Analgesik dalam Kapasitasnya

Spread the love

Oleh : Sunarti

MuslimahTimes.com – “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR.Bukhari)

Sehat dan waktu luang adalah dua hal yang seringkali dilupakan manusia. Memang benar, alam kapitalisme-sekulerisme telah membawa penghuninya jauh dari Rabb Sang Maha Pencipta. Kekuatan ruh dalam jiwa seolah lenyap dan sirna. Keberadaan raga dan kesempatan usia di dunia, seolah berjalan tiada makna. Mengejar materi, kedudukan dan juga hawa nafsu, ketiganya menjadi prioritas utama dan pertama dalam balutan sistem ini. Astagfirullah. Nauzubillah.

Pun banyak manusia yang belum menyadari bahwa kesehatan adalah karunia yang besar. Allah Swt menciptakan seperangkat anggota tubuh dengan kesempurnaan kerja di masing-masing bagiannya. Sebut saja otak.

Otak secara alami ternyata memiliki tugas yang luar biasa. Salah satunya adalah menjaga imunitas tubuh dan menahan rasa sakit. Pada bagian khusus sistem syaraf pusat dan kelenjar pituitari memproduksi hormon yang menimbulkan rasa bahagia dan mengurangi/menahan nyeri, yaitu hormon endorfin. Endorfin memiliki peran yang luar biasa dalam perjalanan tugasnya di dalam tubuh manusia.

//Analgesik Alami dan Kimia//

Analgetik dan antipiretik adalah golongan obat yang berfungsi sebagai antidemam sekaligus antinyeri. Obat golongan ini bisa digunakan untuk meredakan nyeri akibat radang sendi, cidera, sakit gigi, sakit kepala, atau nyeri haid, sekaligus bisa mengatasi demam.

Terdapat tiga jenis obat yang masuk ke dalam golongan analgetik dan antipiretik, yaitu salisilat, paracetamol, dan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). (Alodokter.com)

Dalam bukunya CURE, Jo Marchant menjelaskan tentang bukti bahwa tubuh manusia mampu menahan rasa sakit yang teramat sangat di saat tubuh sedang dalam kondisi darurat. Dan itu bisa terjadi karena adanya peran endorfin dalam tubuh yang bekerja secara alami. Visualisasi yang menyenangkan sangat membantu terbentuknya endorfin dan berguna mengurangi rasa sakit.

Endorfin yang diproduksi oleh pituitari berfungsi sebagai antianalgesik (antinyeri) alami. Semacam zat opioid yang berupa morfin yang bekerja memberi ketenangan dan kenyamanan sehingga rasa nyeri bisa teralihkan.

Saat ini, dalam dunia kesehatan antianalgesik menjadi barang yang mahal. Persoalan yang muncul akibat resisten tubuh (terutama tumpulnya syaraf) terhadap zat tersebut tidak lagi dihiraukan. Semua akibat dari kurangnya perhatian terhadap penelitian zat tersebut. Konon perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi antianalgesik tidak punya insentif untuk melakukan penelitian. Jadilah, analgesik yang berisiko mematikan syaraf tetap dipergunakan.

Sayang memang, alam kapitalisme-sekulerisme telah menghadirkan kebahagiaan semu ala otak manusia. Memang secara fakta, para ilmuwan meneliti lebih mendalam mengenai hormon-hormon dalam tubuh, terutama endorfin. Akan tetapi hubungan pikiran manusia dengan Tuhan sangat tidak terjangkau. Maka wajar jika kesembuhan spiritual ala kapitalisme tidak membuahkan hasil.

Alih-alih sembuh secara fisik, organ-organ tubuh justru resisten terhadap antianalgesik. Syaraf tubuh yang tidak mampu bekerja dengan dosis terkecil, bisa menimbulkan lagi bertambahnya jumlah dosis antianalgesik tersebut. Tidak heran jika satu atau dua kali tersentuh golongan morfin, misalnya, untuk therapi berikutnya, tubuh sudah tidak bisa merespon. Alias dosis yang sama sudah tidak bisa bekerja dan membutuhkan dosis lebih tinggi lagi.

//Islam Melibatkan Allah Swt dalam Pengobatan//

Sakit adalah kehendak Allah Swt kepada manusia. Dalam sakit Allah memberikan rasa yang memang tidak mengenakkan. Dalam sakit ada banyak hikmah yang didapat. Selain sebagai penggugur dosa juga sebagai penambah pahala atas kesabaran.

Sedangkan berobat hukumnya sunah. Sunah berarti lebih baik jika dilakukan. Apabila tidak pun, tidak akan sampai kepada dosa. Layaknya hukum yang lain, dalam berobat juga ada standarnya. Berobat masuk ke dalam hukum asal mula perbuatan. Jadi pengobatan harus berdasarkan halal dan haram.

Jika ada seorang pasien yang sakit lalu dokter tersebut memberikan obat yang sama sekali tidak ada hubungan dengan penyakitnya lalu dokter tersebut mengatakan “ini obat yang sangat manjur.” maka pasien tersebut dapat sembuh. (Ibnu Sina dalam Kitabnya: Al Qanun Fit Thibb-Canon of Medicine).

Ketika membaca apa yang dikatakan oleh Ibnu Sina di atas, harusnya kita bisa berpikir bahwa faktor sugesti sangat penting.

Pengaruh obat dan sugesti baik, pengaruh ‘orang yang mengatakan’ bahwa obat tersebut manjur atau memang ‘keyakinan’ bahwa obat tersebut manjur. Bisa macam-macam persepsi yang muncul. Yang jelas, ilmuwan Muslim ini telah berpendapat ribuan tahun yang lalu.

Bahkan Ibnu Sina telah berpesan kepada murid-muridnya, “Jangan pernah katakan kepada pasien bahwa penyakitnya tidak dapat diobati, sesungguhnya sugesti kalian merupakan obat bagi pasien.”

Sebagai Muslim melibatkan Allah dalam kesembuhan adalah sebuah kewajiban. Allah segala penentu sehat dan sakit. Jika ada unsur spiritual yakni melibatkan Allah Swt, maka akan semakin mudah dalam pengobatan, perawatan dan penyembuhan. Peran obat kimia dari luar dan tindakan dalam dunia medis hanya sebagai wasilah saja.

Termasuk kemudahan dalam menjaga kesehatan sebelum raga sakit, yakni dengan melibatkan Allah Swt sungguh menjadi penentu kondisi seorang Muslim. Suasana bahagia dalam rida Allah akan mendorong endorfin alami dalam tubuh membentuk opioid alami guna menjaga sistem kekebalan dan membentuk antianalgesik alami pula.