Resensi : White, Ketika Rasa harus Memilih Antara ‘Hitam’ Atau ‘Putih’

Spread the love

PROFIL BUKU

Judul            : White, Ketika Rasa harus Memilih Antara ‘Hitam’ Atau ‘Putih’ (Inspired From  True Events)

Penulis     Nafiisah FB dan Rerencangan

Penerbit   Hatimedia

Halaman  145 hal

“Ada penantian pasangan jiwa yang selalu berujung sendu, karena sang ikhwan ternyata lebih memilih si kulit putih”.

Penggalan paragraf pertama sinopsis itu sudah membuat saya penasaran dengan isi buku ini ketika membaca nya di dinding fb teman saya. Alhamdulillah, akhirnya beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan kiriman buku ini (Horraaay….).

Gereget, campur dengan gemas setelah membaca cerita lengkap penggalan paragraf tadi. Astaghfirullah, ternyata walaupun sudah dekat dengan lingkungan yang baik dan teman-teman yang sholeh, godaan dunia yang bernama ‘wanita’ itu bisa menggoda lelaki yang berproses menjadi sholeh yang akrab di sebut ikhwan. Audzubillahiminasyaitonirrojim, Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Teman-teman penasaran…..hehehe.

Monggo, dipesan buku nya di penerbit nya hatimedia

Buku ini terdiri dari 15 cerita, masing-masing cerita berdasarkan pengalaman pribadi atau teman penulis. Tidak semua cerita di buku ini sad ending, ada juga kisah hidup seseorang yang di tuliskan di buku ini happy ending.

“Ada kejutan mengharukan kala penantian akhirnya berbuah bahagia sesungguhnya, ketika sang pujaan hati itu telah menemani saat ini. Pria yang tak pernah menyebar nama kepada para”bunga”. Dia hanya hadir dengan karya dakwahyang memantik semangat lainnya. Ah, suami tercinta. Dia yang sederhana namun kaya di jiwa. DIa yang begitu malu berhadapan dengan para hawa, namun tak pernah lupa candai istrinya”.

Ouwh, so flower. Hati wanita mana yang tidak senang bila mendapatkan jodoh terbaikNya seperti penggambaran penulis di paragraf tersebut. Hmmm, semoga tetap selalu seperti itu ya ‘teman sejati’ ku saat ini, hehehehe. Oupps, inspired tulisan di atas jelas bukan saya ya teman-teman. Saya tidak kenal dengan penulis nya, tetapi memang manusiawi jika muslimah yang sudah belajar untuk memantaskan diri menjadi wanita sholehah, berharap mendapatkan pendamping hidup yang sholeh pula, bukan.

Setelah membaca kelima belas kisah cerita di buku ini, saya semakin menyadari bahwa Allah SWT sudah memberikan aturan hidupNya bagi manusia yang komplet, lengkap dan menyeluruh. Sampai untuk menyempurnakan setengah dienNya pun ada aturanNya juga.

Saya masih ingat ketika teman saya waktu SMA adalah aktivis pacaran, teman saya ini adalah pasangan famous di sekolah, yang perempuan cantik dan yang laki-laki ganteng, weees pasangan (tidak halal) yang ideal saat itu. Pacaran mereka lama, mulai kelas 1 SMA sampai lanjut beberapa tahun setelah mereka lulus SMA. Namun, jodoh di tanganNya. Setelah penjajakan bertahun-tahun, ternyata mereka menikah dengan pasangan masing-masing saat ini. Hingga sekarang saya masih  silaturahim dengan teman SMA (perempuan) itu walaupun lewat segenggam gadged. Terakhir komunikasi dengan nya, dia sangat sedih dengan dosa-dosa nya yang ‘dulu’ , dia malu dan takut jika dosa-dosa nya  (saat pacaran) tidak di ampuni olehNya jika umur yang di berikanNya sudah diambilNya sekarang. * hiks, tiba-tiba saya jadi hampir mbrebes mili, ikut merasakan kegalauan nya*.

Nah itulah salah satu contoh dari akibat  aktivitas (baca. kemaksiatan) yang memang di larang olehNya walaupun tujuan nya untuk menggenapkan setengah dienNya.

