Jebakan Kurikulum Industri bagi Kampus

Spread the love

Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

Muslimahtimes.com –  “Kita dididik untuk memihak yang mana? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan atau penindasan? ” – WS. Rendra

Pertanyaan dari pernyair terkenal di Indonesia ini menghentak kesadaran. Akankah ilmu yang diajarkan di bangku sekolah bahkan kuliah menjadi alat pembebasan atau malah mengokohkan penindasan itu sendiri?

Kurikulum Industri di Tengah Akademisi

Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik para mahasiswa. “Ajak industri ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri, bukan kurikulum dosen, agar para mahasiswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari pengalaman di dunia akademis semata,” kata Jokowi dalam Konferensi Forum Rektor Indonesia yang ditayangkan YouTube Universitas Gadjah Mada, Selasa (27/7/2021). (Kompas.com)

Pernyataan ini keluar karena melihat era disrupsi, dimana banyak pekerjaan yang hilang dan muncul pekerjaan baru. Banyak pula pengetahuan dan keterampilan yang seolah tak terpakai, usang ditelan jaman. Maka, atas nama menyongsong masa depan, Presiden meminta mahasiswa dididik sesuai kebutuhan industri sehingga mereka siap pakai dan siap menghadapi tantangan ekonomi yang ada.

Bahaya Kurikulum Industri

Terlihat maksud tersirat dari pernyataan sang Presiden, menjadikan mahasiswa siap terjun ke dunia kerja yang ada kedepannya. Inilah bahaya tersembunyi yang hadir, pengalihan orientasi dalam dunia Pendidikan agar semakin sejalan dengan sistem yang diterapkan saat ini, kapitalisme.

Kapitalisme menjadikan manfaat dan materi sebagai tolok ukur dalam perbuatan dan pengambilan keputusan. Maka, wajar jika penentuan kurikulum saat ini pun dinilai dari manfaat dan materi. Jika ini diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan, akan lahir manusia-manusia yang menyandarkan diri dan aktivitasnya pada manfaat dan materi semata. Mereka akan tumbuh menjadi manusia pekerja.

Secara tidak langsung, kurikulum industri menjadi pintu bagi korporasi untuk menjajah kekayaan intelektual mahasiswa. Kurikulum ini akan menyekat dan membatasi pembelajaran hanya untuk kepentingan pekerjaan. Dan tentu pekerjaan disini adalah level bukan atasan. Karena mental dan bekal pendidikan bagi atasan yang berjiwa inovatif, kreatif, produktif, berbeda dengan bekal yang diberikan pada para calon pekerja.

Di sisi lain, hal ini pun menjadi ancaman bagi negeri. Ancaman kehilangan sumber daya manusia sebagai pemberi solusi bagi permasalahan negeri, pencetus inovasi bagi umat di masa nanti karena dibatasi pendidikannya hanya untuk bekal industri atau bekerja. Maka, tak akan ada bedanya manusia nanti dengan mesin-mesin industri.

Islam Memuliakan Ilmu

Hal ini sangat berbeda dengan ilmu dalam Islam. Islam mendorong manusia menuntut ilmu bukan untuk materi tapi karena kemuliaan yang ada pada ilmu. Islam pun menempatkan posisi yang berbeda bagi orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.

Allah swt berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (TQS. Al Mujadilah : 11)

Rasulullah Saw pun mengabarkan keutamaan mencari ilmu. “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Imam Syafi’i pun pernah berkata, “Barang siapa menginginkan kebahagian dunia, maka tuntutlah ilmu dan barang siapa yang ingin kebahagian akhirat, tuntutlah ilmu dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, tuntutlah ilmu pengetahuan.”

Betapa mulianya menuntut ilmu dalam Islam, bukan demi materi, bukan demi mendapatkan pekerjaan. Tapi, motivasi kemuliaan, memberi sebesar-besar manfaat bagi umat, mempermudah jalan menuju surga, serta bekal dalam beramal di dunia agar tidak tersesat. Dan tentu dalam Islam, inovasi juga kreativitas dibebaskan selama masih dalam koridor iman dan syariat. Maka, tak aneh kita dapati sosok polymath di masa Islam diterapkan.

Kurikulum Perguruan Tinggi dalam Islam

Kurikulum dalam Islam disusun bukan bersandar pada permintaan lapangan pekerjaan, tapi menjadikan generasi berkepribadian Islam yang cakap dalam menghadapi permasalahan kehidupan. Perguruan tinggi pun berorientasi demikian, sehingga yang dihasilkan bukan hanya manusia yang lihai dalam teknis tapi juga memiliki perilaku sesuai Al Qur’an dan Assunnah. Dari model Pendidikan seperti ini, banyak lahir sosok berilmu yang memberi solusi bagi permasalahan masyarakat dan negara. Masyaallah.

Pengelolaan perguruan tinggi dalam islam memang dirancang untuk mengoptimalkan potensi intelektual demi kemanfaatan umat. Jika dibagi menjadi tiga, maka tujuan perguruan tinggi dalam Islam adalah:

Pertama, memfokuskan dan memperdalam kepribadian Islam para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah dibangun di level pendidikan sebelumnya. Menguatkan mereka agar menjadi pemimpin yang menjaga dan melayani umat.

Kedua, membentuk gugus tugas yang mampu melayani kepentingan umat. Perguruan tinggi harus mencetak para peneliti yang mampu secara teori dan praktik untuk memperbarui dan menemukan alat serta cara dalam pengurusan aspek vital seperti air, makanan, keamanan, kesehatan, akomodasi dan sebagainya.

Secara tak langsung kemandirian dalam kepengurusan aspek vital ini berkontribusi untuk menjaga kedaulatan negara. Negara menjadi berdaulat, tak bergantung atau tunduk pada korporat atau negara luar.

Ketiga, mewujudkan gugus tugas untuk menjaga urusan umat. Perguruan tinggi dipersiapkan untuk melahirkan berbagai profesi yang ada, baik hakim, fuqoha, tenaga kesehatan, arsitek, insinyur, akuntan, dan lainnya. Semuanya dilahirkan dengan tujuan menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Masyaallah, inilah rancangan perguruan tinggi dalam Islam yang sudah pernah diaplikasikan berabad silam. Sudah tercatat tinta emas sejarah penerapannya. Semoga Allah anugerahkan kembali keagungannya ke pangkuan kaum muslim.

Wallahua’lam bish shawab.