Sang Pelantang : Teknik ‘focusing of sound’ pada Arsitektur Peradaban Islam

Spread the love
Oleh : Dian H
#MuslimahTimes — Bagaimana supaya syiar dan azan terdengar lebih luas ke penjuru kota? Alih-alih membuat komponen audio atau corong-corong pengeras, masyarakat muslim mengembangkan gagasan melalui rancang bangun ruangan.
Kaum muslimin era Kekhilafahan memanfaatkan accoustic (ilmu suara) dengan memanfaatkan pantulan suara. Istilah kekinian, kita menyebutnya ‘taqniyah ash-shautiyyat al-mi’mariyah’ (teknik suara bangunan). Kita tentu ingat bagaimana prinsip-prinsip sederhana pembiasan dan efek penggunaan lensa cekung yang memusatkan cahaya. Terinspirasi dari prinsip inilah, ilmuan muslim mendesain model bangunan melalui kubah dan tiang-tiang, pojok cekung serta ventialasi yang mampu mengoptomalisasi gaung.
Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Wallace Sabine (era 1869-1919) dari Universitas Harvard yang menilai adanya perbedaan kualitas suara di auditorium dengan aula-teater.
Dengan kesyahduan dan kecanggihan matematis-arsitektur para ilmuan muslim, masyarakat bisa mendengar syiar lebih lantang. Model aristektur ini masih terus kita nikmati hingga kini, terutama di masjid-masjid dan kubah sejenis. Selamat menunggu azan di tempat masing-masing. Selamat menunggu salah satu syiar terindah di muka bumi. [] Kepustakaan : “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, Prof.Dr.Raghib As-Sirjani.
============================
Sumber Foto : Dream
(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *