Interaksi Dakwah Rasulullah saw

Spread the love

Oleh.  Ummu Nazry Najmi Nafiz

MuslimahTimes–Rasulullah saw,  mulai melakukan interaksi dakwah kepada manusia,  sesaat setelah wahyu pertama turun.  Rasul menyampaikan setiap ayat Al-Qur’an yang turun kepada keluarganya,  sahabat karibnya hingga kepada seluruh masyarakat Mekkah dan kabilah arab lainnya.

Hasil dari interaksi dakwah ini beraneka ragam.  Ada yang menerima namun sebagian besar menolak dakwah atau ajakan Rasulullah saw kepada Islam.  Yang menerima dakwah Islam didominasi oleh masyarakat kelas bawah,  walaupun ada beberapa tokoh umat yang masuk Islam,  menyambut hangat seruan Rasul saw,  semisal Abu Bakar Ash-shiddiq r.a.

Penderitaan yang diterima akibat interaksi dakwah Rasul saw dengan  masyarakat,  tak terbilang banyaknya, mulai siksaan dan penganiayaan,  propaganda jahat hingga pemboikotan. Seluruh cobaan dakwah sebagai konsekuensi dari interaksinya bersama masyarakat,  diterima oleh Baginda Rasul Saw dengan sabar.  Pun begitu dengan para sahabat Rasul saw,  tabah menghadapi berbagai cobaan di jalan dakwah.

Rasul  saw  dan para sahabat,  terus teguh menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia, terus melakukan interaksi dakwah secara intensif kepada semua manusia yang ditemuinya,  termasuk kabilah-kabilah arab yang datang berziarah ke ka’bah,  pada bulan- bulan haram (suci).  Dengan harapan dapat meraih rida Allah Swt dan keyakinan akan pertolongan Allah Swt.

Seluruh kabilah diseru tanpa kecuali.  Berharap mereka mau menerima dakwah Baginda Rasul saw.  Namun  apa daya,  orang-orang kafir itu tetap dengan penolakannya atas dakwah Rasul saw.

Sedih tak terkira Baginda Rasul saw menerima kenyataan ini. Dakwah Islam ditolak dimana-mana,  oleh kabilah-kabilah besar.  Namun keyakinan Rasul saw pada  Allah Swt mampu memalingkan Rasul dari pedihnya menapaki jalan dakwah,  sebab inginnya pada rida Allah Swt.  Jalan dakwah tetap dijalani, interaksi dakwah tetap dilakukan, meski penuh onak dan duri.

Hingga suatu saat,  setelah pemboikotan kafir Quraisy pada Rasul saw dan kaum muslimin berakhir, datanglah pertolongan itu,  di saat Rasul dan para sahabat sudah dititik nadir menanggung beban derita dakwah yang sangat hebat sebab penolakan dakwah dari suku-suku besar yang didatangi oleh Baginda Rasul Saw.  Penduduk Thaif ( Bani Tsaqif),  Bani Kindah, Bani Kalb,   Bani Hanifah,  Bani Amir bin Sha’sha’ah,  adalah suku-suku besar yang Rasulullah Saw datangi untuk menerima dakwahnya,  namun semuanya menolak dengan penolakan yang menyakitkan.

Namun,  suatu ketika,  dua suku besar dari Yatsrib ( Madinah ),  Aus dan Khazraj datang kepada Rasul Saw,  meminta Baginda Rasul Saw menjadi juru damai atas setiap perselisihan yang terjadi di antara mereka dan diminta untuk memutuskan setiap perkara yang terjadi di antara mereka.

Dua kabilah ini akhirnya masuk Islam dan menerima seluruh syarat yang diajukan oleh Baginda Rasul saw,  melalui peristiwa Baiatul aqabah.

Melalui suku Aus dan Khazraj inilah,  Allah Swt menurunkan pertolongannya kepada Baginda Rasul Muhammad Saw dan kaum muslimin.   Akhirnya Islam dapat tegak dengan sempurna di tanah Madinah,  dan menyebar  luas ke seluruh penjuru dunia.

Demikianlah perjuangan tegaknya Islam di dunia.  Hasil dari interaksi dakwah yang  Rasul Saw dan para sahabat  lakukan dengan seluruh umat manusia  yang bisa ditemuinya, penuh darah dan air mata. Penuh pengorbanan.

Demikianlah sunatullah dari sebuah aktivitas menyampaikan kebenaran Islam,  melalui interaksi dakwah.   Akan melahirkan berbagai macam respon bakik dari manusia,  baik penerimaan maupun penolakan.  Sebab dakwah hakikatnya adalah menyampaikan hakikat kebenaran yang sesuai dengan fitrah penciptaan manusia,  memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Sehingga kebenaran itu bisa diterima manusia dan pada akhirnya manusia mau meninggalkan berbagai macam kesesatan  dan kebatilan.  Sebab  sunatullahnya kehidupan adalah bahwa kebenaranlah yang pasti akan bisa diterima oleh akal manusia,  sehingga dari penerimaan ini akan melahirkan kepatuhan pada kebenaran itu sendiri.  Sebab kebenaran itu pastilah sesuai dengan fitrah penciptaan manusia,  memuaskan akal dan menentramkan jiwa.  Pastilah sangat manusiawi. Sebab  kebenaran itu pasti berasal dari sang pencipta manusia, yaitu Allah swt.

Karenanya,  interaksi dakwah akan menghasilkan perubahan  dalam sebuah komunitas masyarakat.  Sebab interaksi dakwah akan mampu mengubah segala hal yang bisa dipengaruhinya.  Hingga mampu mengubah keyakinan seseorang. Sebab itu,  patutlah kita mencontoh bagaimana Rasulullah saw melakukan interaksi dakwahnya dengan masyarakat Mekkah dan kabilah-kabilah arab lainnya.  Dengan sebuah interaksi yang mampu membuka tabir kehidupan. Mampu mengantarkan manusia pada sebuah pilihan hidup yang sangat tepat.  Mampu menjadikan manusia berubah kearah yang lebih baik. Mampu menjadikan manusia berfikir jernih atas jalan hidup yang dipilihnya.  Dan lebih jauh dari itu semua adalah mampu mengantarkan manusia pada jalan keselamatan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

Walaupun cobaan berat menimpa Baginda Rasul saw dan para sahabat,  sebagai sebuah konsekuensi berat dari sebuah interaksi dakwah,  tetaplah interaksi dakwah itu dilakukan tanpa keluh-kesah, sebab ingin meraih keridoan Allah Swt.  Sebab sejatinya dakwah adalah menyampaikan apa yang telah Allah Swt sampaikan  kepada Baginda Rasul saw melalui malaikat Jibril as,  agar hukum-hukum Allah Swt diketahui dan dijalankan  oleh  seluruh umat manusia tanpa kecuali.

Wallahualam.