Agar Anak Tidak Menjadi Korban Rudapaksa

Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah (Founder Salehah Institute)

Muslimahtimes.com– Di sebuah lembaga pendidikan yang konon mengajarkan agama, anak-anak perempuan berusia belasan tahun menjadi korban rudapaksa lelaki tak bermoral. Ada yang sampai hamil dan melahirkan. Bahkan ada yang lebih dari satu kali kehamilan. Ini alarm untuk kita semua, betapa bahaya gejolak syahwat demikian dahsyat, hingga hadir di tengah-tengah lembaga pendidikan.

Tanpa bermaksud menyalahkan korban, dan dengan menaruh rasa simpati yang mendalam pada mereka, mari kita berdoa supaya mereka cepat pulih dari trauma. Semoga tidak ada lagi kejadian serupa. Semoga mereka tidak lagi menjadi korban di kemudian hari. Semoga Allah menguatkan mereka dan keluarganya.

Sementara itu, mari kita semua mengupayakan pencegahan, agar anak-anak perempuan lainnya, tidak menjadi korban. Sebab kejahatan berpotensi terjadi di mana saja, ketika sistem liberal saat ini masih bercokol. Anak-anak perempuan adalah korban yang paling rentan. Ada beberapa pembekalan yang harus disampaikan kepada mereka agar punya pertahanan diri yang kokoh:

1. Memahami Syahwat dan Cara Kebangkitannya

Diciptakan manusia, bersamaan nafsu syahwat di dalamnya. Nafsu syahwat itu bangkit karena adanya faktor rangsangan, baik berasal dari pikiran internal maupun sarana yang bisa dindera. Setiap laki-laki memiliki syahwat, dan setiap perempuan memiliki syahwat. Tak peduli dia orang taat beragama atau pelaku maksiat, bila rangsangan itu datang, maka pasti membangkitkan syahwat. Maka, potensi kejahatan seksual ada di mana saja.

Waspadai jika ada laki-laki di sekitar kita yang menunjukkan tanda-tanda mencurigakan, jangan-jangan dia telah terbangkitkan syahwatnya. Misal, laki-laki yang kerap melihat dan memerhatikan tanpa berkedip, mengajak berdekatan atau berduaan, dan mencoba menyentuh bagian tubuh kita. Jangan beri kesempatan mereka melakukannya, karena hal itu berpotensi sebagai pelampiasan syahwat.

2. Tidak Boleh Taat Jika Ada Indikasi Maksiat

Taat kepada orang yang lebih tua, apalagi jika dia seorang guru, adalah adab yang diajarkan Islam. Namun, bila ada indikasi-indikasi yang mencurigakan seperti dijelaskan di poin pertama, maka anak-anak perempuan harus waspada. Jangan mau taat dan patuh pada guru yang gerak-geriknya mencurigakan. Maka itu, anak-anak harus sensitif terhadap perilaku gurunya.

Misal, bila disuruh menghadap sendirian dalam ruang tertutup tanpa boleh ditemani, maka harus menolak dengan cara halus. Atau, ngotot bawa teman saat menghadap. Tolak bila diajak bepergian berduaan. Tolak jika disuruh melakukan hal-hal di luar konteks pembelajaran, misal diminta memijat guru laki-laki dan sejenisnya.

3. Tolak Perhatian Khusus dari Laki-laki

Tolak perhatian khusus dari laki-laki manapun, karena dikhawatirkan ada maunya. Mereka membujuk dan merayu dengan berbagai cara, misal pemberian berupa hadiah, makanan atau tawaran bantuan tanpa kita minta. Jaga interaksi, jangan sampai kita menarik perhatiannya, dan jangan pula kita menaruh perhatian khusus padanya. Laki-laki dan perempuan harus terpisah dalam berinteraksi. Tidak boleh berduaan, apapun alasannya. Tidak boleh saling memberi perhatian, atau memberi harapan ke arah hubungan syahwat.

4. Jangan Pernah Buka Aurat di Depan Siapapun

Dengan alasan apapun, jangan pernah mau bila diperintahkan untuk membuka bagian tubuh kita. Entah dengan alasan pembelajaran, penelitian atau apapun. Tidak ada seorang pun yang berhak melihat aurat kita, dengan alasan apapun. Kecuali ketika berobat yang mengharuskan buka aurat, itu pun ada yang menemani.

Membuka aurat di hadapan laki-laki yang bukan mahram, baik secara online maupun ofline adalah dosa. Seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan harus ditutup di hadapan mereka. Tidak boleh memberi jalan bagi siapapun untuk mencoba-coba mengintip aurat.

5. Berani Bicara dan Berteriak

Apabila ada paksaan untuk melakukan berbagai poin di atas, maka beranilah berbicara atau berteriak sekencang-kencangnya, agar ada yang mendengarkan keluhan kita. Tidak masalah jika di kemudian hari kita disalahkan, dianggap berlebihan, atau bahkan dituduh memfitnah, yang penting kehormatan terjaga dulu.

Memang begitulah, beratnya menjaga kehormatan pribadi, di saat sistem yang rusak ini telah merusak sendi-sendi moral banyak laki-laki, hingga mereka menjadi pemuja syahwat. Laki-laki yang hanya menjadikan perempuan sebagai objek seksual. Terkadang, perempuan sudah menjadi korban pun, masih juga disalahkan sebagai pemicu. Semoga Allah Swt menjaga anak-anak perempuan kita di manapun berada. Aamiin.(*)