Valentine, Virus Perusak Generasi

Spread the love

 

Valentine. Satu kata yang sudah tidak asing lagi, terlebih di kalangan generasi muda. Sebuah kata yang di identikkan dengan cinta dan kasih sayang. Namun benarkah demikian?

Jika ditinjau dari sejarahnya, perayaan valentine tak lebih dari hari penuh maksiat. Pun demikian dengan saat ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap tanggal 14 februari penjualan alat kontrasepsi berupa kondom meningkat drastis dengan pembeli para pemuda. Untuk apa? Ini membuktikan bahwa valentine menjadi hari ajang maksiat.
Fitrah bila manusia merasakan cinta dan kasih sayang. Akan tetapi, Allah menciptakannya telah lengkap dengan aturan dalam pemenuhannya. Jika salah dalam menyalurkannya dapat menjadi kehancuran serta kerusakan pada manusia.

Allah Ta’ala berfirman,
“Siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Alquran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (TQS. az-Zukhruf [43]: 36-37)

Bak virus, valentine menyebar begitu cepat dan membelokkan pemahaman generasi muda akan makna kasih sayang dan cinta. Didukung dengan massifnya penyebaran pemahaman liberalisme/kebebasan yang menjadikan manusia menyatakan kasih sayang tanpa mengindahkan aturan agama. Akibatnya seks bebas semakin merajalela, aborsi semakin meningkat hingga kasus bunuh diri karena cinta yang salah pun banyak terjadi. Miris!

Oleh karena itu, butuh antivirus yang tepat dalam membunuh virus yang telah menyebar luas. Sebagaimana komputer bisa hang/rusak kena virus. Sama dengan manusia, jika virus budaya barat terus menjangkiti maka akan merusak dan menghancurkan generasi. Bukankah generasi muda yang akan menempati posisi strategis dalam peradaban bangsa, bagaimana jadinya jika generasi mudanya rusak?

Untuk itu, harus ada upaya serius dalam menjaga generasi muda dari berbagai serangan barat sekuler-liberalisme dibalik perayaan valentine day. Negara harus tegas dalam melarang perayaan valentine, juga seluruh komponen masyarakat. Selain itu, harus mampu memberikan antivirus yang tepat dalam mengatasi persoalan ini agar tak terulang dan generasi benar-benar steril dari berbagai virus budaya barat. Antivirus itu adalah Syariat Islam. Mengembalikan manusia pada kodratnya sebagai hamba Allah, yang senantiasa taat kepadaNya. Menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan dan sumber hukum dalam sebuah negara. Sehingga tidak hanya generasi muda yang terlindungi, juga seluruh manusia terhindar dari kerusakan dan kehancuran moral. Allahu a’lam bish shawab.[]

Penulis : Isty Shofiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *