Wanita itu Mamakku

Spread the love

Oleh : Nonik Sumarsih

(Aktivis Dakwah Surabaya / Anggota Revowriter 5)

 

#MuslimahTimes — Wanita itu tidak berpendidikan tinggi, bahkan SD pun tak tamat. Tubuhnya kecil, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek untuk seukuran wanita. Meski wanita itu telah melahirkan 5 orang anak. Walaupun salah satu dari mereka harus meninggal sebelum menjadi bayi dalam rahim. Kulitnya putih alami bukan hasil dari produk kecantikan, dan memerah ketika terpapar sinar matahari. Begitu pula rambutnya dibagian pelipis, banyak orang yang mengira ia mewarnai rambutnya padahal warna itu akibat sengatan matahari ketika ia sering pergi merumput. Meskipun demikian, sosok wanita itu hanya menimpali dengan senyuman, hanya bergumam bagaimana bisa untuk membeli cat rambut bahkan untuk makan saja dia harus sangat berhemat. Karena suaminya bukanlah golongan dari konglomerat yang hidup dengan kertas dan tanda tangan.

Aku sadar, aku sangat mencintai wanita itu ketika pelukan wanita itu jauh dari tubuh ringkih ini. Dan aku menyesal baru merasakan dan menyadarinya sepenuh hati empat tahun belakanganini. Massa dimana mata cokelat miliknya dan milikku hanya bertatap setahun sekali. Massa dimana aku harus memasak, membersihkan rumah, mencuci baju, melipat pakaian, berbelanja sendiri. Padahal semua itu hanya dilakukan sepekan sekali karena giliran piket di kontrakan yang aku tempati. Dan aku tersadar betapa repot dan riweh-nya beliau selama ini. Dan sekarangaku mulai melihat perubahan guratan wajah ayu nan alami itu. Sangat terasa ketika aku sesekali pulang ke kampung halaman. Wajahnya tak lagi sekokoh muda dulu, namun langkah kakinya tetap mantap menuruni atau menaiki bukit untuk menjajakan sayuran gendhongnya.

Aku tersadar dia wanita hebat. Meski lelah setelah berjalan menjajakan barang dagangannya namun dengan cekatan setelah sampai rumah mencuci baju memasak untuk makan siang. Selalu punya trik-trik kesabaran untuk menghadapi watak keras dan kenakalan anak-anaknya. Aku rindu sentuhan hangat melalui tangannya. Usapan yang memberi ketengan dan kehangatan dalam kalbu. Aku sangat berterima kasih kepadanya, karena entah berapa banyak aku membuatnya menangis karena kelakuanku. Tapi selalu ia berdoa untuk kebaikkanku, mendidikku dengan kebaikan yang ia pahami hingga aku seperti ini. Dan aku selalu tercengan, ketika ia mampu membuat nasi dengan kayu basah diperapian.

Wanita hebat itu adalah mamakku. Ketika aku menjadi seorang ibu nanti aku ingin bisa cekatan mengurus rumah sepertinya, bersabar sepertinya, bisa memberikan waktu untuk anak-anaknya. Mamak aku sangat mencintaimu, terima kasih untuk semuanya. Aku hanya bisa membalas dengan berusaha menjadikan diriku anak shalihah untukmu. Dengan mengkaji Islam dan mendakwahkanya. Mamak aku sangat mencintaimu, doakan aku agar bisa memahami ilmu yang sedang kucari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *