Ghosting Lifestyle Nggak Penting

Spread the love

Oleh. Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)

Muslimahtimes – Suatu ketika saya mendapatkan cerita menarik dari anak perempuan saya yang kini beranjak remaja. Ada lifestyle ghosting di kalangan teman-temannya. Merasa asing dengan istilahnya saya mencoba bertanya. Jawaban renyah dari mulutnya membuat saya terhenyak. Sebegitu parahkah pergaulan anak-anak hari ini? Padahal mereka baru satu semester meninggalkan bangku SD.

Saya mencoba browsing, ternyata ghosting bukan konsep baru. Istilah ini begitu umum dalam dunia kencan modern. Dalam beberapa artikel yang saya baca, ghosting ini terjadi saat seseorang terjebak diantara tidak ingin melukai perasaan seseorang tetapi juga tidak ingin memimpikannya.

Pendek kata, ghosting dapat didefinisikan dengan berbagai cara tergantung pada siapa yang mendefinisikannya. Secara umum, ghosting adalah tindakan mendadak memutuskan semua hubungan dan komunikasi dengan seseorang yang anda kencani atau dalam hubungan pertemanan. Secara harfiah artinya seolah-olah mereka menghilang dan menguap tanpa jejak.

Muncul tanya di benak saya, apa tujuan dari ghosting dan apa pentingnya sehingga begitu digandrungi di kalangan anak muda? Pertanyaan itu saya lontarkan kepada anak saya. Jawabnya lebih mengejutkan, nggak ada, itu bagian dari kesenangan. Asyik aja ngobrolin seseorang yang awalnya dekat, kemudian tahu-tahu menghilang. Keren, ketika harus kembali menceritakan kenangan indah saat mereka bersama.

Apakah mereka sekadar berteman? Jawab anak saya ya nggak juga, karena ada temannya yang statusnya berpacaran, awalnya sahabatan, karena saling suka akhirnya memutuskan untuk pacaran online, setiap hari chatting. Suatu saat kemudian salah satu dari mereka menghilang tanpa kabar untuk waktu yang lama. Nah…mereka lalu pasang status di media sosial sebagai ghosting.

Astaghfirullah, nyeri dada terasa, sebab anak-anak muda itu tersibukkan dengan gaya hidup ala Barat. Jelas demikian! Sebab dalam Islam tidak ada istilah ghosting, jangankan berpacaran, interaksi antara pria dan wanita saja aturannya sangatlah jelas. Jika bukan mahram maka haram untuk berdua-dua bahkan untuk bercampur baur.

Dan ternyata istilah-istilah untuk lifestyle keji itu tak hanya ghosting, masih banyak yang lain. Sesuatu yang justru mendatangkan mudharat yang seharusnya mereka tinggalkan. Ironinya malah menjadi target penting dalam hidup mereka. Menjadi perbincangan bahkan aktifitas produktif mereka berputar pada sesuatu yang makin menjauhkan dari Islam. Semakin ke sini semakin menyerupai budaya Barat, padahal jika ditanya apa agama mereka dengan lantang menjawab Islam!

Sementara terhadap Islam sendiri, meskipun mereka terlahir dalam keluarga Muslim memiliki kriteria tertentu. Tidak fanatik, pertengahan dan cukup pada hal yang mereka sanggupi saja, misalnya dalam ibadah mahdoh saja.

Hal ini tak lepas dari apa yang mereka lihat sehari-hari. Tontonan yang tak patut, teladan orangtua yang minim dan pertemanan yang tak memiliki standar sahih. Remaja atau generasi muda pada umumnya hari ini telah kehilangan identitas Muslim mereka. Sehingga tak lagi terlihat bagaimana beruntungnya mereka ketika tetap dalam keadaan taat kepada agama mereka.

Jika mereka paham bahwa budaya Barat hanya membawa kepada kerugian dan kehinaan pasti mereka tak akan banyak lalai daripada produktif secara syar’i. Barat memang tak kenal diam untuk terus berupaya membumikan peradaban bobrok mereka. Ini tak lepas dari fungsi negara yang mandul dalam menjada akidah umat.

Maka, sudah selayaknya, negara berbenah, mengatur segala urusan rakyatnya secara lebih sempurna sebab generasi muda yang sehat secara akal dan jasmani adalah jaminan majunya sebuah bangsa. Wallahu a’ lam bish showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *