Urusan Sampahpun, Tak Berdaya

Spread the love

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Anggota Revowriter

 

MuslimahTimes– Dalam beberapa bulan terakhir , Indonesia menerima banyak kontainer sampah impor yang bermasalah dari negara lain. Pada akhir Maret lalu misalnya, ada lima kontainer sampah impor bermasalah yang dikirim dari Seattle di Amerika Serikat ke Surabaya, Jawa Timur. Pada pertengahan Juni ini, pemerintah Indonesia telah mengembalikan lima kontainer sampah tersebut ke Amerika Serikat. Lima Kontainer itu berisi sampah waste paper terkontaminasi limbah B3.

Tak cuma di Surabaya, kontainer sampah impor bermasalah ternyata juga ditemukan di Batam, Kepulauan Riau. Dilansir Antara, tim gabungan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, dan Kantor Pelayanan Umum Bea Cukai Batam akan menindaklanjuti 65 kontainer sampah impor bermasalah yang ditemukan di Pelabuhan Bongkar Muat Batu Ampar, Batam. 65 kontainer tersebut merupakan milik dari empat perusahaan yang datang secara bertahap sejak awal Mei lalu. Namun hingga kini puluhan kontainer tersebut belum dikirimkan balik ke negara asalnya ( m.kumparan.com, 17/6/2019).

Sungguh mengherankan, masalah sampah di Indonesia sendiri adalah masalah klasik yang belum terurai, diperkirakan Indonesia akan menghasilkan sampah sekitar 66 – 67 juta ton sampah pada tahun 2019. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan jumlah sampah per tahunnya yang mencapai 64 juta ton. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan jenis sampah yang dihasilkan didominasi oleh sampah organik yang mencapai sekitar 60 persen dan sampah plastik yang mencapai 15 persen ( www.aa.com.tr,24/1/2019).

Tingginya kepadatan penduduk membuat konsumsi masyarakat pun tinggi. Di sisi lain, lahan untuk menampung sisa konsumsi terbatas. Pemerintahpun terkesan lambat menangani, baik dari sisi edukasi maupun teknis pemanfaatan teknologi, diperparah dengan kesadaran masyarakat akan kebersihan membuat persoalan sampah tak kunjung usai. Jika melihat fakta-fakta yang ada artinya, persoalan sampah dinegeri sendiri belum terselesaikan dengan baik, lantas apa alasannya sampai harus mengimpor sampah?

Kemudian diketahui sampah impor ini ternyata dibeberapa wilayah di Indonesia memang dijadikan sebagai bahan bakar industri rakyat. Seperti misalnya Industri tahu di Desa Tropodo Krian, Surabaya, Jawa Timur, diketahui menggunakan sampah impor yang didominasi plastik untuk bahan bakar proses pembuatannya . Dengan alasan bahan bakar sampah plastik lebih murah sehingga bisa membantu meringankan biaya produksi (surya.co.id, 28/6/2019).

Inilah bentuk periayaan negara dengan sistem kapitalisme. Masih saja mengejar manfaat dari sebagian pengimpor, tanpa berupaya memberdayakan berbagai solusi yang bisa dilakukan guna mengurai masalah sampah di negeri sendiri. Padahal telah banyak penemuan yang dihasilkan oleh anak bangsa terkait pemanfaatan sampah terutama sampah plastik yang membutuhan puluhan tahu agar bisa terurai sempurna.

Membiarkan rakyat menggunakan caranya sendiri, adalah bukti abainya negara mengurusi urusan rakyatnya. Padahal hal itu merugikan lingkungan dan ekosistem yang ada. Ibarat lepas dari lubang biawak namun masuk ke lubang harimau . Bisa dibayangkan berapa kerugian kelak yang lebih besar lagi yang akan ditanggung negara ketika bencana terjadi akibat terpapar polutan asap pembakaran. Dikarenakan dampak pembakaran sampah plastik apalagi bila terdapat aluminium foil, maka asapnya mengandung CO 2, H2S, Dioksin dan Furan yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Sistem kapitalisme telah menghilangkan fungsi negara mengurusi urusan umat. Negara kaya raya namun tunduk pada peraturan zalim negara lain. Hal ini akan terus berlangsung jika tidak beralih kepada sistem yang sahih. Yaitu Islam. Dimana seorang Khalifah adalah penerap hukum syara yang akan mempertanggungjawabkan amanah kekuasaan yang ada padanya dengan berupaya mensejahterahkan rakyatnya tanpa terkecuali dan tanpa tebang pilih.

Demikian pula ketika negara mengadakan perdagangan dengan negara lain, maka khalifah akan menentukan jenis barang dan dengan negara mana rakyat daulah boleh berdagang, semua berlandaskan apa yang dibolehkan atau tidak oleh Allah SWT. Karena memang hanya inilah satu-satunya jalan agar bisa kuat dan berdaya, baik ke dalam maupun ke luar yaitu ketika mempunyai landasan kokoh yakni ideologi yang sahih, yang memiliki aturan yang benar, yakni aturan Islam. Sehingga rakyatpun terurus dengan benar. Wallahu a’lam biashowab.

[Mnh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *