Resensi : Muhammad Saw The Super Parent

Spread the love
Judul Buku: Muhammad Saw The Super Parent
Penulis: Rahmat Hidayat
Tahun Terbit: 2015
Hal: 187
Penerbit: Zahira
Peresensi: Trisnawati

Jika seorang ibu yang profesinya sebagai guru atau pendidik ditanyakan mana yang lebih sulit mendidik anak orang lain atau anak sendiri. Maka kebanyakan dari mereka pasti akan menjawab lebih sulit mendidik anak sendiri.

Saya pun  sempat kewalahan dalam menghadapi anak sendiri. Kala teori yang dimiliki telah disalurkan kepada anak namun anak tak serta merta merespon apa yang saya harapkan.

Mungkin sama halnya dengan para orang tua, guru, dosen, praktisi pendidikan bahkan para ustad diberbagai lembaga pendidikan yang sebenarnya secara keilmuan tidak diragukan lagi, terutama untuk urusan mengajar anak didiknya atau santrinya, mereka memiliki ilmu yang akan disampaikan.

Saat mengajarkan tentang sedekah. Tentu yang diajarkan tentang keutamaan sedekah, “sedekah begini, akan dibalas begini” Namun mengapa ketika nabi menyampaikan itu, murid-muridnya seperti Abdurrahman bin Auf otomatis menjadi dermawan yang sangat luar biasa dan menghabiskan hartanya dijalan Allah, tetapi mengapa hal yang sama kita ajarkan kepada peserta didik tak serta merta ada yang berubah dan menjadi kepribadian mereka. Malahan ketika ingin bersedekah mereka masih mencari uang terkecil dari yang mereka miliki.

Lantas bagaimana Nabi Muhammad Saw mengajar mereka dengan penyampaikan isi (matan) hadist yang sama telah kita gunakan dalam mendidik murid atau anak kita sendiri. Ternyata kuncinya bukan pada isi hadist saja, tetapi fokusnya adalah bagaimana nabi Saw menyampaikannya (delivery system).

Dalam Buku Muhammad Saw the super Parent mengungkap bagaimana menjadi orang tua yang berakrakter, berpengaruh dan kreatif dengan metode mengajar nabi Muhammad Saw.

Setidaknya ada 4 tehnik (Motivating, Counseling, Communicating dan training) yang dijabarkan dalam buku ini. Salah satu metode nabi Muhammad Saw tidakkah menyebutkan kata “salah” untuk mengajarkan suatu pekerjaan yang “Benar”

Diriwayatkan dari Imaran bin Hushain berkata: bahwa ada seorang laki-laki datang mendekati Nabi Saw. Laki-laki itu berkata: “Assalammualaikum.” Nabi Muhammad berkata: “sepuluh” Kemudian datang lagi orang lain dan berkata: “Assalammualaikum wa rahmatullah.” Nabi Muhammad berkata: “dua puluh.” Kemudian datang lagi seseorang yang lain dan berkata: “Assalammualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Nabi Muhammad berkata: “tiga puluh.” Dari hadist ini Nabi tidak mengkritik mereka dengan mengatakan mereka memberi salam masih salah, dengan berkata: “Salah! Salah!Salam kamu salah!” ( Ini bukan cara Nabi).

Atau “Cara kamu salam masih tidak betul!” (Ini juga bukan cara Nabi). Beliau juga tidak menyuruh mereka membetulkan cara mereka memberi salam dengan berkata: “Kalau mau pahala, betulkan cara kamu memberi salam!” (Bukan cara Nabi), atau “betulkan cara kamu beri salam!” (ini juga bukan cara Nabi).

Nabi Muhammad Saw tidak mengajarkan mereka cara-cara seperti guru mengajar murid-muridnya, ataupun pun seperti guru mengajar murid-muridnya, ataupun seperti penceramah mengajar para jamaahnya, dengan berkata:
“Salam adalah doa, jadi harus betul!” (ini bukan cara Nabi) atau “ada tiga cara memberi salam yang betul!” (Ini juga bukan cara Nabi).

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Untuk menjadi guru yang dipuji, orang tua yang dibanggakan, manager dan pengusaha yang handal, pimpinan yang di bela-bela, maka belajarlah tekniknya dari Nabi Muhammad Saw. Semua terangkum dalam buku “Muhammad Saw the Super Parent”.

Bukunya color full dan disertai ilustrasi bergambar yang buat pembaca mudah memahami setiap tehniknya. Baca yuk

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *