Krisis Energi Mendunia, Indonesia Untung ?

Spread the love

 

Oleh. Mela Ummu Nazry
(Pemerhati Generasi dan Kebijakan Publik)

MuslimahTimes–Sekretaris Eksekutif I Kementerian Koordinator Perekonomian, Raden Pardede, angkat bicara soal krisis energi yang melanda sejumlah negara saat ini. Ia menyebutkan salah satu yang bisa dilakukan Indonesia adalah dengan meningkatkan produksi dan mempersiapkan kapasitas cadangan sumber daya energi nasional.

Salah satu kontributor krisis energi saat ini, menurut Raden, adalah menipisnya sumber energi fosil. Industri fosil sudah ditinggalkan oleh investor, bank dan pasar modal. “Mereka beralih ke energi hijau, sedangkan transisi energi justru belum siap,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Sabtu, 23 Oktober 2021.

Oleh karena itu, kata Raden, Indonesia harus segera mempersiapkan dan menggenjot cadangan sumber daya energi nasionalnya. “Indonesia harus well-planned karena krisis energi yang terjadi bagian transisi yang kurang matang dilakukan dunia,” ucapnya. “Kita perlu belajar. Mumpung masih ada waktu dan belum terjadi krisis energi.” (Jakarta, Tempo.co.id, Oktober 2021).

Keinginan untuk meningkatkan produksi dan mempersiapkan kapasitas cadangan sumber daya energi nasional, sebagai langkah yang diambil untuk menghadapi isu krisis energi dunia, sesungguhnya hanya akan berkontribusi positif terhadap eksploitas besar-besaran sumber daya alam di negeri ini. Baik sumber energi fosil maupun sumber energi hijau sebagai alternatif jika sumber energi fosil menipis dan habis

Dan secara langsung akan berkontribusi besar pula terhadap perubahan iklim dunia. Emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan berbagai macam energi terutama penggunaan energi fosil akan berpengaruh langsung terhadap peningkatan suhu bumi berupa pemanasan global yang juga akan berefek pada pencairan es di daerah kutub yang secara otomatis akan berpengaruh terhadap penurunan jumlah daratan di muka bumi,. Juga akan memberikan pengaruh negatif yang besar terhadap kerusakan alam dan ekosistem seluruh negara di dunia.

Sebab hari ini, aktivitas eksploitasi digawangi sistem kapitalisme yang bekerja menuruti hawa nafsu menguasai dan mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan materi yang bisa diperoleh dari aktivitas eksploitasi tersebut. Ditambah sistem sekuler yang hanya menjadikan untung rugi materi (manfaat materi duniawi ) sebagai landasannya. Kosong dari nilai ruhiyah. Tidak pernah memperhitungkan nilai pahala dan dosa. Sehingga pencapaian nilai keuntungan materi duniawi adalah tujuan dari seluruh aktivitas dalam sistem sekuler kapitalisme.

Sehingga memikirkan kerusakan iklim akibat eksploitasi besar-besaran sumber daya alam penghasil energi fosil maupun penghasil energi hijau sebagai solusi atas krisis energi fosil adalah hal yamg mustahil dilakukan. Sebab memikirkan hal tersebut hanyalah akan menjadi penghalang eksploitasi saja. Yang berarti pula sebagai sebuah bentuk kerugian materi. Sebab tidak akan menghasilkan keuntungan fantastis dari proses eksploitasi yang terhalang oleh kepentingan menjaga iklim dan ekosistem dunia.

Padahal jamak diketahui bahwa dampak eksploitasi besar-besaran untuk mengejar keuntungan materi akan menyebabkan kerusakan ditempat terjadinya eksploitasi dan akan merembet ke berbagai tempat di dunia. Dan pada akhirnya, akibat kerusakan ini harus ditanggung semua negara.

Karenanya, semestinya Indonesia tidak mengambil langkah eksploitatif atas sumber energi fosil dan sumber energi hijau yang dimilikinya, guna memenuhi ambisi meningkatkan produksi dan mempersiapkan kapasitas cadangan sumber daya energi nasional, sebagai langkah yang diambil atas isue krisis energi dunia. Sebab hal ini pada hakikatnya akan membahayakan dunia, mengingat Indonesia sampai hari ini masih berperan sebagai paru-paru dunia.

Semestinya pula Indonesia jangan hanya melihat peluang keuntungan dengan menjadi penjual sebesar-besarnya sumber energi fosil dan sumber energi hijaunya ke negara lain. Sebagai langkah yang diambil dalam menghadapi issue krisis energi dunia. Sebab hal ini akan sangat merusak alam dan seluruh ekosistem didalamnya, yang hanya akan memberikan pengaruh terhadap rusaknya dunia secara global.

Akan tetapi langkah yang seharusnya diambil adalah dengan menyiapkan diri atas dampak kerusakan iklim yang mengancam dunia, dengan menggalakan hidup kembali ke alam, tidak menggantungkan diri terhadap sumber energi fosil, menghemat penggunaan sumber energi fosil, membangun infrastruktur dalam upaya mengembangkan penggunaan energi hijau ramah lingkungan, dan sekuat tenaga tidak menjebakkan diri pada transaksi kapitalistik yang bersifat eksploitatif, walaupun diiming-imingi oleh perolehan keuntungan materi yang besar, namun bumi menjadi rusak.

Selain itu, Indonesia pun perlu mengkritik bahwa kebijakan global atas masalah krisis energi yang terjadi di seluruh dunia hari ini, yang bersandar pada ‘pembagian kuota’ emisi karbon tidak bisa meredam watak rakus negara kapitalis yang akan selalu menyedot sampai habis sumber energi yang dimiliki oleh negara-negara lain, melalui aktivitas eksploitasi sumber daya alam negara-negara lain oleh negara kapitalis.

Seharusnya pula, krisis energi dunia saat ini, menjadi momen mengangkat solusi pembangunan dalam negeri agar mandiri berdiri dikaki sendiri tanpa harus tergantung pada aktivitas penjualan produk energi fosil dan produk energi hijau ke negara lain berdasarkan transaksi yang sangat eksploitatif juga penerapan sistem pengelolaan sumber daya alam yang logis dan aman, melalui penerapan sistem Islam yang memiliki konsep pengelolaan sumber daya alam yang sangat manusiawi dan sangat logis.

Sebab sistem sekuler kapitalisme yang menguasai dunia saat ini terbukti telah menjadi biang terjadinya eksploitasi besar-besaran sumber energi fosil yang menyebabkan timbulnya krisis energi saat ini. Sementara sistem sekuler kapitalisme tidak mampu memberikan solusi yang tepat dalam menangani krisis energi di dunia, sebab watak dasar kapitalisme adalah rakus sebab menuruti hawa nafsu dalam menguasai dan meraup sebanyak-banyaknya keuntungan materi duniawi semata.

Sedangkan sistem Islam, sebab landasannya adalah halal-haram, maka ia tidak akan memiliki watak rakus. Sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumber energi fosil dan sumber energi hijau sebagai alternatif solusi atas krisis energi dunia saat ini. Sebab sistem Islam memiliki aturan yang sangat jelas terkait pengelolaan sumber daya alam dalam hal ini sumber energi fosil dan sumber energi hijau yang dapat menyumbangkan kebaikan dan dapat mencegah bumi dari kerusakan iklim global.

Wallahualam.