Antara Hijaz Dan Trans Jawa

Spread the love

Oleh : Dwi Agustina Djati, S.S

(Pemerhati Berita dan Member of Revowriter)

 

#MsulimahTimes — Diberitakan sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meminta masyarakat untuk tidak menggunakan jalan tol jika tidak mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’aruf Amin di Pilpres 2019.Hal itu disampaikan Hadi saat menghadiri silaturahim Jokowi dengan paguyuban pengusaha di Jawa Tengah di Semarang Town Square, Semarang, Sabtu (2/2/2019).Hendrar hadir sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI-P Kota Semarang. Sebelum kehadiran Jokowi, ia naik ke atas panggung dan menyapa para pengusaha yang hadir. “Disampaikan ke Saudaranya di luar sana.Kalau tidak mau dukung Jokowi, jangan pakai jalan tol,” kata Hendrar. (Kompas.com, 3 February 2019)

Menanggapi hal itu, penulis Hanum Salsabiela Rais, Dilansir oleh TribunWow.com, 3 February 2019, melalui akun Twitter pribadi mereka.Hanum Rais menyindir beberapa pernyataan viral seperti #YangGajiKamuSiapa dan #RomiMakelarDoa. Hanum Rais memprediksi akan ada banyak pernyataan-pernyataan seperti itu ke depannya. Oleh karena itu, Hanum Rais meminta semuaya bersabar hingga Pemilu 17 April 2019 mendatang.”Pemimpin #JanganpakaiTOL mgkn memberi kode pd penguasa, bahwa ia sedang dibidik hukum.

Belakangan banyak pernyataan dan kelakuan para pejabat daerah, kementrian maupun pemimpin yang bikin panas mata dan hati mendidih.Dari soal impor di saat panen raya berbagai komoditi pangan hingga pencitraan turun ke kampung-kampung.Tidak mengayomi malah bikin gaduh, termasuk pernyataan Pak Walikota Semarang ini.Sungguh merindukan pemimpin Negarawan seperti Umar bin Khathab yang rela tidak tidur hanya untuk melakukan inspeksi apakah rakyatnya makan atau tidak. Umar bin Abdul Aziz yang rela hidup sederhana semata memisahkan kepentingan pribadi dengan rakyat. Khalifah al Manshur di masa Abbasyiyah yang membangun megapolitan Baghdad dengan sejumlah infrastruktur menakjubkan.Lalu berturut-turut Murad II, Muhammad Al fatih, Sulayman Al Qonuni, membangun Ottoman’s menjadi mercusuar dunia. Dan the last Khalifa Sultan Abdul Hamid II yang membangun Jalur Kereta Api Hijaz yang menghubungkan Damaskus-Hijaz-Asia Tengah  ditengah badai fitnah keruntuhan Ottoman’s. semua mereka lakukan semata untuk kepentingan rakyat dan mewujudkan peradaban mulia.

 

Infrastruktur untuk Siapa?

Sebagaimana diketahui pembangunan jalan Trans Jawa ini berlangsung dari tahun 2015-2018.Memang selama 3 tahun membangun proyek jalan sepanjang 933 Kilometer termasuk cepat.Namun jika mau dirunut ke belakang sesungguhnya pembangunan ini adalah kelanjutan dari proyek pembangunan rezim sebelumnya.Tak kurang 6 pergantian kepemimpinan, sejak masa Soeharto.

Berdasarkan data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, tol-tol Trans Jawa yang diresmikan di antaranya Jakarta-Tangerang (33 km) pada November 1984, Surabaya-Gempol (49 km) Juli 1986 dan Jakarta-Cikampek (83 km) pada September 1988. Kemudian tol Tangerang-Merak (73 km) pada Juli 1992, serta Palimanan-Plumbon-Kanci (26,3 km) Januari 1998. Ruas-ruas tol Trans Jawa selanjutnya yang dibuka baru ada pada tahun 2010. Ruas Trans Jawa baru yang dibuka di antaranya Kanci-Pejagan (35 km) pada Januari 2010, Surabaya-Mojokerto seksi 1A (1,89 km) Agustus 2011, Semarang-Solo seksi I (11 km) November 2011, Semarang-Solo seksi II (11,95 km) April 2014 dan Kertosono-Mojokerto seksi I (14,41 km) pada Oktober 2014. Dan sepanjang 2015 hingga 2018, tol-tol pelengkap Trans Jawa mulai diselesaikan.Mulai dari Cikopo-Palimanan, Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Semarang-Solo, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kertosono-Mojokerto, Surabaya-Mojokerto dan Gempol-Pasuruan. Tahun depan, satu ruas lagi tengah dikebut penyelesaiannya, yakni dari Probolinggo menuju Banyuwangi.(Detik Finance, 20 Desember 2018)

Satu sisi pembangunan ini memang melancarkan arus distribusi barang dan jasa di sepanjang Pulau Jawa, berikut arus penumpang. Namun sisi lain dan ini saya pikir penting adalah biaya yang dikeluarkan untuk dapat menikmati lancarnya arus tersebut. Tarif tol tidak murah, dampak selanjutnya adalah pada harga barang dan jasa yang merupakan kebutuhan masyarakat banyak.Sebagian kecil masyarakat bisa saja tak terpengaruh dengan naiknya biaya hidup, yang penting lancer tidak macet.Mereka selalu menggunakan logika “kewajaran”.Kalau mau enak, lancar, tidak macet itu adalah harga yang wajar bagi sebuah kenikmatan. Sedang masyarakat Indonesia hari ini sebagian besar masyarakat kecil yang untuk memenuhi kebutuhan dasar saja sudah susah. Hal ini masih ditambah dengan naiknya tarif transportasi yang dibebankan para penguasaha transportasi baik penumpang maupun barang kepada penumpang atau penyewa jasa.

System Kapitalis memang menafiqkan kepentingan rakyat.Mereka hanya berpikir bahwa yang penting arus barang dan jasa bisa terdistribusi dengan lancar dan cepat.Asas ekonomi yang dianut pun sebesar-besarnya mendapat keuntungan dan sekecil-kecilnya modal.Lancarnya distribusi barang dan jasa Artinya pembangunan infrastrutur jalan ini bukan pembangunan gratis.Hanya mereka yang memiliki uang yang bisa menikmati jalan tersebut.Sebagai contoh; untuk menempuh perjalanan Semarang-Surabaya hanya di butuhkan sekitar 4 jam dengan kecepatan 120.Sedang biaya yang mesti dikeluarkan lewat akses jalan tersebut sebesar 253 ribu, belum termasuk bahan bakar.Bayangkan saja berapa duit lagi yang mesti dikeluarkan jika mobil yang ditumpangi adalah mobil sewaan.

Selanjutnya uang tariff tol yang masuk tentu saja masuk ke kantong para investor yang menanamkan sahamnya pada pembangunan infrastruktur ini.Sebagai bagian dari kepemilikan dan imbalan atas investasi yang sudah diberikan.Ini semakin menguatkan fakta bahwa memang pembangunan ini bukan untuk rakyat.Rakyat hanya dimanfaatkan dengan berbagai propaganda yang menjanjikan kemudahan.Negara hanya memjadi fasilitator dan regulator semata, tanpa menjadi pengelola tunggal apalagi pengendali.Itu sebabnya pembangunan infrastruktur yang mentereng ini hanya sebuah fatamorgana bagi rakyat secara luas.

 

Antara Hijaz dan Trans Jawa

Sejatinya proyek infrastruktur dibangun untuk memudahkan rakyat  melakukan berbagai aktivitas, bukan sekedar menterengnya sebuah bangunan. Namun bagaimana bangunan tersebut berguna bagi kepentingan umat secara umum.Sedang desain dan kemegahanya adalah bagian dari artistik.Sebuah bendungan dibangun untuk menanggulangi banjir, sebuah benteng dibangun kokoh untuk pertahanan dan jalan tol dibangun untuk memudahkan arus distribusi barang agar lebih cepat atau memperpendek perjalanan yang di tempuh.Jika bangunan tersebut terlihat keren, ini bonus.Bisa dilihat pada peninggalan-peninggalan infrastruktur di masa lalu, di jaman Kekhilafahan Islam atau bahkan Kekaisaran kuno Eropa.

Sebuah perbandingan mencolok yang ingin saya contohkan disini adalah Pembangunan Jalur Kereta Api Hijaz di masa Ottoman’s Empire dan Jalur Tol Trans Jawa di Indonesia.Jalur Kereta Api Hijaz Yordania yang menghubungkan Damaskus, Amman hingga Madinah di Arab Saudi merupakan sebuah contoh bersejarah dari usaha kreatif Ottoman yang telah membuat perjalanan untuk ibadah haji menjadi lebih mudah. Jalur kereta api Hijaz merupakan salah satu yang tertua di wilayah tersebut dan juga di dunia. Dibangun pada tahun 1902 pada masa pemerintahan Sultan Ottoman Abdul Hamid II dan telah memungkinkan para calon jamaah haji untuk secara signifikan mengurangi waktu perjalanan mereka.Total pembiayaan jalur kereta api diperkirakan mencapai 4 juta lira Ottoman (sekitar 570 kg emas). Jumlah ini setara dengan hampir 20 persen dari seluruh anggaran Ottoman pada waktu itu.Khalifa Abdul Hamid tampil memimpin proyek pembangunan rel kereta api. Bahan-bahan  diimpor dari Eropa dan AS. Ribuan tentara dan pekerja konstruksi lokal bekerja dalam konstruksi, demikian dengan Insinyur dan teknisi Ottoman terlibat dalam mega proyek.Empat tahun kemudian, 1.464 kilometer rel kereta api selesai dan mencapai ke kota suci Madinah. Kereta api itu juga terhubung ke Mediterania melalui Haifa. Ribuan jembatan, gorong-gorong, danau, terowongan, pabrik, dermaga, gudang, kilang, asrama untuk pekerja, rumah sakit dan tangki air serta stasiun kereta api di setiap kota dibangun.

Setelah peresmian Kereta Api Hejaz, penumpang dan barang-barang komersial mulai dipertukarkan setiap hari antara Haifa dan Damaskus. Tiap tiga hari dalam seminggu antara Damaskus dan Madinah.Selama masa Haji, tiga layanan kereta berlangsung antara Damaskus dan Medina hingga akhir bulan Safar.Hanya selama periode haji, satu tiket saja sudah cukup untuk perjalanan pulang pergi.Jalan antara Damaskus dan Madinah yang biasanya memakan waktu 40 hari dengan unta, dapat ditempuh dalam 72 jam.Jadwal keberangkatan diatur sesuai dengan waktu sholat.Selain itu, seluruh gerbong digunakan sebagai masjid di setiap perjalanan dan seorang muazin siap bertugas sepanjang waktu.Pada hari-hari keagamaan dan Maulid (hari kelahiran Nabi Muhammad) perjalanan murah ke Madinah diberikan kepada para penumpang.Gerbong-gerbong itu juga diatur agar keluarga dapat bepergian dengan nyaman.

Fakta perbandingan ini bisa kita jadikan sebagai pelajaran berharga.Bukan untuk meratapi runtuhnya kekhilafahan, namun lebih pada tujuan dari pembangunan infrastruktur.  Filosofinya untuk apa. Lebih jauh inilah wujud Islam Rahmat bagi Alam.Seluruh rakyat bisa menikmati pembangunan tersebut dengan sukacita, apalagi pembangunan tersebut ditengah kondisi Ottoman’ yang bangkrut.Kas Negara kosong.Beramai-ramai rakyat menyumbang dengan sukarela.Bukan berasal dari hutang asing.Dari Marokko hingga India memberikan sumbangan bagi terwujudnya infrastuktur ini.Persatuan umat demikian terasa. Jadi masihkah kita berharap system usang Kapitalis dipertahankan?. Tidakkah kaum muslimin merindukan system Islam yang mensejahterakan?.Mari cerdas dalam berpikir.Buka mata, buka hati dan buka pikiran.

Wallahu’alam bi Showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *