MENGATASI NARKOBA SEMUDAH TERSENYUM

Spread the love

Oleh : Yeni Marliani

(Komunitas Revowriter dan Muslimah Peduli Generasi)

 

Perang melawan narkoba belum sampai pada akhir cerita. Tes urine mendadak yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya mendapati lima orang PNS dinyatakan positif, walau belum diketahui senyawa yang dikandungnya. Kelima PNS tersebut mengaku sedang mengkonsumsi obat dokter sehingga perlu adanya pemeriksaan lebih lanjut. (Galamedianews.com, 9/4/18)

Belum lama, ramai artis-artis Ibu Kota pun ikut dalam jeratan narkoba. Bahkan daftar artis terjerat narkoba masih sangat panjang. Sekitar 100 selebriti terlibat narkoba ungkap Brigjen Pol. Drs Siswandi selaku Pelindung Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN). Mulai artis senior, pemula, infotainment hingga model. (viva.co.id)

Narkoba memang telah bergerilya di semua kalangan. Mulai dari artis yang borjuis, masyarakat umum hingga pemangku hukum. Anak-anak, remaja hingga orang tua. Mulai dari masyarakat yang hanya punya receh hingga masyarakat yang punya harta tak sekedar remeh temeh.

Jumlah pengguna narkoba di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang. Meningkat signifikan dari bulan Juni 2015 yang mencapai 4,2 juta orang. (Kompas.com). Sekitar 80 persen penduduk Indonesia mengetahui jenis-jenis narkoba, bahaya serta konsekuensinya. Namun pengetahuan yang dimiliki masyarakat tak membuat angka penyalahgunaan narkoba menurun. Sepanjang tahun 2017, BNN telah mengungkap 46.537 kasus narkoba di seluruh wilayah Indonesia. Dari pengungkapaHelmi : Mabu, 151,22 ton ganja, dan 2.940.748 butir pil Ekstasi dan 627,84 kilogram ekstasi cair. (IDNTimes)

Indonesia merupakan salah satu negara berpopulasi tinggi di dunia dengan jumlah penduduk usia produktif (15 hingga 64 tahun) yang sangat besar. Dengan adanya bonus demografi ini, Indonesia diuntungkan dan memiliki peluang untuk dapat menggenjot pertumbuhan produktifitas masyarakatnya. Namun pengguna narkoba paling banyak berada pada rentang usia 24-30 tahun. Rentang usia sangat produktif (Detiknews). Artinya Indonesia sudah menjadi pasar sangat potensial sekaligus produsen narkoba.

Akar Masalah

Penggagalan penyelundupan narkoba sudah sering dilakukan, mulai dalam jumlah gram hingga ton. Komunitas-komunitas gerakan anti narkoba pun banyak bermunculan. Namun kembali tak temukan solusi. Ibarat mengisi air kedalam wadah yang sudah lapuk dan penuh lubang. Satu lubang di tutup, lubang yang lain masih menganga, air jelas keluar tak tertahankan, dan wadah pun “jebol” air luber tak beraturan. Air dianalogikan dengan narkoba yang terus saja merangsek masuk ke Negeri ini, digagalkan, diungkap dan dikendalikan tapi masih saja mampu masuk dan merusak generasi bahkan meningkat setiap tahunnya.

Bukan yang lain, akar masalahnya adalah sistem yang diemban oleh Negeri ini. Kapitalisme dan Sekulerisme. Sistem Kapitalisme telah melahirkan kebebasan berkeyakinan, berperilaku, berpendapat dan memiliki harta. Akibatnya semua orang berhak berbuat apapun, tak peduli orang lain terganggu atau tidak.

Sekulerisme yang mewarnai kehidupan menjadikan agama sebagai formalitas belaka, tidak untuk difahami dan diamalkan dalam perilaku keseharian. Berkembangnya budaya permisif dan gaya hidup hedonisme (serba boleh) juga semakin memperburuk. Mengejar kenikmatan jasmani tanpa mau terikat oleh aturan Ilahi.

Sanksi kepada pelaku narkoba pun masih lemah serta tidak memberikan efek jera. Terlebih saat ini banyak artis yang terkait kasus narkoba berlomba-lomba untuk dapat lepas dari jerat hukum dan cukup dengan rehabilitasi, dengan dalih sebagai korban.

Islam Mengatasi Narkoba Semudah Tersenyum

Persoalan narkoba bukanlah teknis semata. Namun persoalan sistem. Bagaimana rakyat memiliki imunitas terhadap narkoba jika ketakwaannya tak pernah dijaga oleh negara, jika pemahamannya tipis terhadap azab Allah SWT.

Oleh karena itu perlu perubahan yang revolusioner dan sistemik. Sama halnya dengan minuman keras, narkoba pun mampu menjadi biang dari kejahatan dan kerusakan. Semua dapat dihindari oleh masyarakat yang menjaga ketakwaannya. Namun itu tak ada dalam sistem sekuler.

Hanya Islam yang mampu mengatasi permasalahan narkoba dengan benar, sesuai fitrah manusia, memuaskan akal dan mentramkan hati.

Dari sisi akidah, Islam mengajarkan bahwa setiap individu harus memiliki keimanan yang produktif di mana di dalamnya terdapat kesadaran bahwa setiap perbuatan sekecil apapun akan mendapatkan ganjaran di akhirat. Perbuatan baik ganjarannya syurga, perbuatan dosa termasuk penyalahgunaan narkotika ganjarannya siksa pedih di neraka. Jangankan jadi produsen atau pengedar, jadi pengguna saja tidak akan mau.

Dari sisi masyarakat, Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama, ketika semua sepakat memandang narkoba sesuatu yang merusak maka masyarakat tidak tinggal diam dan berupaya mencegah bersama. Ketika budaya saling menasihati ditumbuhkan maka akan ada kontrol sosial. Jika nasihat masih tidak diindahkan maka harus segera melaporkan kepada aparat yang berwajib.

Dari sisi negara, sebagai pemegang peranan penting dan strategis dalam membentuk kepribadian rakyatnya. Islam mewajibkan negara untuk senantiasa memupuk keimanan rakyatnya serta keterikatan yang kuat terhadap hukum Allah SWT. Selain itu negara dapat menggunakan berbagai sarana mulai dari pendidikan formal, non formal, media massa dan lainnya untuk menciptakan kesadaran bersama bahwa narkoba adalah sesuatu yang diharamkan dan sangat berbahaya bagi kehidupan.

Syariah Islam akan mampu menutup sama sekali peluang bermaksiat dengan narkoba. Antara lain dengan diterapkannya sistem pidana dan sanksi yang membuat jera para pelaku dan menimbulkan ketakutan bagi yang akan terlibat atau mengkonsumsi narkoba. Sanksi berupa ta’zir, hukumannya dari sisi jenis dan kadarnya diserahkan kepada ijtihad qadhi/hakim. Bentuknya bisa berupa ekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahaya bagi masyarakat. Pelaksanaan hukuman dilakukan secepatnya dan diketahui bahkan disaksikan oleh masyarakat secara langsung.

Peran negara yang seperti ini tentu tidak akan terwujud dalam tatanan sistem kapitalis. Sudah saatnya mencetak masyarakat dengan tatanan terbaik dari Sang Maha Pencipta. Allah SWT. Hanya negara  yang menjamin penerapan sistem Islam secara kaffah lah yang mampu mengatasi narkoba semudah tersenyum.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

======================================

Sumber Foto : Site Title

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *