Pendidikan Disekulerisasi, Tak Hanya Mengancam Generasi!

Spread the love

Oleh : Yulida Hasanah

(Forum Silaturahmi Ustazah dan Muballighoh, Tinggal di Jember Jawa Timur)

#MuslimahTimes –– Wacana anti Islam kembali menghangat. Kali ini, wacana tersebut menghampiri dunia pendidikan di negeri ini. Adanya pernyataan yang disampaikan oleh Chairman Jababeka Group, S.D Darmono usia acara bedah bukunya yang ke-6 berjudul ‘Bringing Civilizations Together’ di Jakarta, Kamis kemarin (4/7/2019).

S.D Darmono menyampaikan bahwa pendidikan agama tidak perlu di ajarkan di sekolah dan cukup diajarkan orangtua masing-masing atau lewat guru agama di luar sekolah, alasannya karena agama sering dijadikan alat politik. Dan sebagai pengganti dari pelajaran agama menurutnya adalah dengan mapel budi pekerti. Jadi menurutnya, karena pendidikan agama telah menjadikan sekolah menciptakan perpecahan di kalangan siswanya.(JPNN)

Sebelumnya, masalah penghapusan pendidikan agama juga pernah diwacanakan oleh Sekretaris Jendral Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia dan kembali diwacanakan oleh Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani beberapa bulan lalu. Yang pada intinya, jika ingin Indonesia maju dan berkembang, pendidikan agama Islam harus dihapus.

Dari berbagai wacana yang sempat viral tersebut, telah memberikan warna bagi opini yang berkembang di Indonesia akhir-akhir ini. Agama yang mengarah pada Islam telah menjadi sorotan sebagian kalangan sebagai ancaman bagi Indonesia. Jika memang benar demikian, apakah karena Islam di Indonesia semakin sukses memikat hati umatnya untuk menjadikan agama sebagai ‘ruh’ baru bagi kemajuan negeri mayoritas muslim ini?

Ataukah karena adanya pendidikan agama, Indonesia saat ini telah menjadi negara yang terkenal akan utang luar negerinya yang semakin membengkak, juga menjadi negeri lahirnya koruptor-koruptor politik yang hebat, dan karena agamakah negeri ini mendedikasikan tanah airnya untuk para investor asing dan aseng?

Jika agama dirasa sebagai sumber dari permasalahan yang kerap terjadi di neger ini. Maka, pendapat ini hanya muncul dari para pengusung sekulerisme yang menginginkan agama dipisahkan dari kehidupan, baik dalam dunia politik maupun dalam dunia pendidikan. Jadi, wacana menghapuskan pendidikan agama di sekolah hanyalah wujud dari sekulerisasi nyata yang semakin menjauhkan generasi kita dari kemuliaan.

Bahkan tak hanya akan mengancam kerusakan generasi, dihapusnya pendidikan agama di sekolah akan melahirkan permasalahan baru berupa dicabutnya keberkahan ilmu yang selama ini didapatkan oleh generasi negeri ini. Dari sinilah awal dari kehancuran sebuah negeri yang dimulai dari rusaknya generasi.

Agama, Pondasi Sekaligus Solusi!

Memang benar, agama adalah pondasi dari kehidupan manusia. Kehidupan manusia bisa tegak berdiri dengan kokoh jika agama menjadi pondasi hidupnya (Aqidah ruhiyah). Sebab, pondasi agama berupa aqidah adalah perkara asasi yang harus dibangun dalam diri generasi muslim. Denganya, generasi kita mampu menentukan tujuan hidupnya, dan dengannya pula generasi memiliki visi misi yang jelas untuk apa mereka hidup di dunia, untuk apa pula ilmu yang mereka pelajari. jadi, aqidah Islam adalah pondasi agama yang membentuk generasi tak hanya cerdas di bidang sains teknologi, namun juga  menjadi pribadi sholih yang betaqwa.

Imam syafi’i mengatakan, “Sungguh pemuda itu distandarisasi dari kualitas ilmu dan ketaqwaannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya. Ia tak layak disebut pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan (syubbanul yaum rijalul ghod).”

Bahkan Allah SWT juga telah mengingatkan pada kita agar tidak meninggalkan generasi yang lemah iman, lemah ilmu, dan lemah ekonomi.

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka bertutur kata yang benar.” (TQS. An-Nisa ; 9)

Selain itu, agama bukan hanya sebagai pondasi hidup manusia, namun juga sebagai solusi bagi seluruh permasalah hidup manusia (Aqidah siyasiyah). Oleh sebab itulah, agama dalam hal ini Islam sebagai agama paling sempurna yang telah Allah turunkan melalui Rasulullah Muhammad Saw, memuat aturan yang lengkap,sempurna dan paripurna mulai dari aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Rabbnya, tercakup dalam urusan aqidah dan ibadah. Juga memuat aturan yang mengatur manusia dengan dirinya sendiri (sebagai pribadi), tercakup dalam masalah makanan, minuman dan pakaian. Dan kesempurnaan Islam juga terdapat dalam aturan yang mengatur manusia dengan sesamanya, tercakup dalam urusan politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Inilah kesempurnaan Islam sebagai solusi bagi kehidupan manusia, jika Islam diambil tak sekedar sebagai aqidah ruhiyah, namun juga diterapkan sebagai aqidah siyasiyah. Maka, pendidikan agama bagi generasi kita adalah perkara pokok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan hanya perkara pokok yang harus ada dalam kehidupan keluarga.

Menjadikan pendidikan agama sebagai perkara pokok yang harus diwujudkan oleh keluarga, sekolah dan negara adalah langkah awal mewujudkan generasi muslim di Indonesia menjadi generasi terdepan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Langkah ini juga sebagai jawaban atas permasalahan yang menimpa generasi kita hari ini.

Jadi, penghapusan pendidikan agama di Indonesia bukanlah solusi bagi kemajuan negeri ini. seharusnya, pendidikan agama ini semakin disempurnakan dengan memahamkan generasi bahwa agama bukan hanya sekedar pondasi (aqidah ruhiyah), namun juga solusi (akidah siyasiyah).

Wallaahua’lamu bish shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *