai-nilai. Konon, filosofi konde memang tentang perempuan dan dinamika sosialnya. Bagaimana sebuah persoalan, masalah, entah aib apapun dalam rumah tangga hendaknya disimpan dibelakang, seperti konde yang disematkan. Istri melindungi rahasia, suami melindungi segalanya. Sesederhana itu, sebuah pemaknaan lampau yang bisa kita tarik hikmahnya.
Namun bagaimanapun, konde berhadapan dengan zaman. Tidak melulu soal makna, yang kentara adalah wujud konde itu sendiri. Jujurlah, Anda lebih mudah pasang konde atau si ekor kuda? Lebih cetar mana, tren rambut neon atau gelung rambut sasak ke belakang? Berapa orang yang benar-benar berkundai tanpa menyematkan konde palsunya? Konde, semakin eksklusif saja sebenarnya. Ibu-ibu Indonesia sudah berpikir lebih praktis dan kekinian. Sampai-sampai ada seloroh begini di sosial media : “Abang sayur lewat di depan, nunggu kondean? Bisa kabur cyiiin,,,”. Di titik ini, konde mengalah pada kebutuhan era. Tidak usah dipersoalkan, nasionalisme tidak seradikal itu. Budaya terus berkembang, melar dan toleran situasi.
.
.
.
.
Sungguh malang mereka yang kini sering terdiskrimanasi di satu sisi. Bahwa yang melingkupi kita bukan hanya budaya, disana ada juga agama. Bukan salah satu, bahkan item paling penting, ya agama. Lebih lanjutnya lagi, puisi Bu Sukmawati  masih dari judul yang sama, pun menyindir lantunan azan. Kita sama-sama  paham arti azan dalam kehidupan. Ia panggilan ibadah, panggilan sayang, cinta-Nya, perhatian-Nya, tak tergantikan.
“Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu”
Ada dua hal yang perlu diperjelas memandang rima dan syair ini. Pertama, mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim, ini fakta bukan asumsi. Kejelasan nomor dua ialah, kedudukan azan yang jadi lantunan pertama didengar anak manusia, persis setelah kelahirannya. Tak usahlah kita sebut dosa dan norma, fakta saja sudah berbicara. Kemerduan azan sudah diperkenalkan sedemikian rupa, menyatu dengan hidup dan matinya manusia. Terlepas bahwa sebagian rakyat Indonesia memiliki gaya dan ajaran yang berbeda, lantas apa guna menyindir panggilan agama atas nama bangsa ini? Disitu jadinya risih.
.
.
.
.
Terlebih kalau kita bicara hijab dan cadar dalam pandangan Islam. Berat, urusannya akhirat. Konde itu pilihan, bukan aturan. Hijab itu kewajiban, alat ukurnya wahyu. “Hendaklah mereka menahan pandangan, dan memelihara kemaluan, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada, dan janganlah menampakkan perhiasannya.” Begitu terang firmah Allah Swt surah An-Nur ayat ke-31 membatas-batasi seputar apa yang tampak, apa yang boleh dilihat subjek yang dikenai hukum perbuatan. Jika dilanjutkan lagi ayat itu, sampai pulalah ia pada tataran siapa-siapa saja yang melihat, nasab dan perintah-perintah lain yang menyertai. Hijab adalah prosedur perbuatan yang bersifat mengikat. Seperti daging yang membalut tulang, sebegitu ikatan perintah dan akibatnya.
Di mata orang Indonesia, yang notabene muslim itu, bagaimana mungkin membandingkan hal yang boleh dan wajib dalam satu waktu. Ini mengganggu nalar. Diungkit-ungkit pula soal cadar, yang menjadi bagian dari hijab (penutup aurat) itu sendiri. Janganlah kita menutup mata bagaimana sikap diskriminatis dan pencitraburukan terhadap simbol muslimah ini. Bukankah kita seharusnya prihatin? Sudahlah didiskrimanasi, digesek-gesek pula dengan yang tak sepadan.
Konde diikat zaman, berlaku pasif, monggo kalau situ berkonde. Tak mengapa, kalaupun tidak. Mungkin tidak dan memang sudah bukan zamannya. Nilai-nilai melekat pada bentuk baru gubahan manusia, yang kadang nyentrik, dan tak jarang lebih berterima. Sedangkan hijab mengikat perbuatan. Selagi dia muslim, perempuan, sudah sampai umurnya (baligh), kewajiban tertonggok di pundaknya. Disana ada pandangan baik atau buruk, benar atau salah, dosa atau pahala. Dan bagi yang masih yakin besok bakal mati, pikirkanlah surga ataukah neraka tempat kita nanti.
Sudahlah, tidak usah digesek-gesek lagi indahnya persatuan ini. Aku disini, kau disana. Biar budaya diikat zaman, junjungan wahyu mengikat perbuatan. Konde diadu hijab itu tidak sepadan. Jangan dipaksakan, ketimbang telak. Wallahu’alam. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *