Mengembalikan Martabat Pemuda

Spread the love

Oleh: Shafayasmin Salsabila*

MuslimahTimes– Darah muda, bergelora bersama tingginya rasa keingintahuan serta senang dengan hal yang menantang. Namun, jika tidak dibarengi dengan kekokohan iman, niscaya masa depan suram mengintai di hadapan.

Seperti yang terjadi di daerah Balikpapan. Dikutip dari Okezone.com (28/7/2019), remaja berusia 18 tahun nekad membunuh bayi perempuannya sesaat setelah dilahirkan di dalam toilet Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Beriman. Mulut bayi tersebut di sumpal dengan tissu toilet dan pusarnya di cabut.

Tindakan sadis itu dilakukan karena pelaku belum siap menikah dengan pacar yang menghamilinya, lantaran usia yang masih belia.

Sebelumnya, di Makassar, hal serupa dilakukan oleh remaja dengan usia yang sama, 18 tahun. Pelaku melahirkan di toilet butik, tempatnya bekerja. Lalu dengan menggunakan pisau dapur, pelaku menusuk bayinya kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik dan membuangnya ke selokan. Pelaku nekat, akibat rasa malu kepada keluarganya karena bayi tersebut merupakan hasil hubungan gelap (Tribunbatam.id, 10/5/2019).

Sepanjang tahun 2017 saja, data National Programme Officer United Nations Population Fund, yang mengelola pembangunan remaja, mengemukakan angka kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 48 dari 1.000 kehamilan. Dan data terakhir menunjukkan, ada 1,7 juta remaja di bawah usia 24 tahun yang melahirkan setiap tahun. Ini seperti fenomena bola salju, yang setiap saat semakin bertambah besar. Ada apa sebenarnya dengan generasi muda kita?

//Minimalis dari Agama//

Maraknya kehamilan di luar nikah yang berujung pada pembunuhan bayi, menandakan telah terjadi krisis moral akut pada diri remaja. Salah asuh dan salah didik, serta arus liberalisasi, menyeret para remaja pada kubangan lumpur, menenggelamkan masa depan mereka.

Kehidupan sekular, menjauhkan agama dari kehidupan, menjadikan remaja sebagai korban. Remaja akhirnya jauh dari Islam. Kehilangan jati dirinya sebagai sosok Muslim dan Muslimah, pemegang tongkat estafet perjuangan Rasulullah Saw. Jangan harap mereka berkenan untuk larut dalam meninggikan syiar Islam, terhadap diri sendiri pun, remaja miskin rasa tanggung jawab, pendek akal.

Kerangka berpikir mereka, luput dari idealisme Islam. Berburu kesenangan, menjadi passion remaja kebanyakan. Halal haram perbuatan, tidak dijadikan pertimbangan. Hawa nafsu menjadi teman, Alquran tidak dikenali sebagai pedoman keseharian. Pergaulan bebas yang kental dihadirkan oleh sistem rusak saat ini, memenuhi benak remaja dengan syahwat, sehingga amat mudah mereka terjerumus ke lembah maksiat. Padahal kenikmatannya sesaat, tapi mampu menghancurkan keseluruhan sisa usia bahkan tak selamat pula, akhiratnya. Lalu di mana peran negara sebagai pengayom rakyat, termasuk remaja?

//Membalik Keadaan//

Secercah harapan, belumlah padam. Masih ada cara untuk membalikkan keadaan. Seperti yang telah Allah Swt nyatakan dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Kuncinya ada pada keinginan besar menuju perubahan. Jangan dulu skeptis apalagi apatis. Untuk mencapai keberhasilan dalam mengubah kondisi remaja yang dilanda krisis, remaja butuh dibengkelkan moralnya. Dengan menamkan keimanan serta pembentukan karakter yang kuat. Di sinilah pentingnya pembinaan. Yakni sebuah mekanisme untuk menempa kepribadian Islam dalam diri para pemuda. Mereka akan dipahamkan tentang pola pikir dan pola sikap Islam. Dituntun untuk kembali menemukan jati dirinya. Dan hal ini tidak akan mampu terealisasi sempurna tanpa kendali penuh dari negara.

Berikutnya negara pun memberlakukan sistem pergaulan Islam. Interaksi antarlawan jenis akan di atur serapih mungkin, sehingga terhapuslah pergaulan bebas. Konten pornografi diblokade, media dan arus informasi dijaga agar tidak menjadi liar. Hanya untuk sarana edukasi semata, karena penjagaan atas akal menjadi perhatian negara.

Begitu krusial peran negara dalam perbaikan kualitas generasi muda. Tentu jika negara serius menawarkan obatnya, yakni dengan penerapan sistem Islam dalam setiap aspek kehidupan. Generasi muda kembali kepada fitrahnya, menjadi bermartabat dengan kepribadian Islam yang melekati keseharian. Tak ada lagi gaul bebas, hamil di luar nikah apalagi pembunuhan bayi. Benaknya dipenuhi keinginan berkarya, sikapnya penuh wibawa, berani berbuat, harus berani bertanggungjawab dunia akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *