Stigma Radikalisme; Alat Membungkam Islam

Spread the love

Oleh : Shafayasmin Salsabila

(Pemerhati Sosial Politik dan Kemasyarakatan)

 

#MuslimahTimes — Kehidupan saat ini seperti dalam film laga. Sedang seru-serunya. Mendebarkan sekaligus membuat penasaran akan seperti apa ending-nya. Pertarungan antara yang hak dan yang batil makin mengerucut. Hapir menyentuh episode terakhir.

Yang hak tentu diperankan oleh pengikut Rasulullah Saw sedang yang batil digenggam dalam kepalan musuh-musuh Islam, yakni orang-orang sekuler. Namun sejak dari dulunya, kecurangan pasti akan menjadi jalan yang dipilih oleh pihak musuh. Sadar posisinya terjepit, akal bulus dilancarkan. Kian panik, ibarat orang tenggelam, jerami mengambang pun diraihnya.

 

/ Mengecap Sepenggal Kisah Rasul /

Sebagaimana dalam shirah dikisahkan. Tatkala Abu Jahal, Abu Lahab, Abu sufyan dan para pembesar Quraisy tidak rela dengan dakwah Islam yang dianggap bertentangan dengan tradisi dan kebiasaan nenek moyang.

Mereka berada di garda terdepan, menjegal dan melakukan makar. Rasul didustakan. Dilekatkan padanya label ‘Penyihir Bayan’ dimana kata-katanya mampu menyihir siapapun yang mendengarkan, menjadikan suami berpisah dengan istrinya, anak dengan ibunya. Dianggap memecah belah persatuan dan membuat kegaduhan, dengan mempersalahkan penyembahan kepada Berhala.

Bukan itu saja, Rasul sampai dikatakan orang gila, meracau, hanya karena berita besar yang disampaikannya, bahwa akan adanya hari berbangkit dan penghisaban atas amal manusia. Rasul tak hanya dipersekusi dan dicekal dakwahnya, tapi sampai pada tindakan yang amoral. Rasul dilempari kotoran, hampir dicelakai ditengah mendirikan solat juga pernah dicekik dengan surbannya.

Lebih pedih lagi saat penduduk Thaif menghujani Beliau dengan batu-batu. Mengucurlah darah dari betis mulia itu. Hancur lebur hati Rasul. Namun dakwah untuk menyampaikan risalah tak mengenal kata pupus dan menyerah. Rasul meneruskan perjuangan. Melibas apapun yang menghadang dihadapan. Pilihannya jelas. Hingga Islam menang atau ajal menjelang.

 

/ Mengulang Sejarah /

Jika sejarah mencatat dengan jelas, dimana pada masa silam kaum kafir menjadikan propaganda sebagai salah satu cara menjegal dakwah Rasul Saw, maka kini jurus andalan tersebut kembali dimainkan.

Semakin nyaring terdengar, propaganda yang membidik Islam. Istilah radikalisme kini lekat disematkan kepada umat muslim. Mereka disasar saat berupaya menerapkan islam dalam sendi-sendi kehidupannya. Lebih parah lagi tuduhan ekstrim dan teroris kerap tertuju kepada Islam.

Padahal di dalam KBBI, kata ‘radikal’ diartikan secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Tidak ada yang salah jika seorang muslim mengamalkan islam hingga hal yang prinsip. Hanya saja istilah ini mengalami pergeseran makna. Menjadi stigma negatif yang diperuntukan kepada Islam garis keras.

 

/ Islam itu Satu /

Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Jenderal Polisi Budi Gunawan menyatakan, sebanyak 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal. (TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG). Dengan data tersebut, mari secara seksama kita mengurai benang kusutnya.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw untuk mengatur kehidupan manusia. Dalam Alquran, Allah telah memerintahkan kepada umat Muslim untuk mengamalkan Islam secara kaffah (keseluruhan).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.¬†(TQS. Al Baqarah : 208)

Itu berarti Islam bukan agama prasmanan. Mana ayat yang disuka maka diambil dan mana ayat yang memberatkan lalu dinafikan. Sebaliknya laa rayba fiih, tidak ada keraguan di dalam Alquran. Semua ayatnya adalah kebaikan. Maka tak ada pengecualian. Mendustakan satu ayat dianggap mendurhakai seluruh ayat Alquran.

Berbicara ajaran Islam. Maka cakupannya sangat luas. Bukan hanya berbicara seputar ibadah mahdhoh dan akhlak tapi juga terkait pakaian, makanan, serta segenap aturan tentang muamalah dan persanksian. Sebagai contoh, sistem politik luar negeri Islam adalah jihad. Maka ajaran tentang jihad tidak bisa dikatakan ide radikal. Rasul dan para sahabatnya melakukan jihad, lantas adakah yang berani menilai Rasul dan para sahabat sebagai muslim radikal?

Tidak ada Islam garis keras, Islam radikal, Islam moderat, Islam Nasionalis. Islam ya Islam. Tanpa ada tambahan kata setelahnya. Islam itu satu. Ajaran yang bermuara pada Alquran dan As sunnah.

Lalu, jika kampus dianggap sebagai tempat subur bagi benih radikalisme, apakah bisa juga dikatakan bahwa kampus menjadi tempat persemaian bibit koruptor? Mengingat banyak diantara para pelaku korupsi ‘dibesarkan’ di kampus ternama?

Ada baiknya untuk kita kembali menata paradigma berpikir kita. Bahwasannya, menjadi satu angin segar saat mahasiswa kembali kepada kesadaran tentang jati dirinya sebagai ‘khalifah’ fil ardh (pemimpin di muka bumi).

Saat kaum intelektual muslim kembali idealismenya, kritis dan berada di garda terdepan untuk menyelamatkan Negeri ini dari kungkungan sekulerisme lewat penerapan Islam kaffah.

Mari berpikir untuk solusi bagi Ibu Pertiwi yang selama ini terbelenggu oleh neoimperialisme dan neoliberalisme. Karena keduanya adalah musuh yang sebenarnya. Buang klaim radikalisme, islam sangat santun, tidak menyukai kerusakan dan tidak pula mengajari untuk melakukan teror ataupun kekerasan. Bukankah Islam turun dengan satu tujuan : membawakan rahmat bagi semesta alam.

Wallahu a’lam bish-shawab

 

=======================================

Sumber Foto : Tempo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *