Konsekuensi Logis Dibalik Gelar Negara Paling Santai di Dunia

Spread the love

Oleh. Ayu Mela Yulianti, SPt

(Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat)

 

#MuslimahTimes –– Laporan terbaru dari agen perjalanan asal Inggris, Lastminute.com menyebut Indonesia sebagai Most Chilled Out Countries in The World, atau Negara Paling Santai di Seluruh Dunia. Kata santai di sini dalam artian positif yang berhubungan dengan relaksasi dan cocok sebagai destinasi liburan.  Laporan terbaru ini berdasarkan penelitian terhadap berbagai faktor di suatu negara. Misalnya banyaknya cuti tahunan, polusi suara dan cahaya (lingkungan), hak asasi manusia, budaya, dan banyaknya tempat spa atau retreat.(Jakarta, Kompas.com,Januari 2019).

Tidaklah berlebihan jika Indonesia digelari sebagai negara tersantai didunia. Bagaimana tidak, negara dengan potensi sumber daya alam yang luar biasa eloknya, luar biasa kayanya, luar biasa unggulnya diantara negara-negara didunia telah memberikan peluang kemudahan hidup bagi masyarakatnya. Hingga seorang musisi pernah bersyair dengan syairnya yang terkenal. Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala ikut menghidupimu, tiada topan tiada badai kau temui, ikan dan udang menghampiri hidupmu…

Sebuah gambaran hidup yang sangat mudah. Tidak usah bersusah-susah, semua manusia bisa hidup di negeri ini.

Akan tetapi kemudahan hidup ini kenyataannya hari ini menjadi sempit. Akibat liberalisasi kehidupan. Masyarakat di negeri ini banyak hidup dibawah garis kemiskinan. Parahnya, upaya untuk mengangkat kembali kemudahan hidup yang dulu pernah dirasakan adalah dengan menggenjot sektor pariwisata. Menjual kemolekan tanah ibu pertiwi dan menjadikan masyarakatnya menjadi pelayan para pelancong. Sebuah kebijakan miris yang patut dikritisi.

Masyarakat lugu di negeri ini yang mayoritas muslim dicekoki dengan paham yang tidak mereka kenal sebelumnya dan banyak bertentangan dengan ajaran agamanya. Paham liberalisasi berkedok pariwisata.

Banyaknya tempat spa dan retreat ditempat pariwisata menunjukkan hal ini. Sebuah layanan jasa yang banyak disalahkahgunakan oleh oknum. Banyak berubah menjadi tempat maksiat. Hal ini sudah banyak dikenal dan diketahui publik.

Belum lagi umbar aurat diwilayah pantai Indonesia. Bikini menyebar rata diwilayah pantai. Pakaian ala barat yang jauh dari nilai Islami. Kembali masyarakat negeri ini disajikan tontonan yang luar biasa mirisnya. Mereka dipaksa menerima nilai-nilai barat semodel pakaian bikini, tanpa mampu menolaknya. Hasilnya, kerusakan moral menyebar rata dikalangan masyarakat.

Masyarakat muslim akhirnya menjadi tidak malu untuk menampakkan dan mengumbar auratnya, mengikuti nilai-nilai barat yang bertentangan dengan ajaran agamanya.

Mereka pikir pakaian bikini adalah lambang kemajuan. Karena dipakai oleh orang-orang barat atau pelancong yang datang ketempatnya. Masyarakat lupa bahwa pakaian itu sangat jauh dari nilai budaya dan karakter bangsa apalagi ajaran agama.

Masyarakat dinegeri ini akhirnya menjadi budak dinegeri sendiri. Pelancong mancanegara dilayani bak raja tanpa cela. Apapun yang mereka inginkan dipenuhi tanpa kata tapi. Apapun yang mereka minta diberikan tanpa pamrih. Sebuah fakta dan kondisi yang sangat memilukan hati. Jauh dari kata mulia.

Islam Memuliakan

Islam sungguh memiliki cara bagaimana memuliakan sumber daya alam dan manusia yang Allah SWT ciptakan disuatu negeri.  Dengan seperangkat aturan yang menentramkan hati, sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal.  Tidak terkecuali dengan potensi SDA dan SDM yang ada di Indonesia.

Keunggulan yang dimiliki negeri ini sejatinya bukanlah sebagai sarana untuk bersantai ria, atau tempat tujuan bersantai mancanegara yang dipenuhi dengan aktivitas maksiat, semisal pamer aurat atau yang lainnya.

Keunggulan yang dimiliki negeri ini sebenarnya adalah modal untuk mencapai derajat kemuliaan sebagai manusia merdeka dan beradab. Bukannya sebagai manusia yang mau diperbudak oleh hawa nafsu yang mengakibatkan banyak kerusakan baik lingkungan maupun moral.

Karenanya, kalaupun negeri ini dijadikan sebagai tempat tujuan utama pariwisata sebagai konsekuensi logis dari gelar negara paling santai didunia, tersebab banyaknya  hal-hal yang mendukung manusia untuk datang kenegeri ini. Tetaplah sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai agama dan kesopanan haruslah dapat mewarnai para wisatawan yang datang berlibur dengan kebudayaan dan kebiasaan positif warga  masyarakatnya, bukan malah mengikuti budaya dan kebiasaan yang dibawa oleh para pelancong dunia yang bertentangan dengan agama dan kesopanan.

Apalagi jika sampai menghalangi keinginan untuk hidup lebih baik dan lebih mulia. Selamat didunia dan selamat diakhirat. Keinginan untuk lepas dari seluruh kesempitan hidup akibat liberalisasi kehidupan.

Karenanya, sungguh gelar Indonesia sebagai negara tersantai didunia, bukanlah gelar yang patut untuk diapresiasi. Karena gelar itu hanyalah menguntungkan negara lain dan semakin mengokohkan penjajahan moral yang terjadi di negeri ini.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *