Memintal Hikmah Dari Skenario Kehidupan

Spread the love

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.

Menjadi saksi atas perubahan jalan hidup seseorang menuju pada apa yang Allah Swt. ridai, bagiku adalah sebuah anugrah yang terindah. Berkah yang membuncahkan bahagia. Cita rasa haru yang sulit terungkapkan dengan untaian kata.

”Alhamdulillah, Subhanallah, Allahuakbar!” hanya inilah untaian kata yang Aku rasa mampu mewakili gelora rasa di dada. Masya Allah!

”Kak, hari ini saya mulai masuk kerja lagi setelah cuti melahirkan. Alhamdulillah surat resign sudah saya masukkan, kak. Untuk saat ini masih tetap masuk, menunggu sampai maksimal akhir bulan juni ini. Alhamdulillah dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah Swt. Terimakasih atas doa dan suportnya ya kak. Semoga menjadi pemberat timbangan amal kebaikan bagi kakak kelak. Aminn ya Rabb…”

Sebuah pesan dari salah seorang sahabat. Kami belum lama kenal, baru hitungan bulan saja. Namun antusiasnya dalam belajar ilmu agama dan semangatnya dalam bertanya berbagai hal membuat kami terasa begitu akrab. Saling memotivasi dan menasehati pun menjadi aktivitas baru untuk kami lakukan. Meski hanya via sosial media. Bertanya kabar, minimal.

Perlahan ku baca pesan darinya. Ku ulang sekali lagi, bahkan dua hingga tiga kali. Aku kedip-kedipkan penglihatanku demi menatap layar ponsel, terasa begitu buram. Lelehan hangat justru mendobrak kelopak mata, air mataku jatuh. Jantungku berloncatan tak teratur. Ada bahagia dan haru menyatu di ruang itu. Namun, buraian malu juga turut menghambur berpacu.

Bahagia dan haru, demi menyaksikan seorang pegawai kantoran yang telah lama bermanja dengan segala fasilitas wah kini memilih jalan baru demi peroleh berkah. Mengazamkan diri untuk berlepas dari aktivitas ribawi, dengan konsekuensi harus menata hidup dari nol lagi. Tak jadi soal baginya, hal paling penting yang ia perjuangkan saat ini adalah diri dan keluarganya terbebas dari murka dan azab Illahi.

”Ya Rabb, sungguh haru alfakir menyaksikan pelajaran berharga ini. Beginilah adanya tatkala iman telah menghujam di sanubari. Manisnya sungguh melampaui segalanya. Hanya mereka yang beriman saja, yang mampu mengecapinya. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah…”
bisikku lirih di sela isak yang semakin menghentak.

Malu, ya aku juga merasakan malu yang teramat sangat. Tatkala ku baca ulang kalimat terakhir di pesan yang ia kirimkan. Ucapan terimakasih serta doa tulus darinya. Memohonkan pemberat amal soleh bagi alfakir ini, ya Rabb sungguh maluku berlipat-lipat.

Aku malu pada-Mu ya Tuhanku. Engkau yang maha tahu atas apa yang telah aku perbuat. Sungguh, tiadalah seberapa yang aku lakukan. Dengan lisan yang Engkau anugrahkan inilah, Aku terbata mencoba menjelaskan tentang keharaman riba. Dengan segala kefakiranku terhadap ilmu-Mu yang begitu luas, aku berusaha menjawab setiap pertanyaan yang ia ajukan. Ya Rabb, sungguh bukan karenaku. Semua ini adalah karena pertolongan-Mu, Engkaulah yang memberikan hidayah dan kemudahan bagi siapa saja yang engkau kehendaki. Allahuakbarr! Selalu menyeruak haru setiap kali menyaksikan kemahabesaran-Mu ya Rabb.

Dibalik rasa malu yang bertalu-talu, Aku mencoba untuk memintal hikmah atas skenario yang berlaku. Bahwa mudah bagi Allah Swt. jika Ia menghendaki segenap manusia menjadi beriman pada-Nya. Hanya saja, Allah Swt. inginkan ujian bagi manusia di dunia.

Allah Swt. ingin melihat hamba-hambaNya yang berikhtiar untuk menjemput hidayah-Nya. Allah Swt. juga ingin menyaksikan hamba-hambaNya yang berlomba untuk mendakwahkan perintah-Nya. Inilah ladang amal yang Allah Swt. sediakan bagi kita. Sehingga ada kesempatan bagi kita untuk meraup pahala darinya.
Jika demikian, maka sejatinya bukan Allah Swt. yang membutuhkan kita. Akan tetapi, kitalah yang begitu butuh pada rahmat Allah Swt.

Belajarnya kita memahami Islam, giatnya kita dalam dakwah, dan ketaatan-ketaatan yang kita lakukan, itu semua adalah untuk kita. untuk keselamatan dunia dan akhirat kita. Allah Swt. tidak sedikitpun mengambil keuntungan atas apa yang kita kerjakan. Fabiayyi ‘alla irobbikuma tukadziban? Masya Allah!

Hikmah lain yang begitu terasa, sungguh kita tidak pernah tahu dari perkataan atau laku kita yang mana, saudara kita tersentuh hatinya oleh hidayah. Maka, tugas kita hanyalah terus beramal dengan laku, lisan maupun tulisan untuk menebar kebaikan Islam.

Jangan sekalipun berpikir untuk menyelisihi syariat-Nya. Berpegang teguh dengan tali agama Allah Swt., dalam suka maupun duka untuk mengemban agama-Nya. Inilah bagian kita. Adapun hasilnya seperti apa, biarlah Allah Swt. yang menetapkan atas kuasa-Nya.

Semoga Allah Swt. meneguhkan hati kita dalam keagungan Islam. Melimpahkan kesabaran bagi kita untuk senantiasa memberi nasihat kebaikan hingga akhir kehidupan. Sehingga kelak kita akan kembali dipertemukan, di surga-Nya. Insya Allah.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *