Sebuah Mukjizat: Keluarnya Sesuatu Yang Hidup Dari Sumber Yang Mati

Spread the love

Oleh: Wulan Citra Dewi

Adalah Allah subhanahu wata’ala yang maha menghendaki. Ketika Dia katakan jadi, maka jadilah sesuatu itu. Tiada siapapun yang mampu menepis hal tersebut. Allahuakbar!

Pun sebuah kemustahilan bagi akal manusia, mudah saja niscaya atas kehendak-Nya. Sebagaimana yang terjadi pada seorang wanita Yahudi, Mukjizat menimpanya. Cahaya iman memancar dan menerangi sisa langkahnya. Ia mampu berjalan diantara pekatnya gulita berkat cahaya Islam. Bahkan ia, wanita yahudi yang patut berbahagia. Karena mukjizat-Nya, dirinya menjadi salah satu ummul mukminin. Sebuah gelar yang dicemburui oleh seluruh muslimah jagat raya.

Dialah Shafiyya Binti Huyay. Keturunan dari pemuka kaumnya, Yahudi Khaibar. Dihormati dan dimuliakan. Cerdas akalnya, cantik pula rupanya. Shafiyya hidup dan dibesarkan di tengah gelimang kenikmatan dan kesenangan. Perkara dunia, tiada yang kurang darinya. Namun ternyata, ada yang berbeda dari sosok Shafiyya. Nikmat materi yang berlomba mencumbui, tidak mampu membuai hasratnya. Ya, Shafiyya memaknai kenikmatan hakiki bukan pada materi melainkan pada hati.

Sebagaimana telah menjadi mahfum jamak, bahwa permusuhan Yahudi terhadap Rasulullah Shallahu alaihi wassalam serta agama Islam adalah nyata. Demikian pula halnya yang melingkupi Yahudi bani Khaibar. Kebencian dan dendam terhadap Islam terus dipupuk di jiwa-jiwa mereka. Meski sesungguhnya mereka sangat mengerti, bahwa Muhammad shalallah alaihi wassalam itu adalah benar seorang Rasul yang hakikatnya telah dikabarkan dalam kitab mereka. Namun begitulah karakter Yahudi, selalu mengingkari kebenaran dan lebih memilih memperturutkan hawa nafsu meski itu membinasakan, kan?!

Demi menilik realitas tersebut yang seolah menggambarkan manusia-manusia berhati mati, maka rasanya mustahil ketika ada seorang putri dari kaum yahudi yang berada di tengah-tengah kaum muslimin. Bukan hanya bersama dalam raga, namun jiwanyapun telah larut ke dalam telaga keimanan. Tidak terelakkan, keraguan bahkan menyusupi hati para istri Rasulullah shalallahualihi wassalam yang lainnya.

Dikisahkan, bahwa suatu ketika Ummul mukminin Shafiyyah ra. pernah menangis. Bahkan saat Rasulullah shalallah alaihi wassalam masuk ke rumahnya, tangis ummul mukminin ini belum juga reda.

”Apa yang membuatmu menangis?” Baginda Nabi menanyakan asbab kesedihan Istri Beliau.

”Hafsah mengejekku dengan mengatakan bahwa aku adalah anak Yahudi” Jawab Ibunda Shafiyya dalam tangisnya. Kemudian Rasulullahpun menghiburnya agar tidak larut dalam kesedihan.

Tidak hanya Hafsah, bahkan istri-istri Nabi yang lain pun menaruh ketidakrelaan terhadap Shafiyya. Seperti yang terjadi pada saat Rasulullah Shalallahualaihi wassalam membawa serta seluruh istrinya berhaji. Di pertengahan jalan, unta yang dinaiki Ibunda Shafiyya jatuh dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Mendapati yang demikian, Shafiyya ra. hanya bisa menangis. Hingga sampailah kabar tersebut kepada Rasulullah. Beliau mendatangi Shafiyya ra., mengusap air mata dan menenagkannya. Kemudian Rasulullah Shalallahualaihi wassalam berkata kepada istrinya yang lain, Zainab binti Jahsy.

”Berikanlah salah satu untamu kepada saudaraimu ini.” hal ini karena Rasul mengetahui bahwa Zainab memiliki unta yang cukup banyak.

Tiada disangka, Zainab menolak perintah Nabi yang tak lain adalah suaminya sendiri. ”Apakah aku akan memberikan tunggangan kepada wanita yahudimu itu!” jawabnya ketus. Melihat hal ini, Rasulullah shalallahualaihi wassalam tidak kuasa menahan amarah. Hingga Beliau tidak mau berbicara dengan Zainab. Hingga Zainab menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Beliau shalallahualaihi wassalam.

Sikap ketus para istri Nabi kepada ummul mukminin Shafiyya binti Huyyay sebenarnya bukan karena apa-apa kecuali karena kecintaan mereka kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan juga Islam. seakan mereka belum meyakini benar keimanan putri bangsawan yang berasal dari Khaibar tersebut. Hal ini terus berlangsung hingga sampailah masanya, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam membenarkan ketulusan dan keikhlasan Shafiyya dalam menggenggam iman.

”Wahai Nabi, sesungguhnya aku lebih senang jika penyakit yang dideritamu itu pindah ke tubuhku.” Shafiyya binti Huyay ra. tampak begitu sedih dengan kondisi Rasulullah shalallahualaihi wassalam yang sedang terbaring sakit.

Mendengar apa yang diucapkan oleh Shafiyya ra., istri-istri Nabi yang lain saling memberi isyarat serta mencibirnya. Rasulullah menatap mereka seraya berkata, ”Muntahkanlah!”

”Apa yang harus kami muntahkan?” mereka bertanya.

Beliau shalallahualaihi wassalam menjawab ”Cibiran kalian terhadap Shafiyya itu. Demi Allah, ia (Shafiyya) telah berkata jujur padaku.”

Masya Allah, demikianlah kesaksian Baginda Nabi atas keimanan Shafiyya binti Huyay ra. Diawali denga sumpah ”demi Allah”, perkataan manusia yang dibimbing oleh wahyu ini tidak mungkin berdusta. Ya, Shafiyya binti Huyay ra. memperoleh rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Ia adalah sesuatu yang hidup dari sumber yang mati. Allah menghidupkan hatinya dengan cahaya Iman, meskipun ia berada dalam pusaran orang-orang yang mati hatinya. Allahuakbar! Allah-lah yang maha meniupkan keimanan ke dalam hati Ummul Mukminin Shafiyya ra., hingga hatinya menjadi hidup. Sebagaimana yang telah Allah Jalla wa ‘Alaa abadikan dalam firman-Nya:

”Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-sekali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 122)
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Kita baru saja meneguk keagungan dari Ummul Mukminin Shafiyya ra. Darinya kita dapati, bahwa kemuliaan manusia terletak pada Iman dan takwanya kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Semoga, melalui kisah hidup Ummul mukminin ini, iman dan takwa kita semakin kokoh. Seraya terus membisikkan doa, ”Yaa Muqollibal qulub, tsabits qolbu ‘ala diinik…”***

Kepustakaan:
35 Shirah Shahabiyah (jilid 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *