New Zealand Berdarah

Spread the love
Oleh: RanyasSifa
#MuslimahTimes — Pada hari Jumat tanggal 15 Maret 2019 dunia kembali dikejutkan dengan aksi kejam penembakan yang terjadi di New Zealand. Pada pukul 13.40 waktu setempat telah terjadi penembakan beruntun yang dilakukan di dua mesjid. Penembakan pertama terjadi di Masjid Al Noor di pusat Kota Christchurch, sedangkan penembakan kedua di Masjid Linwood di pinggiran kota. Saksi mata, Len Peneha mengatakan dia melihat seorang pria berpakaian hitam memasuki Masjid Al Noor dan kemudian mendengar puluhan tembakan, diikuti oleh orang-orang yang berlari keluar dari masjid dengan ketakutan. Dia juga melihat pria bersenjata itu melarikan diri sebelum layanan darurat tiba di masjid tersebut. Akibat penembakan yang dilakukan oleh pelaku dilaporkan bahwa 50 orang dipastikan tewas dan 36 orang lainnya mengalami luka serius.
Menanggapi kejadian tersebut perdana menteri New Zealand Jacinda Ardern langsung memberikan respon. Ardern mengatakan bahwa penembakan masjid di kota Christchurch menjadi salah satu hari terkelam di Selandia Baru. Dan yang akan terkena dampak dari aksi teroris tersebut adalah migran atau pengungsi.
“Mereka telah memilih untuk menjadikan Selandia Baru sebagai rumah mereka dan itu adalah rumah mereka. Mereka adalah kita,” lanjut Ardern (m.tribunnews.com).
Lalu sebenarnya siapa sosok pelaku aksi kejam tersebut? Polisi telah menahan tiga pria dan seorang wanita pelaku penembakan di Masjid New Zealand. Satu diantara pelaku penembakan di Masjid New Zealand yakni identitasnya telah diketahui bernama Brenton Tarrant seorang warga negara Australia. Brenton Tarrant juga telah menulis manifesto setebal 73 halaman yang mengutarakan niat kejamnya. Bahkan saat melakukan aksi kejinya, Brenton melakukan siaran secara langsung di akun media sosialnya. Dia tenggelam dalam ideologi neo fasis selama perjalanannya ke Eropa. Saat berada di pengadilan, pria bersenjata di belakang pembantaian 50 orang di dua masjid Selandia Baru menunjukkan tanda kekuasaan kulit putih. Tarrant sendiri tidak masuk dalam daftar pengawasan teroris dan terlihat tak punya sejarah kriminal (m.cnnindonesia.com).
Mengapa yang ditargetkan dalam serangan Brenton adalah kaum muslim? Padahal Kelompok Muslim mulai hadir di Selandia Baru sejak abad ke-19. Peter Lineham dari Massey University dalam tulisannya “Islam in New Zealand: Historical Demography” mengatakan umat Muslim sudah ada di Selandia Baru pada 1855. Penduduk Muslim pun terus meningkat menjadi 39 orang pada sensus 1878 di Selandia Baru. Populasinya makin bertambah seiring masuknya imigran lainnya. Tercatat pada tahun 1979 terdapat 2.000 Muslim di seluruh Selandia Baru. Perwakilan dari tiga Asosiasi Muslim utama di negara itu lalu membentuk “Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru” pada bulan April 1979 dan menunjuk Mazhar Krasniqi, seorang kelahiran Kosovo, sebagai presiden asosiasi tersebut. Muslim Selandia Baru diprediksi bakal mencapai 100.000 jiwa pada tahun 2030, menurut The  Journal of Muslim Minority Affairs (tirto.id).
Walaupun kejadian penembakan tersebut pertama kali terjadi di New Zealand dan menimpa kaum muslim, namun tentu bukan kali ini saja kaum muslim menjadi target bulan-bulanan bagi pelaku teror. Lihat saja kondisi muslim Uighur di Xinjiang, muslim Rohingya dan kondisi umat muslim di Palestina dan Suriah. Kondisi yang memprihatinkan hampir dialami oleh kaum muslim di belahan dunia lainnya. Padahal jumlah mereka sangat banyak. Benarlah sabda Rasulullah Saw, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).
Kaum muslim sekarang ini bagai anak ayam kehilangan induknya. Mereka bingung harus berlindung kepada siapa. Harus meminta pertolongan kepada siapa. Nasib mereka terkatung-katung. Tidak tentu arah. Seolah tidak ada tempat yang aman untuk mereka tinggali. Lalu mau sampai kapan kondisi ini terus berlanjut?
Umat muslim butuh persatuan. Persatuan akidah dan kepemimpinan. Umat muslim butuh tentara yang akan membebaskan mereka dari rasa takut dan ancaman dari para pembenci Islam. Umat muslim butuh perisai. Yang dengan perisainya, umat berlindung dibelakangnya dan perisai menjadi garda terdepan dalam memberikan perlindungan kepada mereka.  Dan perisai itu hanya bisa terbentuk di dalam sistem pemerintahan Islam yang disebut Khilafah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *