Memahami Konsep Perempuan dalam Kapitalisme dan Islam. Apa Bedanya??

Spread the love

Oleh. Ayu Mela Yulianti, SPt

(Pemerhati Masalah Umat)

 

#MuslimahTimes — Seringkali perempuan dianggap sebagai pihak yang tidak berdaya, sehingga banyak pihak yang merongrong agar dilakukan pemberdayaan perempuan. Tentu ada perbedaan pemahaman tentang konsep berdayanya perempuan dalam sudut pandang kapitalisme dan sudut pandang Islam.

 

// Perempuan dalam Kungkungan Kapitalisme //

Kapitalisme memandang, perempuan akan disebut berdaya jika ia mampu menghasilkan uang dan kemandirian secara ekonomi. Untuk itu dibuatlah berbagai macam program oleh pemerintah guna menunjang terealisasinya konsep perempuan berdaya ini. Tak sedikit dana digelontorkan untuk menunjang proyek pemberdayaan perempuan ini. Hasil akhirnya diharapkan perempuan bisa mandiri dan menghasilkan uang sendiri untuk memenuhi minimal kebutuhan hidupnya.

Konsekuensinya adalah perempuan banyak keluar rumah, atau kalaupun ada di rumah, tersibukkan dengan kontrak kerja atau bisnis yang dibangunnya. Keluarga terpinggirkan dan tidak menjadi prioritas utama perhatiannya. Jadilah perempuan terseret arus kapitalisasi. Gaya hidup hedonis hampir menjangkiti perempuan disegala lini kehidupan, fungsinya sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya tergerus sedikit demi sedikit seiring tersibukannya ia untuk bangkit secara finansial. Tak jarang keluarga menjadi berantakan lantaran sibuknya sang ibu dengan urusan tuntutan karier dan pekerjaan sumber penghasil keuangan. Tak sedikit pula peran penting laki-laki akhirnya terkebiri dengan banyaknya perempuan yang hadir disektor publik dan mengambil peran laki-laki secara tidak langsung.

Timbul ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan. Timbul saling serobot peran antara laki-laki dan perempuan. Timbul pula pengalihan peran laki-laki pada perempuan secara halus dan kadang tidak disadari. Semua berjalan melibas naluri laki-laki dan perempuan. Tidak sesuai dengan fitrah penciptaan perempuan dan laki-laki, tidak manusiawi. Menimbulkan banyak gejolak dimasyarakat dan tidak memuaskan akal manusia.

Perempuan dengan fitrah penciptaannya memang diciptakan indah dan menarik, dilihat dari sudut pandang manapun.  Keberadaanya disektor publik, akan sedikit banyak menimbulkan beragam fitnah yang dialamatkan kepadanya jika tidak dijaga dengan baik.

Maka sungguh pemberdayaan perempuan dalam perspektif kapitalisme tentu butuh dikaji ulang. Tingkat keefektifan dan keefesienannya. Jangan sampai satu masalah perempuan berdaya dalam perspektif kapitalis menimbulkan ketidakberdayaan para laki-laki, yang bisa menimbulkan keguncangan dimasyarakat.

 

// Perempuan Mulia di Dalam Islam //

Islam memandang perempuan berdaya adalah perempuan yang mampu mengoptimalkan potensi diri yang dimilikinya sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia, sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai anak dari orang tuanya, sebagai bagian dari lingkungan masyarakatnya.

Tolak ukur perempuan berdaya dalam perspektif Islam tidak  dilihat dari seberapa mampu ia menghasilkan uang dan kemandirian ekonomi.  Justru Islam memandang jika uang dan kemandirian ekonomi perempuan adalah jebakan kapitalis yang sangat halus dan berbahaya.

Islam telah menetapkan kewajiban bekerja dipundak laki-laki. Islam telah mewajibkan para laki-laki memenuhi nafkah dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Jadi kemandirian ekonomi ini telah menjadi tuntutan Islam atas para laki-laki, bukan pada perempuan. Artinya jikapun para perempuan tidak mandiri secara finansial, tidaklah menjadi dosa bagi dirinya, karena kewajiban menafkahi dan kemandirian ekonomi telah Islam tetapkan ada dipundak laki-laki, bukan perempuan.

Islam telah menetapkan hukum bekerja untuk menghasilkan uang dan kemandirian ekonomi bagi perempuan adalah mubah, boleh saja, bukan wajib atau sunah, selama sesuai dengan aturan main bekerja bagi perempuan. Sekali lagi hukumnya adalah mubah, sama seperti nonton televisi atau mendengarkan radio atau yang sejenis dengan hal itu.

Berbeda dengan hukum bekerja bagi perempuan. Maka Islam telah menetapkan menjadi ibu dan manajer rumah tangga adalah wajib, menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya adalah wajib, berbakti kepada suaminya adalah wajib, berbakti kepada kedua orangtuanya jika belum menikah adalah wajib, mencari ilmu adalah wajib, berdakwah dan menyampaikan kebenaran adalah wajib. Konsekuensi dari suatu kewajiban jika ditinggalkan akan berdosa.

Jadi perempuan berdaya dalam kacamata Islam bukanlah perempuan yang mandiri secara ekonomi dan finansial.  Lebih dari itu perempuan berdaya dalam kacamata Islam adalah perempuan yang mampu mengoptimalisasikan potensi hidup yang dimilikinya sesuai dengan fungsi penciptaannya, sebagai hamba Allah swt. Apakah ia sebagai makhluk individu ataukah sebagai makhluk sosial dan sebagai bagian dari anggota masyarakat. Ataukah ia sebagai perempuan dengan segala hak dan kewajiban yang harus dilakukannya.

Wallahualam.

 

=====================

Sumber Foto : Hidayatullah

 

===============================

Sumber Foto :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *