Meneguk Ibrah dari Hijrah Fest

Spread the love

 

 

Oleh : Puput Yulia Kartika, S.Tr.Rad
Koordinator SMART Muslimah Community

 

Bagai angin segar yang menyejukkan, kini pemandangan begitu indah tengah kita saksikan beberapa waktu yang lalu. Bagaimana tidak, beberapa hari lalu perhelatan akbar “Hijrah Fest” yang diselenggarakan di Senayan JCC pada tanggal 9 – 11 November 2018 itu disambut dengan antusias dari masyarakat, khususnya oleh generasi muda. Ribuan peserta datang dan mengikuti event tersebut, bahkan puncaknya pada hari ketiga peserta yang hadir mencapai 12 ribu orang. (republika.co.id, 15/11/2018)

Yang tak kalah menarik dalam acara tersebut digagas oleh para public figur yang baru saja berhijrah, sehingga membuat antuasiame masyarakat menjadi meningkat. Acara ini pun dihadiri oleh berbagai para asatidz ternama, mulai dari Ust. Abdul Somad, Ust. Adi Hidayat, KH. Abdullah Gymnastiar, Ust. Bachtiar Nasir, bahkan bisa dibilang ustadz nya anak muda saat ini juga turut hadir, yaitu Ust. Felix Siauw, Ust. Hanan Attaki, Ust. Salim A.Fillah, dan lain sebagainya. Sungguh, pemandangan yang sangat jarang terlihat, dimana berbagai para asatidz berkumpul menjadi satu dalam satu acara kajian.

Untuk mengikuti acara tersebut peserta tidak datang dengan cuma-cuma, namun harus membeli tiket masuk dengan harga yang cukup terjangkau bila dibandingkan dengan harga tiket konser musik. Namun hal itu tetap diminati oleh masyarakat, bahkan mereka rela untuk mengantri demi mendapatkan tiket tersebut. Hal ini jarang sekali terjadi, dimana para generasi muda rela mengantri dan membeli tiket ‘kajian’, sebab kebanyakan dari mereka lebih banyak tertarik dengan membeli tiket konser musik atau band kesukaannya.
Suasana acara begitu penuh dengan tuntunan syariat islam, dimulai saat penukaran tiket dimana antara laki-laki dan perempuan terpisah. Lalu ketika memasuki area tempat acara, peserta sudah diminta untuk melepaskan alas kaki sebab batas suci telah dimulai sejak pintu masuk. Setelah memasuki area, peserta dimanjakan mata oleh berbagai booth-booth yang menyediakan berbagai pakaian muslim, mulai dari gamis, baju koko, kerudung serta berbagai aksesoris lainnya. Selain itu, pihak penyelenggara pun menyediakan booth khusus untuk mengahapus tattoo, bahkan tanpa dipungut biaya sepeserpun. Dan momen yang paling indah dalam acara tersebut yaitu pada saat adzan berkumandang, seluruh aktivitas dihentikan pun termasuk di arena booth, seluruh peserta dan panitia acara melakukan aktivitas shalat secara berjama’ah.

Hangat kebersamaan pun begitu dirasakan dalam dekapan acara Hijrah Fest tersebut, para peserta yang hadir saling bersilah ukhuwah, saling menyapa dan berkenalan satu dengan lainnya yang justru hal ini mempererat tali persaudaraan. Tak peduli meski berbeda background masing-masing mulai dari orangtua, aktivis, mahasiswa dan anak muda lainnya, tetapi dengan satu niat dan tujuan yang sama mereka datang, yaitu ingin memahami Islam lebih mendalam lagi dan menginginkan perbaikan diri menuju ketaatan kepada Sang Illahi Rabbi atau yang kita kenal dengan istilah “Hijrah”.