Dalam proses ta’aruf, antara laki-laki dan perempuan akan di pantau aktivitas nya oleh seseorang atau lebih yang di sebut muhrim nya perempuan. Dari proses melihat (nadhor) kemudian meng-khitbah akan ada muhrim perempuan yang mendampingi. Jika ternyata ending nya tidak jadi menikah, kurang sreg , it’s okay aku ra popo. Galau, itu wajar tapi hanya sebentar. Karena ada keyakinan (bagi seorang muslim yang beriman) insyaAllah sudah dipersiapkan yang lebih baik oleh Allah jika kita terus belajar untuk memantaskan diri menjadi seorang muslim/ah yang kaaffah.

Saat ini di televisi (kebetulan anak saya sedang suka melihat acara di salah satu stasiun tipi yang menampilkan tujuh sesuatu yang ada di dunia ini dan saya selalu mendampingi nya), iklan produk di*t ini sering muncul, mengusik hati saya dan akhirnya mulut pun komentar. Biar teman-teman tidak penasaran, klu-nya ” ….baru kenalan, sudah ngajak komitmen…..”

Iklan tersebut (menurut saya), seperti mementahkan kan ajakan (baca. dakwah) para da’i muda yang mengingatkan untuk ta’aruf saja bukan pacaran. Sampai saya melihat broadcast  di media sosial ternyata ada buku best seller yang sekarang di filmkan ‘Aku, Kau dan KUA’ (Ini saya bukan ngiklan yaa, cuma suka dengan judul nya belum baca buku nya apalagi nonton film nya). Mungkin (menurut saya) , ada beberapa anak muda yang sedang pacaran tidak suka dengan KUA, jadi tim kreatif iklan di*t tersebut membuat narasi nya seperti itu. Wallahu’alam

” ketika penantian pasangan jiwa yang di tunggu  berakhir karena sesuatu yang sudah menjadi takdirNya. Tidak salah memang jika ikhwan itu memilih mundur, karena aku bukanlah wanita dan calon ibu yang subur. Kanker rahim stadium dua yang tanpa ku sadari ada di tubuhku, bukan berarti aku harus terus menangis dan layu. Aku harus terus tersenyum, sisa hidup dariNya harus bisa ku manfaatkan untuk fokus berdakwah untuk Islam yang kaaffah”.

” Ada senyum simpul membalut bekas nyeri karena mengingat seseorang yang seringkali mudah mengucap “Shbahul Khair ukhtiy, apa kabarmu hari ini?”. Dia yang sering menghantar sms tausyiah dengan mencantumkan nama sayang, namun ternyata setelah itu mendadak menghilang” .

Oiaaa, kembali ke buku White, dua penggalan paragraf di atas saya ambil dari dua kisah cerita di buku ini. Kesimpulan dari saya, monggo teman-teman baca. Tidak ada salah nya mengetahui kisah yang mengharu biru, menangis mbrebes mana tisu karena sudah ada yang menetes (Halaaaah lebay, tapi memang saya sampai mbrebes mili…) karena dunia ta’aruf itu tidak selama nya mulus dan SAH ( sampai akhirnya ke KUA). Manusia masih manusia bukan malaikat (tak bersayap) setiap laku dan tutur masih bisa di pelesetkan oleh syaiton yang memang di ijinkanNya untuk menggoda manusia sampai nanti hari pembalasan.

Tempat segala pinta dan harap hanyalah padaNya, untuk mendapatkan pasangan hidup sebagai partner menggapai jannahNya pun harus  sesuai dengan tuntunanNya (syar’i). Ada khilaf, ada nasehat . Ada salah, ada taubat. So, saat ini masih ada waktu untuk memperbaiki diri, untuk selalu belajar belajar dan belajar tentang Islam yang kaaffah.

Islam yang mengatur semua problematika hidup. Karena Islam bisa menjawab kegalauan hidup, sampai menjemput dan mananti pasangan hidup pun sudah di atur oleh Sang Maha Pengatur Hidup .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *