Ramadan, Menyemai Hati Yang Selesai

Spread the love

 

Oleh: EL Fitrianty (penulis buku anak)

Alhamdulillah kita masih diberikan nikmat hidup dan napas oleh Allah SWT sebagai bekal ibadah kita kepada-Nya. Kita juga diberi kesempatan mereguk nikmatnya bulan Ramadan. Banyak sekali kemuliaan pada bulan ini. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita tak melewatkan bulan mulia ini begitu saja.
Bulan Ramadan adalah momen implementasi peringatan dan kabar gembira dari Allah SWT.
Sebagai peringatan, ya, kita harus berhati-hati. Puasa bukan sekadar menahan haus dan lapar, namun juga menjaga diri dari hal-hal yang tak berguna. Banyak orang yang lapar dan haus tapi tetap melakukan perbuatan dosa. Siapakah mereka? Yang pertama adalah orang yang berdusta. Maka berhati-hatilah dengan lisan kita. Allah SWT berfirman: “Terkutuklah orang yang banyak berdusta” (QS. Adz dzaariyaat:10)

“Suatu khianat besar jika kamu berbicara pada kawanmu dan dia mempercayaimu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong padanya.”
(HR. Ahmad &abu dawud)

“Seorang mukmin memiliki tabiat atas segala sifat aib, kecuali khianat dan dusta.”
(HR. Al baazaar)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a,
dari Nabi saw. bersabda: “Hendaklah kalian bersikap jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan dapat mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ditulis sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta dapat menyeret kepada kejahatan dan kejahatan dapat menyeret ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta,”
(HR Bukhari [6094]).

Yang kedua, yang termasuk perbuatan dosa adalah berkata keji dan kotor.
Al Imām Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya, dimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat di timbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.”
(Hadīts Riwayat At Tirmidzi nomor 2002, hadīts ini hasan shahīh, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahādīts Ash Shahīhah no 876)

Selain sebagai peringatan, bulan Ramadan juga sebagai kabar gembira untuk orang-orang beriman. Ketika kita mampu melaksanakan ibadah-ibadah mulia di bulan ini, maka kita mendapatkan predikat takwa. Muttaqin. Tak ada predikat yang lebih tinggi dari predikat tersebut.

Di bulan yang berkah dan penuh rahmat ini ada ampunan dan cinta dari Allah SWT. Dosa kita kepada Allah SWT sangat mungkin bisa kita lebur langsung kepada-Nya dengan taubat yang sungguh-sungguh.

Namun, bagaimana dengan dosa kita kepada orang lain? Di sinilah kita harus saling membebaskan dan mengikhlaskan. Saat berinteraksi atau bermuamalah dengan orang lain, tanpa kita sadari mungkin banyak salah dan khilaf, baik dari kita atau orang lain kepada kita.
Kekhilafan semacam ini tidak dapat dilebur dosanya, kecuali dengan saling memaafkan.

Memaafkan adalah perbuatan mulia. Kemaslahatan yang dihasilkan sangatlah besar. Allah SWT berfirman:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

Semoga kita mampu mengisi bulan Ramadan dengan jiwa yang bersih. Berusaha dan belajar memaafkan. Karena jiwa yang memaafkan, mampu menyemai hati yang lapang nan terjaga. Mengejar takwa, semata hanya menginginkan rida-Nya. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *