Manusia Sombong. Seperti Apa??

Spread the love
Oleh. Nunik Soewarno
(Ibu Pengusaha dan Anggota Pengajian Qonitat Magetan)
#MuslimahTimes — Dunia saat ini sudah terjerat dalam labirin Sekulerisme. Agama sudah tidak lagi terasa dalam kehidupan selain hanya sebatas ritual  yang masih pula dikotori perilaku fanatisme golongan sehingga mudah mem-bid’ahkan kelompok lain. Lupa bahwa hidupnya adalah karunia Allah. Bahwa Allah yang memberinya hidup.
Ketika agama hanya sebatas ritual inilah yang memutus agama dari kehidupan. Agama ditinggalkan di tempat ibadah, urusan di luar ritual tidak perlu diatur dengan agama. Bermuamalah cukup dengan aturan manusia, berhukum cukup dengan hasil rumusan manusia. Semua aspek kehidupan cukup didasari aturan dan kebiasaan manusia. Inilah bentuk sombongnya manusia. Dan kesombongan inilah yang sudah diberitakan Al Qur’an dalam
QS. Surah Luqman : 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Surah Al-Isra : 83:
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakangi dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.”
Manusia dengan kesombongannya merasa mampu mengurus dirinya sendiri tanpa diatur dengan aturan Penciptanya. Mereka menganggap aturan Rabb-nya hanya mengekang hidupnya sehingga hawa nafsu lebih diperturutkan. Menganggap keberhasilannya adalah hasil upayanya sendiri tanpa campur tangan Tuhan-nya. Sungguh kesombongan luar biasa bagi hamba yang ilmunya tidak lebih dari air yg menempel di ujung jari dibandingkan luasnya ilmu Allah.
Ketika hawa nafsu diperturutkan, maka segala aturanNya adalah belenggu yang mengungkung kebebasan dan harus dikalahkan keberadaannya. Manusia membuat aturan yang sesuai syahwat dunianya, yang dibuat seolah merasa akan selamanya menghuni dunia padahal umurnya ada dalam genggaman Rabb-nya. Merasa memiliki dunia hingga lupa siapa yang memberinya hidup. Merasa menguasai dunia hingga lupa ada Yang Maha Kuasa yang bisa setiap saat mengambil kekuasaannya, yang mampu tiba-tiba mematikannya di saat dia merasa di puncak dunia. Sebagamana Namrudz yang menjadikan dirinya tuhan dan menganggap dirinya bisa memberikan hidup dan mati seseorang sesuai kehendaknya. Yang sombong hendak menggapai langit dan akhirnya mati oleh makhluk kecil yang tidak pernah diperhitungkan kekuatannya. Makhluk kecil yang dikirim Allah untuk mengakhiri kesombongannya.
Manusia banyak menganggap dirinya tuhan yang mampu mengatur dan menguasai dirinya sendiri. Padahal sekedar menghitung jumlah helaian rambutnya sendiri pun tak mampu. Mengatur ritme detak jantungnya sendiri pun tak bisa. Apalah lagi mengatur jagad raya. Manusia sering menganggap dirinyalah pusat jagad raya, padahal keberadaannya bukanlah komponen penentu adanya kehidupan. Begitu sombongnya, begitu merasa berkuasanya hingga menganggap dirinya harus diikuti dan dihormati makhluk.
Fakta di negeri kita saat ini yang mayoritas penduduknya muslim tapi syariat Islam justru diberangus digantikan hukum buatan manusia. Banyak kebijakan yang menjauhkan umat dari syariat, hingga melupakan moralitas. Kebijakan pemangku kekuasaan sering menentang syariat, hukum bak pisau dapur karena tajam sebelah. Bisa kita lihat ketidakadilan yang nampak nyata. bagaimana seorang nenek sepuh (tua) yang ‘atas nama hukum’ harus menjalani sisa hidup di balik jeruji besi, sementara mereka yang dekat dengan kekuasaan tak tersentuh hukum meski ditengarai merugikan negara dalam jumlah besar.
Moral bangsa yang dulunya sarat kesantunan diobrak abrik atas nama HAM, atas nama kebebasan. Di sekolah, murid berlaku tidak sopan bahkan kurang ajar justru mendapat pembelaan hingga guru jerih berlaku tegas. Dulu remaja putri dibonceng teman putra malu-malu, sekarang justru dipamerkan bak memenangkan sesuatu yang membanggakan.
Bencana yang banyak terjadi belakangan inj hanya dianggap sebagai gejala alam, tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Sudah banyak contoh azab akibat manusia berlepas dari ketaatan. Padahal Allah tidak suka syariatnya ditinggalkan sehingga memberikan peringatan dan saat peringatan tetap diabaikan maka azab-lah yang turun atas kesombongan itu.
Manusia lupa ada yang Maha Segalanya, yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Yang Maha Sombong dan hanya Dia yang berhak sombong.
Surah Ghafir : 76:
ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
(Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.”
Semoga kita terhindar dari murka Allah, terhindar  dari pedihnya Jahanam dengan mengukuhkan ketaatan diri dalam perjuangan meraih ridha Allah SWT.
Aamiin
======================
Sumber Foto : Info Unik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *