Waspada IInfiltrasi Sekulerisme Merasuki Kurikulum Agama

Spread the love

Oleh : Fatimah Azzahra, S.Pd

 

#MuslimahTimes — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH Said AqilSirodj, mendesak agar kurikulum agama dikaji lagi. Ia mengusulkan agar bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. “Saya melihat pelajaran agama di sekolah yang disampaikan sejarahp erang, misalnya perang badar, perang uhud, pantesan radikal” katanya (republika.co.id, 29/7/2018).

// Qital dan Radikal //

Dari pernyataan di atas, beliau beranggapan kisah peperangan di masa Rasulullah saw sebagai penyebab munculnya paham radikal. Radikal yang kini disandingkan dengan aksi teror. Benarkah demikian? Kisah peperangan dalam shiroh  adalah bukti aplikasi ayat-ayat Alquran tentang jihad, qital .Justru keberadaan kisah peperangan menumbuhkan ghiroh, semangat dalam benak dan dada kaum muslim. Betapa tidak, semua peperangan yang tercantum dalam shiroh bukan sembarangan perang. Tapi, perang yang dibingkai dalam syaria’t Islam. Perang yang akan membuat musuhpun terpana akan keindahan aturan perang dalam Islam. Hingga membuncah keinginan masuk ke dalam Islam. Ikut merasakan manisnya iman dan keindahannya.

Mari ingat kembali kisah Ali bin Abi Thalib. Menantu Rasul, yang juga salah satu Khulafaur Rasyidin. Diriwayatkan dalam suatu peperangan, Ali bin Abi Thalib hendak memenggal kepala musuhnya. Kemudian, musuh itu meludahi Ali hingga mengenai pipinya. Urunglah Ali memenggal sang musuh. Musuh pun heran, “Wahai Ali, kenapa engkau tak jadi memenggal kepalaku?”

Ali pun menjawab, “Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah.Tapi, ketika engkau meludahiku. Niatku membunuhmu karena marahku padamu”.

Musuh yang urung dipenggal oleh Ali pun akhirnya bersyahadat, masuk Islam.Inilah kisah nyata betapa perang dalam Islam itu justru memancarkan cahaya keimanan.

Di sisi lain, walau Islam memerintahkan untuk berjihad, melakukan qital atauperang. Semuanya dibalut aturan. Dilarang membunuh orang-orang yang tidak iku tberperang. Tidak semena-mena terhadap yang sudah mati. Tidak mencincang, tidak boleh menghancurkan tempat ibadah dan bangunan lainnya. Tidak menebang pohon dan merusak tanaman. Tidak membunuh orang yang menyerah. Memperlakukan tawanan dengan baik, menerima tawaran damai.

Dari sederet aturan tersebut jelaslah, jika radikal aka teror tidak pantas disandingkan dengan perang Islam. Jauh sekali bedanya, bagai langit dan bumi.

// Penghapusan Kisah Perang = Menghapus Ayat Qital //

Keberadaan peperangan dalam Islam adalah sebagai bukti penerapan ayat-ayat Alquran tentang qital, jihad fiisabilillah. Jika kisah-kisah ini dihapuskan dalam kurikulum pendidikan Agama, apa bedanya dengan tidak mengakui keberadaan ayat-ayat yang mewajibkan qital?

Padahal jelas sekali termaktub dalam Alquran, salah satunya, “Telah diwajibkan atas kalian berperang sementara ia begitu tidak disukai” (TQS. Al Baqarah : 216).

Kewajiban perang ini sama dengan wajibnya kita melakukan shaum Ramadhan, sholat fardhu 5 waktu, mengeluarkan zakat, menutup aurat, memakan makanan halal, dan seterusnya. Hanya saja, kewajiban qital ini tidak bisa dilakukan perorangan, atau perkelompok. Harus dalam komando negara. Jadi, tidak benar bahwa aksi teror adalah bentuk aplikasi ayat-ayat tentang jihad dan qital.

Shiroh pun menggambarkan bahwa semua peperangan itu dilakukan ketikaRasulullah saw menjadipemimpin negara. Mulai dari perang Badar, dilakukan setelah Rasul dan sahabat hijrah ke Madinah dan mendirikan negara di sana. Saat di Mekah, walau Rasul dan sahabat banyak menerima hambatan fisik, Rasul tidak melakukan perang terhadap Quraisy.

Inilah pentingnya shiroh yang utuh. Yang harusnya disampaikan kepada pelajar muslim. Bukannya dihapus, karena penghapusan akan berdampak pada ketidaktahuan pelajar muslim tentang perihal perang. Ini semakin membuka peluang bagi mereka yang ingin memanfaatkan kaum muda muslim dengan konsep jihad dan perang. Akan semakin menjerumuskan pada pemahaman yang keliru.

// Penghinaan Terhadap Ajaran Islam //

Islam, agama terakhir yang Allah turunkan ke dunia. Sudah Allah sempurnakan. Ibarat paket, maka Islam itu sudah paket lengkap. Dari A sampai Z ada .Jawaban seluruh persoalan pun ada dalam Islam. Berbekal Alquran dan hadist. Islam mengatur semua masalah kehidupan. Mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Peperangan pun diatur dalam Islam.

Penghapusan kisah peperangan, dan pengidentikan perang dalam Islam dengan radikal adalah sebuah penghinaan terhadap ajaran Islam. Karena Islam diturunkan oleh Allah swt kepadaRasulullah saw Sang Terpercaya, sudah dalam keadaan mulia. Bentuk memilih dan memilah ini adalah aktivitas yang berbahaya. Berbahaya bagi keimanan dan ketaqwaan kita. Inilah racun sekulerisme. Racun yang berusaha sekuat tenaga memisahkan agama dar isendi-sendi kehidupan. Menimbulkan rasa seolah-olah kita lebih tahu dari Allah yang mewajibkan qital .Seolah-olah yang menolak qital lebih mulia dari Rasulullah saw dan para sahabat yang dijanji surga. Yang mereka berkali-kali melaksanakan qital. Hingga tubuh pun penuh bekas luka.

Mereka tak malu dengan bekas luka karena qital. Justru berbangga karena lukanya yang akan menjadi bukti kesungguhan mereka membela agama Allah yang mulia. Mendapat tiket VIP masuk ke surga dengan gelar syuhada. Masyaallah.

Biarlah ayat ini kembali mengingatkan kita, bahwa Allah tahu yang terbaik untuk kita.

“Dan boleh jadi engkau membenci sesuatu namun sesungguhnya ia baik bagi dirimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu namun sebenarnya ia adalah buruk bagi dirimu. Dan Allah lebih mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui apa-apa.” (TQS. Al Baqarah, 2: 216)

Wallahua’lambishshawab

 

 

===========================

Sumber Foto : Belajar Tobat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *