Menjadi Ibu Berkarir Surga

Spread the love

Oleh : Triana Nur Fausi

(Founder Komunitas Penulis Peduli Umat – Kota Malang)

 

#MuslimahTimes –– Maju mundurnya suatu bangsa karena peran seorang ibu. Jika para ibu rusak maka rusaklah bangsa tersebut, dan jika para ibu memaksimalkan perannya sesuai Syariat Islam maka majulah bangsa tersebut.

Menyandang predikat menjadi seorang ibu memang menjadi kebahagian bagi seorang wanita yang telah membina mahligai rumah tangga. Dengan hadirnya buah hati diharapkan mampu menambah keindahan berkeluarga. Hanya saja untuk saat ini banyak wanita di Indonesia yang lebih memilih menitipkan buah hati mereka karena kesibukan bekerja.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa prosentase tenaga kerja formal untuk wanita dari tahun 2015 hingga tahun 2017 selalu mengalami peningkatan. Tahun 2015 tercatat jumlah tenaga kerja formal wanita adalah 37.78 %, tahun 2016 meningkat menjadi 38.16 %, tahun 2017 meningkat menjadi 38.63 %. (www.bps.go.id)

Data peningkatan diatas menunjukkan bahwa pilihan menjadi wanita karir lebih diminati dari pada menjadi wanita yang memaksimalkan perannya di dalam rumah. Dengan alasan untuk membantu perekonomian keluarga akhirnya perempuan keluar rumah untuk bekerja. Beban ekonomi yang semakin berat dan gaya hidup yang konsumeris menjadi faktor yang mendorong perempuan untuk terjun menjadi wanita karir. Tingginya keinginan perempuan untuk bekerja membuat mereka kehilangan pertimbangan sampai mereka membiarkan diri mereka menjadi korban eksploitasi di dunia industri yang hanya memandang perempuan sebagai obyek untuk meningkatkan penjualan produk atau mengembangkan bisnis. Lihat saja cara perempuan diangkat sebagai model iklan dengan mengenakan pakaian seksi dan memerankan pose merayu yang akhirnya mengubah perempuan menjadi simbol seks. Selain itu besarnya jumlah karyawan perempuan dibandingkan dengan karyawan laki-laki di pabrik industri juga menunjukkan bahwa perempuan menjadi korban dari eksploitasi.

Alih-alih karena ingin disamakan dengan lelaki, maka banyak perempuan yang menuntut kebebasan dengan harapan bisa lebih berkarya dan mengembangkan potensinya di dunia publik dari pada berdiam dirumah menjadi wanita yang mengurus rumah tangga. Hal ini muncul dari ide feminisme yang menyuarakan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Di barat gerakan feminisme muncul sebagai bentuk perlawanan dari kekerasan terhadap perempuan. Para kaum feminis juga memandang bahwa perempuan yang tidak bekerja sama saja tidak diberi kebebasan untuk berkarya, di rampas hak-haknya untuk mengembangkan potensinya, serta sebagai bentuk kemunduran bagi perempuan, padahal pandangan ini belum tentu benar.

Maka tidak heran untuk saat ini banyak sekali ditemui perempuan yang lebih senang bekerja dari pada mengurus rumah tangga. Para ibu yang sibuk bekerja cenderung mengabaikan komitmen dan tanggung jawab terhadap suami dan anak-anak mereka.  Ada juga kasus di mana perempuan harus berpindah tempat dan meninggalkan keluarga mereka untuk jangka waktu tertentu demi karir mereka.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa kasus perceraian juga meningkat karena faktor suami dan istri tidak menjalani kehidupan yang harmonis lagi. Pergaulan ditempat kerja yang bebas juga memicu terbukanya pintu-pintu maksiat. Hal tersebu juga berdampak pada meluasnya penyakit sosial di kalangan remaja karena runtuhnya kondisi keluarga mereka. Sebagaimana mestinya perempuan pasti memainkan peran penting dalam mendidik moral dan perilaku anak-anak mereka di rumah, tapi sayangnya peran ini sedang diabaikan oleh sebagian besar ibu-ibu.

Banyak ditemui kasus kenakalan remaja seperti pergaulan bebas, hamil di luar nikah, LGBT, narkoba dan tawuran adalah bentuk dari kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya. Salah satunya dipicu dari sibuknya para ibu dalam bekerja sehingga kontrol terhadap anak berkurang, padahal peran seorang ibu adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Pemanfaatan tenaga kerja wanita dalam dunia industri sekarang ini kental dengan eksploitasi yang merupakan penindasan terhadap perempuan, dan jargon kebebasan untuk perempuan yang disuarakan kaum feminis hanyalah fatamorgana saja.

Sungguh telah jelas bahwa  feminisme adalah bentuk kemunduran bagi perempuan. Femisnisme lahir dari sistem kapitalis sekuler yang menjadikan perempuan sebagai obyek untuk meningkatkan penjualan suatu produk. Feminisme berkembang di Barat karena menjauhkan agama dari kehidupan sehingga tidak heran bila peradaban Barat sangat bebas dan tidak memuliakan perempuan.

Kemuliaan bagi perempuan hanya bisa didapat bila sistem yang menopang dalam sebuah negara adalah sistem yang menempatkan perempuan pada tempatnya, memberikan ruang bagi perempuan untuk berkarya tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai ibu yang mendidik putra-putrinya untuk menjadi generasi emas harapan bangsa. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam yang memuliakan dan mensejahterakan perempuan.

Di dalam Islam kewajiban utama bagi seorang perempuan yang telah berkeluarga adalah mengurus rumah tangga, melayani suami serta mendidik putra-putri mereka agar paham Islam.  Kewajiban diatas merupakan karir terbaik yang jika dilakukan oleh seorang perempuan sesuai syariat Islam maka akan berbuah surga. Seorang perempuan yang memutuskan menjadi Ibu rumah tangga bukanlah  perempuan yang hina namun justru perempuan yang luar biasa. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga, melayani suami dan mendidik putra putri agar kelak menjadi generasi pejuang Islam bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak ada hari liburnya, jam kerjanya 24 jam, namun jika dikerjakan secara ikhlas tentu pahalanya akan berlimpah.

Islam tidak melarang perempuan untuk bekerja dan berkarya didepan publik, hanya saja Islam mengatur dengan sedemikian rinci dalam bentuk syariat Islam agar para perempuan tidak menjadi korban eksploitasi. Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bahwa para perempuan bisa menjadi maju dan mulia serta tidak tertindas saat Islam diterapkan secara sempurna oleh sebuah negara.

Sebut saja Fatimah al-Fihri, Maryam astrolobi mereka adalah contoh perempuan muslimah yang tetap berkarya di depan publik ketika syariah Islam diterapkan.  Sistem Islam juga akan melahirkan generasi-generasi emas karena para perempuan tidak meninggalkan perannya untuk mendidik putra-putri mereka supaya taat kepada Allah Swt. Sebut saja Imam Syafi’I, Muhammad Al-fatih, Sholahudin al-Ayubi dan masih banyak yang lainnya yang mereka adalah contoh generasi emas yang lahir dari seorang ibu yang tidak meninggalkan perannya sebagai pendidik yang utama dan pertama. Sungguh karir terbaik seorang perempuan adalah menjadi ibu yang memaksimalkan perannya sesuai Syariat Islam yang hal tersebut akan mengantarkannya ke surga. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi seorang perempuan jika ingin mulia maka harus tunduk dan kembali kepada syariah Islam yang diterapkan secara sempurna oleh Negara.

 

One thought on “Menjadi Ibu Berkarir Surga”

  1. Bagus sekali, tulisannya sgt menginspirasi.

    Pekerjaan ibu rumah tangga jarang mendapat sorotan dari pemerintah sehingga ‘profesi ‘ ini menjadi kurang diminati kaum wanita, padahal perannya sgt penting dlm membangun sebuah keluarga bahkan peradaban sebuah negara. Seandainya pemerintah sering mengedukasi ‘profesi’ ini kpd rakyat bahkan menyediakan jurusan khusus dlm jenjang pendidikan bahkan hingga Perguruan Tinggi, mgkn paradigma kaum wanita saat ini akan berubah. Namun sepertinya hal itu mustahil, krn pendidikan saat ini (dan sistem negara yg kapitalistik) lbh mendidik pelajar memiliki otak kapitalis, inginnya stlh selesai belajar bs lgsg kerja cari duit entah krn tuntuan kebutuhan atau keinginan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *