Lima Pasang Mata

Spread the love

 

Shafayasmin Salsabila

Kala itu, sesaat setelah perang Hunain. Pada saat Rasul kembali ke Ji’ranah, tempat penyimpanan Ghanimah (harta rampasan perang). Pembagian ghanimah oleh Rasul, dirasa berat sebelah. Bisik-bisik memanaskan suasana. Prasangka mulai mengambil alih kendali sahabat Anshar. Hingga berkatalah Rasul dengan perkataan sedalam samudera, sehalus sepoi angin, namun menghentak bagai genderang perang yang ditabuh.

Meluluhlah. Robohlah segala keraguan. Sadar akan hati yang meliar. Maka terbayar segala sesal dengan derai air mata. Ya.. Para kesatria itu menangis. Menangis sejadi-jadinya. Atas rasa yang tak sepantasnya mengunjungi benak mereka.

Para wanita berlima, dalam lingkar kajian, seakan meneropong dari kejauhan, namun tercebur dalam sepenggal sejarah empat belas abad silam. Turut merasakan sesak yang sama.

***

Menahan trenyuh
Lima pasang mata dalam lingkar pembinaan
Didesaki butir seperti pedih karena kulit bawang
Ditahan sebisa malu mengatakan

Satu halaman terbuka
Isinya tentang kecamuk rasa
Tatkala Ghanimah mencuri hati para Anshar kesayangan
Maka di mana keberpihakan?

Rasul berkata sepenuh kebijaksanaan
Mempertanyakan kecenderungan
Apakah pada secuil dunia
Atau kepada jiwa yang telah sampaikan pelita sebagai pemadam gulita?

Mereka pergi bersama puluhan kambing dan unta
Tapi kamu pulang bersama kekasih Allah, maka tidakkah itu cukup bagi Anshar? Indah Rasul berbahasa

Hunain menjadi ujian
Lembah Ji’ranah menjadi saksi
Janggut yang dibanjiri tangis
Pilu penyesalan akan rasa yang tak seharusnya ada
Pelajaran bahwa sedemikian kemilau harta menjungkirbalikkan logika
Menyemai prasangka Membidani desas desus

Agaknya itu kita pahami
Hingga kini gaungnya masih sama
Tak jauh beda
Pada harta banyak jiwa menaruh asa
Parahnya Rasul sudah tiada
Bilakah istiqomah jika Alquran tak tersentuh tak terbaca?

Mempertanyakan posisi
Lima pasang mata melarut dalam kecamuk rasa
Adakah sejumput ketidaksetiaan mewarnai pilihan?
Adakah masih meributkan kebendaan, merebutkan singgasana hingga lupa hakikat hidup untuk apa?
Menggeser makna bahagia
Menggerus keyakinan
Berat untuk berkorban

Lima pasang mata
Dalam sedu sedan pikiran
Sadar dari pingsan
Bahwa sepanjang masa hidup maka selama itu pula perjuangan

[Mnh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *