Muharam, Momentum Totalitas Hijrah Menuju Kepemimpinan Islam

Spread the love

 

Oleh. Asha Tridayana, S.T.

MuslimahTimes.com – Kini hijrah telah menjadi tren di kalangan masyarakat, baik hijrah yang benar-benar mendalami ajaran Islam dan mengamalkannya dengan kesadaran ataupun hijrah yang sekadar ikut-ikutan dan adanya unsur paksaan. Di dalam prosesnya, hijrah pun ada yang langsung totalitas dan ada juga yang bertahap. Meskipun demikian hijrah tetaplah sebuah proses perubahan ke arah kebaikan.

Namun, di tengah maraknya fenomena hijrah, ternyata kondisi masyarakat secara umum masih belum mengalami perubahan. Kemaksiatan dan bermacam masalah masih melingkupi kehidupan masyarakat. Bahkan semakin merajarela hingga kondisi masyarakat pun kian terpuruk. Seperti keadaan generasi muda yang semakin lemah baik mental dan pemikiran, kerusakan alam, krisis ekonomi, tidak adanya jaminan kesehatan dan pendidikan serta berbagai masalah kehidupan yang semakin hari semakin rumit. Tentu saja hal ini sangat bertolak belakang dengan makna hijrah yang sesungguhnya. Dikhawatirkan pula justru dapat menyebabkan pemikiran negatif pada ajaran Islam yang seolah tidak mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam ketika hijrah telah dilakukan. Naudzubillah.

Hal ini tidak lain akibat kesadaran sebagai umat Islam belum sepenuhnya memahami esensi hijrah yang hakiki. Tidak jarang pula yang memaknai hijrah sebagai perubahan individu atau sebatas komunitas. Sehingga perubahan pun hanya fokus pada pribadi setiap individu, tidak berimbas pada khalayak umum. Tentu tidak mengherankan ketika hijrah marak dilakukan, tetapi persoalan hidup justru bertambah. Inilah yang semestinya dipecahkan oleh seluruh kaum muslim. Karena Islam jelas satu-satunya agama yang diridai Allah Swt, tentunya mampu memberikan kebaikan bagi seluruh umat.

Di samping itu, hijrah yang dilakukan pun harus penuh kesadaran. Harus benar-benar memahami bahwa perubahan hakiki sangat dibutuhkan. Sehingga evaluasi yang dilakukan tidak cukup sebatas individu manusia sebagai hamba Allah Swt, tetapi juga harus dilakukan sampai ke level negara yang mengurusi seluruh urusan manusia. Termasuk evaluasi atas sistem politik dan pemerintahan yang diterapkan saat ini. Karena sebuah sistem memiliki peranan penting dalam mengatur segala aspek kehidupan. Sementara sistem yang diemban saat ini justru mencengkeram dan merusak kehidupan masyarakat sampai ke titik terendah.

Tidak lain sistem kapitalis liberal yang berasaskan sekularisme, yakni pemisahan aturan agama dengan kehidupan. Sistem tersebut telah mengkotak-kotakkan pemikiran umat Islam. Termasuk hanya mencukupkan diri atas hijrah individu. Namun, merasa tidak mampu atau bahkan merasa tidak memiliki tanggung jawab atas hijrahnya masyarakat secara keseluruhan. Padahal aspek kehidupan masyarakat lainnya, terutama politik dan pemerintahan juga sangat membutuhkan perubahan yang hakiki. Karena segala aturan tidak bersumber pada Islam. Islam tidak lagi menjadi pedoman hidup. Beginilah ketika paham sekuler telah merasuk ke dalam pemikiran umat. Kaum muslim seolah lupa dengan jati dirinya dengan meninggalkan aturan Islam. Akhirnya umat semakin jauh dan asing dengan ajaran agamanya.

Penerapan sistem kapitalis liberal juga menjadikan cara pandang dan tolok ukur kehidupan hanya berdasarkan materi. Sehingga tidak dipungkiri jika kemaslahatan masyarakat menjadi lahan mencari keuntungan. Tidak ada jaminan dan kepengurusan oleh pemerintah yang mampu mensejahterakan masyarakat. Bahkan pemerintah rela mengorbankan kepentingan rakyat demi tujuan para penguasa dan pengusaha yang saling bekerja sama.

Tidak cukup sampai di situ, dampak terparah akibat sistem rusak juga dirasakan oleh generasi muda. Mereka yang semestinya menjadi agen perubahan menuju kebangkitan Islam tetapi justru menjadi budak kapitalis. Orientasi hidupnya hanya untuk kesenangan sehingga apapun yang dilakukan hanya bermuara pada materi. Mental dan pemikirannya pun mudah sakit ketika ekspektasi jauh dari realita. Benar-benar menjadi generasi yang lemah tanpa tujuan hidup hakiki.

Sederet permasalahan tersebut yang menjadikan hijrah tidak cukup hanya level individu atau sekedar komunitas semata. Hijrah seharusnya benar-benar memperbaiki dari akar masalahnya. Berupaya melakukan perubahan level keumatan menuju sistem politik dan kepemimpinan Islam. Sistem yang berasal dari wahyu Allah Swt Pemilik Seluruh Alam yang pastinya sangat mengetahui kebutuhan dan kebaikan bagi seluruh makhluk-Nya. Di samping itu, sistem kepemimpinan Islam mampu mengatur segenap aspek kehidupan. Tidak terbatas pada ritual ibadah saja, tetapi seperangkat hukum dengan mekanisme terbaik yang dapat memberikan kemaslahatan bagi seluruh umat.

Maka, sudah saatnya sebagai kaum muslim bersama-sama memperjuangkan tegaknya Islam. Terlebih di bulan Muharam yang sejarah telah mencatat banyak sekali rahmat Allah Swt diturunkan. Diantaranya peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah dan bermacam kejadian istimewa yang dialami nabi sebelumnya. Seperti Nabi Ibrahim yang selamat saat dibakar api oleh Raja Namrud, Nabi Yunus yang terbebas dari dalam perut ikan besar yang menelannya. Hingga peristiwa saat Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan oleh Allah Swt dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Semuanya terjadi di Bulan Muharam.

Tidak diragukan lagi hanya dengan totalitas hijrah dan penggantian sistem yang sahih, kaum muslim akan mampu bangkit menjadi umat terbaik sesuai dengan firman Allah Swt dalam Q.S Ali Imran ayat 110, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Hal ini dapat dilakukan dengan terus menggali kesadaran umat akan pentingnya penerapan sistem Islam sebagai satu-satunya solusi yang benar atas segala permasalahan hidup. Sekaligus terus berupaya memantaskan diri dalam ketaatan agar Allah swt berkenan untuk segera memberikan pertolongan. Karena hanya dengan Islam, kesejahteraan hidup akan tercapai. Sebagaimana firman Allah Swt, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al A’raf : 96)

Wallahu’alam bishowab.