Bagaimana Berharap pada Pemimpin Hasil Kerja Para Buzzer Politik?

Spread the love

Oleh Kartini

(Komunitas Muslimah Mahasiswa)

MuslimahTimes– Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat. Selintas slogan tersebut seakan-akan slogan yang pro terhadap rakyat, slogan yang akan mensejahterakan rakyat dalam kancah kehidupan. Tapi nyatanya slogan tersebut justru mencederai rakyat, tampuk kekuasaan yang ada tidak lagi digunakan atas dasar kepentingan rakayat. Pemilihan pemimpin dan wakil rakyat secara serentak dilakukan dengan jalan pemilihan umum yang melibatkan seluruh masyarakat. Adanya hal itu diharapkan dapat menampung aspirasi masyarakat, dan pemimpin yang terpilih adalah sosok pemimpin yang sesuai dengan harapan serta kepentingan rakyat.

Akan tetapi aspirasi dan harapan hanya tinggal cerita. Pencitraan yang dibangun selama ini hanyalah kebohongan belaka yang dibangun oleh para Buzzer politik. Masyarakat kembali terlukai hatinya. Dilansir dari CNNIndonesia.com (6/10/2019) bahwa Universitas Oxford menerbitkan penelitian berjudul ‘The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation’ yang digarap oleh Samantha Bradshaw dan Philip N. Howard.

Hasil penelitian tersebut menyebutkan Indonesia menjadi satu dari 70 negara yang menggunakan pasukan siber alias buzzer untuk sejumlah kepentingan sepanjang 2019. Laporan tersebut menyampaikan pihak-pihak yang berkaitan dengan buzzer adalah politisi, partai politik, dan kalangan swasta. Bahkan para buzzer itu digaji dari Rp1-50 juta.

Sistem pemilihan pemimpin dialam demokrasi seperti ini justru akan banyak melahirkan para pemimpin-pemimpin yang haus akan kekuasaan. Maka wajar ketika berbagai macam cara dilakukan selama itu dapat menguntungkan dirinya tanpa memikirkan kepentingan masyarakat luas. Begitupun dengan buzzer bayaran, tak peduli kebohongan ataukah bukan yang disodorkan ke tengah-tengah masyarakat, selama itu menguntungkan maka akan dilakukan.

Slogan demokrasi pun kian merasuk pada jiwa-jiwa para perebut kekuasaan, karena dalam alam demokrasi menjadikan manusia sebagai pembuat hukum adalah hal yang wajar, akhirnya manusia tidak lagi berhukum sesuai kehendak sang pencipta. Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga, nyatanya pepatah ini benar keberadaanya. Kebohongan demi kebohongan yang dibangun dan disembunyikan selama ini, sedikit demi sedikit mulai menampakkan baunya. Kepercayaan yang dibangun atas kebohongan akan hancur pula.

kebohongan akan diikuti oleh kebohongan lainnya. Maka pemimpin yang dilahirkan dari kebohongan, ia akan terus membangun kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya. Sehingga pemimpin yang seperti ini akan dibenci oleh masyarakatnya cepat atau lambat, sebab kebenaran pasti akan selalu menang. Selain dibenci oleh masyarakat di dunia, juga akan rugi di akhirat, apabila tidak cepat-cepat bertaubat dan mengembalikan kealalamiahan hukum yang mengatur manusia kepada sang Pencipta, Allah SWT.

Islam merupakan agama yang memiliki seperangkat aturan yang lengkap. Salah satunya dalam pemilihan pemimpin, maka islam punya solusinya, sehingga pemimpin yang terpilih bukanlah pemimpin yang lahir karena kebohongan tetapi sosok pemimpin yang dipercaya umat akan mampu dalam menjalankan amanah mengurusi urusannya.

Ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi seorang calon pemimpin. Dalam buku Struktur Negara Khilafah karangan Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dijelaskan syarat wajib menjadi pemimpin. Di antaranya: muslim, laki-laki, balig, berakal, adil, merdeka (bukan budak), dan mampu. Selain syarat wajib (syarat in’qad), ada juga syarat keutamaan. Syarat keutamaan ini adalah syarat tambahan, tidak harus terpenuhi. Namun, akan menjadi lebih baik jika dipenuhi. Contohnya seperti khalifah harus dari keturunan Quraisy, seorang mujtahid, harus ahli menggunakan senjata, dll.

tentu saja bukan hanya mampu mengurusi urusan masyarakat di dunia, akan tetapi ia juga harus mampu membawa masyarakatnya untuk sejahtera dan sukses dunia dan akhirat. Dengan demikian wajib bagi seorang muslim untuk memilih seorang pemimpin yang taat pada Allah SWT dan Rasul Muhammad saw tanpa terkecuali. Pemimpin yang taat kepada Allah SWT akan sadar akan amanah yang diembannya dan sadar bahwasannya tiada hukum yang patut diambil dan digunakan untuk mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia kecuali hanya hukum buatan Allah SWT. Sebab ia yakin, hanya aturan Allah yang akan menyelamatkan dirinya dan masyarakatnya di dunia dan di akhirat.

Maka saatnya untuk memilih pemimpin yang mau menerapkan sistem Islam, aturan Allah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan dan mencampakkan demokrasi.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *