Agar “Layangan” Tak Putus

layangan putus
Spread the love

 

Oleh: Kholda Najiyah
(Founder Kelas Bengkel Istri)

MuslimahTimes–Ungkapan layangan putus, kini identik dengan rumah tangga yang hancur atau bercerai. Penyebabnya adalah kehadiran orang ketiga, yakni terjadinya perselingkuhan. Ada juga yang mengidentikkan dengan kasus poligami yang tidak ahsan dalam praktiknya.

Apa pun alasannya, yang jelas kehancuran rumah tangga alias perceraian saat ini memang sangat mencemaskan. Secara global, angka perceraian kian tahun kian menggunung. Fakta merebaknya kasus perselingkuhan, juga sangat mengkhawatirkan. Nah, bagaimana agar rumah tangga kita selamat dari badai perselingkuhan dan perceraian?

1. Pernikahan Bervisi Akhirat

Pernikahan adalah akad untuk tujuan akhirat, bukan sekadar membangun rumah tangga di dunia. Visi itu akhirat itu dengan menyadari bahwa menikah adalah wadah untuk sama-sama mendekatkan diri pada Allah. Sama-sama untuk meraih sebanyak-banyaknya amal pahala.

Masing-masing pihak berlomba-lomba melakukan hal-hal yang baik sesuai syariat Allah. Saling mengingatkan jika melalaikan kewajiban. Saling menasihati jika melanggar aturan Allah Swt. Oleh karena itu, tidak boleh membiarkan ada kemaksiatan dalam rumah tangga. Sebaliknya, jika diingatkan agar tidak maksiat, justru berterima kasih.

2. Persahabatan Satu Raga Satu Jiwa

Pernikahan dibangun atas dasar kesepakatan berdua, sehingga keduanya harus berlaku sebagai sahabat. Kompak dalam keadaan berjaya maupun terpuruk. Satu frekuensi dalam berbagai aspek, hingga fokus pada menjaga keharmonisan. Pernikahan bukan hanya menyatukan fisik dalam satu ikatan halal, tetapi juga menyatukan jiwa dalam satu perasaan yang sama.

Pasangan haruslah yang paling tahu suasana hati pasangannya. Paling tahu kebutuhannya. Paling tahu kekuatan dan kelemahannya. Paling tahu apa yang membuatnya senang, dan sebaliknya apa yang membuatnya sedih. Paling tahu saat dia merasa menderita dan sebaliknya saat dia bahagia.

3. Memperjuangkan Ketenangan dan Ketentraman

Kedua belah pihak, baik suami maupun istri, sadar sesadar-sadarnya bahwa pernikahan yang sakinah, mawadah dan rahmah harus diperjuangkan bersama. Bukan hanya mengharapkan dari satu pihak saja, tapi keduanya punya tanggung jawab untuk mewujudkan ketenangan dan ketentraman.

Ketenangan, ketentraman dan kasih sayang akan terwujud jika kedua belah pihak saling percaya, jujur, amanah dan menghormati satu sama lain. Kedua belah pihak saling memberi perhatian dan kasih sayang. Memberi apresiasi dan kebutuhan batin lainnya. Saling menghargai satu sama lain dan tahu bagaimana menjaga perasaan pasangan. Memberi keamanan dan kenyamanan bila bersama, dan percaya serta prasangka baik bila saat tidak bersama.

4. Tidak Bermudah-mudah Berucap Pisah

Tidak ada rumah tangga yang tanpa konflik. Tetapi pasangan suami istri menyadari bahwa konflik itu hanya sementara, tidak akan permanen selamanya. Setelah pekatnya malam, akan datang cahaya pagi. Oleh karena itu, fokuslah pada bagaimana cara menyelesaikan masalah itu, bukan bermudah-mudah meninggalkan pasangan atau menghancurkan rumah tangga dengan berucap kata pisah.

Bercerai boleh, tetapi dibenci Allah, maka jangan bermudah-mudah melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Justru, kita pun seharusnya ikut membenci apa yang dibenci Allah Swt. Kita yang memilih berakad nikah, maka kita siap menanggung segala konsekuensinya. Persoalan ringan atau berat, hadapi bersama. Insyaallah tidak ada masalah rumah tangga yang tidak ada solusinya.

Berpisah adalah solusi paling akhir, jika seluruh ikhtiar untuk memperbaiki keadaan menemukan jalan buntu. Sampai mana batas ikhtiarnya? Sampai kita tak sanggup lagi memikulnya, yakni sampai kita merasa pernikahan telah menjadi neraka yang bukan mendekatkan diri pada Allah melainkan menjauhkan diri dari-Nya.

Namun, hati-hati dengan bisikan setan. Sebab setan akan selalu meniupkan bisikan bahwa pernikahan kita tidak lagi bahagia, padahal sebetulnya hanyalah prasangka buruk kita saja. Perasaan itulah yang kerap mendorong pada jalan pisah, padahal sejatinya masih bisa dipertahankan.

Perasaan yang muncul karena kadang kita lupa untuk bersyukur akan anugerah pernikahan ini. Perasaan yang disetir oleh emosional sesaat dan ego diri. Padahal kita sadar bahwa terlalu banyak keindahan dalam syariat pernikahan ini yang patut kita syukuri, dibanding ujian yang masih kita tanggung bersama dibanding hidup sendiri.

Semoga rumah tangga muslim jauh dari kisah “layangan” putus