Ada Apa dengan Citayam Fashion Week?

Spread the love

 

Oleh. Rahmi Lubis

 (Guru Smk Telkom Medan)

MuslimahTimes.comCitayam Fashion Week yang sedang viral belakang ini merupakan aksi peragaan busana di zebra cross kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Dilansir dari media Kompas (25/7/22). Kini daerah Dukuh Atas menjadi sangat ramai setelah viral Citayam Fashion Week. Tidak hanya jadi tempat remaja nongkrong dan cari hiburan, tetapi kini pejabat dan kalangan menegah atas hingga artis ikut membuat konten. Baru-baru ini saja, Citayam Fashion Week telah diperebutkan oleh dua influencer hanya untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), yaitu perusahaan Tiger Wong Entertainment milik Baim Wong dan perusahaan milik Indigo Aditya Nugraha.

Jika ditelusuri sebab munculnya Citayam Fashion Week ini ternyata berasal dari luapan ekspresi anak yang tidak memiliki pakaian mahal dan tidak bisa mengikuti ajang mode fashion show. Street fashion ini merupakan salah satu cara anak muda untuk menonjolkan identitasnya sehingga keberadaan mereka pun diakui. Hanya saja momen ini tidak akan berlangsung lama. Menurut ahli sosiolog dari Universitas Indonesia, Hari Nugroho, mengatakan tren Citayam Fashion Week berpotensi “dikuasai” oleh kalangan menengah ke atas yang memiliki sumber daya sosial dan ekonomi yang lebih sehingga hal itu akan membuat para remaja dari Citayam, Bojonggede, dan Depok yang memulai tren tersebut justru tersingkir. Arena potensial ini hanya akan diambil alih oleh mereka yang punya power and resources lebih besar yaitu kalau bukan anak muda kelas menengah Jakarta atau mereka yang mau pakai untuk keperluan panggung politik.

Tren Citayam Lahir dari Sistem Sekuler

Viralnya Citayam Fashion Week harusnya menjadi ironi bukan menjadi tren yang dipuji atau ditiru oleh masyarakat karena kreativitas generasi muda kini hilang arah tanpa tujuan. Padahal Generasi muda adalah ujung tombak masa depan. Bahkan Soekarno dalam pidatonya pernah berkata “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Tetapi berikan aku 1 pemuda akan kuguncangkan dunia.” Tampak sangat jelas peran pemuda sangat penting demi kebangkitan bangsa.

Namun sayang, sistem sekuler tidak akan pernah bisa menghasilkan pemuda seperti pidato Bung Karno tersebut. Kenapa demikian? Itu semua karena remaja saat ini lahir dari sistem sekuler. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang berlandaskan asas manfaat. Untung-rugi dijadikan sandaran utama dalam berbuat. Ingin cantik, ingin terkenal, ingin kaya, semuanya terwujud sebagai obsesi remaja saat ini. Wajar saja jika kontes kecantikan, kontes menyanyi, dan konten video menjadi aktivitas generasi muda. Tujuan utama adalah menghasilkan banyak uang.

Namun, akankah negara terbebas dari jeratan utang luar negeri jika para remajanya asyik dengan gaya hidup yang hedonis ini? atau akankah negara bisa bangkit dari kemiskinan jika pola pikir para remaja seperti pola di atas? Tentu saja tidak. Justru para remaja kini hidup dengan pola individualis. Pemuda hanya berfokus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan rela mengorbankan hidupnya demi popularitas dan gaya hidup mewah ala anak sultan. Contohnya saja, pada tahun 2021 kemarin, di Jakarta terungkap orang wanita bernama Maria K (20) dan wanita yang tidak diketahui identitasnya (42). Mereka gagal melakukan prosedur operasi pembesaran bokong dan akhirnya meninggal dunia.

Islam Lahirkan Generasi Muda Cemerlang

Siapa yang tak kenal dengan Muhammad Al Fatih? Beliau seorang pemuda yang berumur 21 tahun mampu menguasai konstantinopel. Kota yang menjadi mercusuar peradaban barat ini bisa dikuasai oleh pemuda yang terbilang masih muda. Inilah sosok nyata keberhasilan sistem Islam membentuk generasi muda yang cemerlang. Keimanan kepada Allah Swt menjadi hal yang pertama dan utama ditanamkan sejak kecil oleh sang ibu. Motivasi pembentukan karakter yang berlandaskan syariat menjadi penopang penuh dalam pendidikan anak. Suasana keimanan dan ketakwaan selalu terbingkai dalam sistem kehidupan Islam kaffah, sehingga anak-anak tumbuh menjadi remaja yang unggul, cerdas, dan bertakwa.

Inilah pentingnya sistem Islam dalam lini kehidupan. Pola pikir dan pola sikap akan sejalan sesuai dengan tujuan kehidupan. Remaja Islam tak akan lagi memikirkan kesenangan sesaat dan hidup yang sebatas pemuasaan hawa nafsu. Namun, lebih dari itu, remaja Islam akan memprioritaskan hidupnya untuk menebar manfaat bagi orang banyak demi mencapai keridaan Allah Swt. Lantas, masihkah kita bertahan pada sistem sekuler saat ini?

Wallahu’alam bisshawab.