Mama.. Ijinkanku Hadiahkan Surga

Spread the love

Oleh: Ratu Ika Chairunnisa

 

#MuslimahTimes –– Ma, aku sering dengar kisahmu saat melahirkanku. Aku begitu menyusahkanmu kala itu, ma. Baru mulai melihat dunia saja, ku sudah buatmu merasakan sakit yang tak terkira. Kematian sudah terasa dekat dipelupuk matamu, bukan? Darah terus menderas basahi semua pakaian dan seisi kamar rumah sakit. Sampai beberapa lama tak sadarkan diri, seolah kau lihat padang rumput luas yang tiada batasnya. Katamu seolah nyawa benar telah terpisah dari raga.

Ah, ngilu aku mendengar kisah itu. Aku tak bisa membayangkan, seandainya sadarmu tak kembali kala itu. Tak sanggup rasanya menapaki dunia tanpa untaian kata bimbingan darimu. Aku tak mampu, jika harus tumbuh tanpa hangatnya cinta paling menentramkan dari dalam hatimu

Ma, aku bangga miliki permata terindah sepertimu. Kau ajarkan aku bagaimana menjadi wanita tangguh, meski kejamnya zaman kian berupaya menggilas habis kewarasan. Kau yang tetap teguh meski banyak orang berupaya menginjak-injak kesabaranmu. Mengoyak habis harga dirimu. Hanya karena kita tak miliki banyak harta. Tapi kau tetap tegak berdiri dan terus sematkan kata-kata yang buatku terngiang sampai dewasa.

“Mama nggak masalah ka, cuma jadi penjahit. Tapi anak-anak mamah harus bisa sekolah tinggi. Anak-anak mamah harus bisa jadi orang sukses. Jadi orang susah itu nggak enak. Dan mamah nggak mau anak-anak mamah merasakan sakitnya jadi orang susah kaya mama.”

Sejak itu ada asa yang terus mengembara. Ada azzam tertancap kuat dalam benak. Bahwa aku harus sungguh-sungguh belajar. Aku harus jadi orang sukses. Aku harus bisa bahagiakan mama. Luruh air mataku, saat mama diperlakukan tak semestinya. Diinjak-injak harga dirinya. Aku tak rela, ma, sungguh.

Ma, aku ingat betul betapa tetesan peluhmu yang akhirnya membesarkanku dan ketiga adikku. Hasilkan pundi-pundi rupiah saat ayah di PHK. Kau terus menjahit baju siang malam, tak peduli rentanya raga meminta haknya tuk sejenak istirahat. Yang kaupedulikan, bagaimana anak-anakmu bisa sekolah setinggi-tingginya. Semua harus bisa kuliah. Bahkan, adikku bisa kau sekolahkan di sekolah yang sangat mahal biayanya. Hanya bermodalkan keyakinan pada  Allah sang penggenggam kehidupan. Kau juga yang ajarkan aku menjadi dermawan meski kondisi keuangan paspasan. Kau ajarkan aku berbagi meski kita tak miliki banyak materi.

Kalo kita nggak punya uang untuk bantu orang lain, kita tetep bisa bantu tenaga, pikiran dan apapun yang bisa kita berikan, berikanlah.” Itu katamu.

Dan benar, kau bukan hanya berkata, namun juga iringi dengan langkah nyata. Engkau selalu ada saat tetangga kesulitan. Bahkan setiap terima pesanan kue yang jadi penghasilan tambahan, kau sengaja buat lebih banyak. Supaya seluruh tetangga satu gang bisa kebagian.

Saat lebaran tiba, aku tak pernah melihatmu membeli baju baru, ma. Pakaian lusuh selalu kau anggap cukup untuk hari raya. Yang penting semua anak bisa bersuka cita dengan baju teranyar yang dipunya.

Ah, entah dengan apa kubisa membalas seluruh jasamu. Tak mungkin bisa setara meski kuhimpunkan dunia untukmu, ma.

Mama, aku kini telah beranjak dewasa. Puteri kecilmu kini telah miliki keluarga sendiri. Tapi, entah mengapa selalu saja rindu tak henti menggebu saat sesaat saja tak bertemu.

Tetap saja, rumahmu menjadi tempat ternyaman untukku pulang.

Ma, aku ingin cerita. Saat kuliah di Padang aku menemukan pelita. Pelita yang benderangkan jalanku menuju pintu surga. Aku mulai mengerti bagaimana cara untuk membalas lunas semua jasamu. Aku temukan itu ma. Aku baru mengerti bahwa kesuksesan materi yang selama ini melekat dalam benak, menjadi tujuan hidupku, itu tak cukup. Yang senilai untuk membalas semua pengorbananmu hanya lah surga, ma.

Dan aku, kini benar-benar telah bulatkan tekad. Bahwa aku ingin membawamu ke surga. Aku ingin menjadi anak yang bisa menghantarkanmu ke surga. Syaratnya, aku harus menjadi anak shalihah. Maka, ijinkan aku berjuang tuk menjadi shaliha, ma.

Maafkan aku.. Aku telah hancurkan harapanmu miliki anak yang sukses materi. Aku tak punya bisa wujudkan cita-citamu. Meski sekarang aku telah lulus kuliah, namun setelah hijrah, pikiranku berubah, ma. Aku tahu makna hidup hakiki. Tujuan hidupku dan seluruh manusia semestinya bukan untuk menghamba pada harta, melainkan untuk beribadah pada Allah dan harapkan ridha-Nya semata.

Aku juga sadar akhirnya, bahwa dakwah adalah kewajiban. Dan menjadi shalihah harus jalankan semua kewajiban  Maka, ijinkan aku jadi pejuang Islam, ma.

Maafkan aku yang telah buatmu murka. Goreskan luka menganga yang mungkin hingga kini masih terasa. Hanya karena pilihanku menjadi pengemban dakwah dan tak fokus mengejar harta. Namun, percayalah. Aku sunggu mencintaimu karena Allah. Biarlah aku tak bisa memberimu kemewahan dunia. Namun jika saatnya nanti di akhirat kau teramat membutuhkan pertolongan di hari penghisaban. Ijinkan aku tuk bisa menolongmu. Menyelamatkanmu dari deru siksa api Neraka. Biarkan aku membawamu selamanya di surga. Karena inilah bentuk cintaku sesungguhnya untukmu, mama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.