Hijrah sendiri berasal dari proses tata kata bertahap, yaitu Haajara-Yuhaajiru-Hijrotan yang berarti berpindah atau meninggalkan. Haajara ialah tempuhan proses paling awal yang mengaharuskan adanya pengorbanan. Yakni, meninggalkan apapun yang bisa menjauhkan dari ridho Allah, karena Allah. Lalu, Yuhaajiru yaitu proses perpindahan dan meninggalkan yang terus menerus diupayakan istiqamah. Dan terakhir, Hijrotan ialah sebentuk asa yang berpindah hijrah yang berhasil move on dari satu titik tapi belum usai di titik yang lain.

Kita mengetahui, bahwa kehidupan dunia ia menawarkan begitu banyak kesenangan, kenikmatan termasuk juga ketenaran. Namun apalah arti semuanya, bila ia tak menjanjikan ketenangan dan ketentraman dalam hidup? Bila semuanya justru tak membuat diri ini menjadi semakin mendekat kepadaNya?

Belum lama ini, ada publik figur yang berasal dari Korea mati dengan cara bunuh diri. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa ia memiliki segalanya, ketenaran, kekayaan, dan ketampanan. Namun apa yang kurang? Sehingga menyebabkan ia mati dengan cara tragis seperti itu. Ternyata ia tak mendapatkan ketenangan dalam hidup.

Maka fenomena hijrah ini terjadi karena sejatinya masyarakat sudah jumud dengan ‘kehidupan kelam’ yang dilalui, merasa seperti ada yang salah dalam menjalani kehidupan ini. Maka pertanyaan muncul, sebenarnya untuk apa manusia diciptakan? Akan kemana setelah kehidupan ini berakhir?
Bila kita menilik pada Al-Qur’an yang menjadi pedoman manusia, maka kita akan kita dapati jawabannya bahwa :
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (TQS. Adz-Dzariyat : 56)
Ibadah disini tidak cuma dimaknai dengan arti sempit yaitu perihal seputar shalat, puasa, zakat, dan pergi haji. Itu memang benar, namanya ibadah Mahdah (ibadah ritual). Tapi sebenarnya aktivitas apapun yang kita lakukan bisa bernilai ibadah asalkan ia memenuhi 2 kriteria, yang pertama niatkan karena Allah. Dan kedua caranya benar (sesuai dengan syariat).

Lantas akan kemana manusia kembali? Maka akan kita dapati bahwa manusia pasti akan kembali kehadapan-Nya. Mempertanggungjawabkan semua yang dilakukan selama di dunia. Jika semua pasti akan kembali kepadanya, lalu mengapa masih bermaksiat kepada-Nya, tak mau taat dengan syariat-Nya? Maka berhijrah adalah solusi terbaik untuk memperbaiki diri sebelum pada akhirnya menghadap kepangkuan-Nya.
Hijrah memang bukan perkara yang mudah, terlebih bila kita melakukannya secara sendirian. Maka tugas kita setelah berhijrah ialah menggabungkan diri dalam jamaah dakwah, karena bersama-sama akan menambah kekuata dalam diri. ibarat sapu lidi, bila ia hanya satu maka akan dengan mudah dipatahkan. Namun, jika ia banyak maka sulit rasanya untuk dipatahkan. Begitu juga dengan berhijrah, agar tetap istiqamah maka bergabunglah dalam dakwah jama’ah. Dimana ketika berjamaah kita akan saling menguatkan satu dengan yang lainnya, dan saling mengingatkan dikala salah.

Terkadang dalam berhijrah ada saja hambatan dan aral melintang. Namun, jangan bersedih dan berkecil hati sebab disetiap kesulitan pasti Allah berikan kemudahan. Dan seperti yang Allah sampaikan dalam firman Nya :
“Dan barangsiapa yang berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan dibumi tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan disisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (TQS. An-Nisa : 100)

Maka, berhijrah menuju keadaan yang lebih baik menurut Allah harus segera dilakukan sebab sebelum semuanya terlambat, terlebih sebagai generasi muda. Karena kelak para pemuda ini lah yang akan menjadi tonggak estafet yang akan melanjutkan kembali perjuangan Islam. Menegakkan Dienullah hingga ke penjuru bumi, dan menyongsong kembali kebangkitan Islam bersama-sama. Wallahu’alam bii shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *