Politik Belah Bambu Lewat Narasi Islam Garis Keras

Spread the love

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

(Penulis Buku dan Member Revowriter Tangerang)

MuslimahTimes– Pakar hukum tata negara, Prof. Mahfud MD baru saja mengeluarkan sebuah pernyataan yang kontroversial. Betapa tidak, dalam sebuah wawancara, beliau mengatakan, “….Tetapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat-tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap sebagai provinsi garis keras dalam hal agama misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga…..”

Ada narasi garis keras dalam hal agama yang beliau gulirkan. Jelas hal tersebut merupakan upaya politik belah bambu terhadap umat Islam.

Padahal hakikatnya umat Islam adalah umat yang satu. Tidak ada pendikotomian di tubuh umat Islam. Namun faktanya, sistem liberal dengan asasnya sekularisme senantiasa berupaya melakukan ‘pecah-belah’ terhadap kesatuan tubuh umat Islam. Salah satunya dengan membangun narasi Islam garis keras versus Islam moderat.

Dalam politik belah bambu tersebut, Islam garis keras diposisikan sebagai objek yang ‘diinjak’. Sementara Islam moderat diposisikan sebagai objek yang ‘diangkat’. Dan istilah Islam garis keras dilekatkan pada upaya-upaya penerapan syariat Islam dalam institusi negara, menolak ide-ide Barat, dan berupaya menjalankan ajaran Islam secara sempurna. Sementara Islam moderat dilekatkan pada sikap toleran terhadap ide-ide barat. Sungguh ironis!

Pendikotomian demikian sejalan dengan apa yang tertulis dalam dokumen Rand Coorporation, lembaga Think Tank AS. Jelaslah bahwa ada upaya sistematis dalam melakukan politik belah bambu ini terhadap umat Islam.

Dampaknya, politik belah bambu ini akan menjadikan umat Islam terbelah dalam dua kelompok. Dan bahayanya umat akan terjebak pada opini sesat yang sengaja diciptakan tentang Islam itu sendiri. Ya, Islamophobia.

Umat akan dibuat takut menjalankan ajaran Islam yang apa adanya (kaffah). Lebih-lebih memperjuangkannya. Karena jelas akan diberi stempel ‘garis keras’ oleh sistem yang ada. Akhirnya umat lebih berbangga menampilkan diri sebagai Islam moderat yang memang digambarkan sebagai Islam berwajah damai, manis, dan toleran.

Sungguh, penderasan narasi Islam garis keras merupakan bahaya laten bagi umat. Oleh karena itu, sudah saatnya umat mengikatkan diri pada tali agama Allah dan bersatu dalam ikatan mabda Islam saja, tidak mudah terjebak oleh propaganda musuh-musuh Islam yang senantiasa berupaya memecah belah kaum muslimin.

Allah swt berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. [Ali Imran: 103]

[Fz]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *