Karst Sangkulirang di Pusaran Industri Semen

Spread the love

Oleh Astik Drianti, S.P.,M.P*

(*Dosen Universitas Kutai Kartanegara)

 

#MuslimahTimes — Karst adalah daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga air di permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah (permukaan tanah selalu gundul karena kurang vegetasi) . Batuan kapur atau gamping ini merupakan bahan baku utama bagi industri semen. Dan Kalimantan Timur memiliki bentang wilayah Karst. Salah satunya adalah Karst Sangkulirang-Mangkalihat.

Kawasan Karst Sangkulirang yakni Kawasan Pegunungan Sangkulirang –  Tanjung Mangkalihat memiliki luas 293.747,84 hektar. Dan tentunya keberadaan batu gamping ini menarik investor utamanya pabrik semen. Di Kalimantan Timur sendiri kawasan yang memiliki potensi ini, paling besar di Sangkulirang dan Mangkalihat, di Kabupaten Kutai Timur, dan Pegunungan Nyapa di Berau serta Penajam Paser Utara hingga Kabupaten Paser. Sedikitnya, ada sekitar 13 perusahaan semen saat ini siap antre mendirikan pabrik di daerah ini (mongabay.co.id/26/4/13). Dan saat ini kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat harus menghadapi ancaman dari pabrik semen milik PT. Bosowa, Kobexindo Cement dan PT. Bengalon Limestone (Jatam.org 13/2/18).

Perusahaan asal Tiongkok Hongsi Holdings berniat melakukan investasi pada industri semen di desa Sekerat Kutai Timur, dengan nilai investasi sekitar Rp.29 Triliun setara dengan USD 2,1 miliar.  Perusahaan ini pun mengaku siap bekerjasama dengan PT Kobexindo yang telah lebih dulu mendapatkan ijin, perusahaan ini akan mampu memproduksi 8 juta ton semen per tahun (antaranews,15/3/19). 

Keberadaan pabrik semen yang rencananya akan memafaatkan lahan seluas 822 hektar ini di harapkan akan mampu menyerap 1000 tenaga kerja lokal, melakukan transfer ilmu dan teknologi, serta akan memberikan PAD bagi daerah serta menjadi pusat pertumbuhan baru bagi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy (Kalimantan.bisnis.com, 15/3/19).

Meningkatnya investasi di industri semen tentu tidak lepas dari kebijakan dan program pemerintah yang lebih mengedepankan pembangunan infrastruktur skala besar demi memfasilitasi perputaran dan akumulasi kapital finansial. klaim bahwa Indonesia masih membutuhkan tambahan pasokan semen untuk pembangunan tidak sepenuhnya benar. Data dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menunjukkan bahwa indonesia mengalami surplus produksi semen sejak 2015. Senada dengan hal itu, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam perayaan ulang tahun ke-4 PT. Semen Indonesia menyebutkan, hingga 2017 kapasitas produksi pabrik semen di Indonesia mencapai 102 juta ton per tahun, namun konsumsi semen hanya pada kisaran 65 juta ton per tahun.

Jelas bahwa argumentasi pembangunan pabrik semen karena Indonesia kekurangan semen sangat tidak masuk akal. Perusakan ruang hidup rakyat atas ekspansi industri semen lebih jauh kini disetir oleh korporasi-korporasi dan pasar finansial, bukan lagi atas nama kebutuhan rakyat. Di sisi lain, hasrat PT. Semen Indonesia untuk membangun banyak pabrik semen tidak didasari pada pemenuhan pasokan semen dalam Negeri, namun lebih dalam rangka menguasai pasar semen di Asia Tenggara (Jatam.org 13/2/18).

Keberadaan Karst sebagai bahan baku semen sesungguhnya memiliki banyak peran penting dalam kehidupan. karena karst suatu ekostistem, penghasil air. Kawasan kars menangkap karbon dua  kali lipat dari hutan, baik karbon di tanah maupun di udara. Sehingga rusaknya kawasan karst juga akan berdampak pada perubahan iklim, kemarau akan semakin panjang, kualitas air pun akan semakin buruk.

Pengelolaan kawasan karst tidak cukup dengan mendesak pemerintah, dengan Aturan Perlindungan Karst. Namun juga harus di mulai dengan perubahan paradigma bahwa karst bukanlah sekedar bahan baku yang dapat mendatangkan keuntungan. Namun karst adalah kehidupan itu sendiri.

Investasi dan pendapatan daerah sebagai alasan pembukaan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat hanya membuat negeri ini mati perlahan. Investasi baik dalam negeri maupun asing, hanya memandang alam sebagai bahan baku saja, bukan sebagai kawasan penyangga kehidupan. Investasi hanya membuat kekayaan semakin bertumpu pada golongan tertentu.

Penguasaan akan modaldan sumberdaya adalah hal utama dalam kapitalisme,dan kebebasan kepemilikan adalahbagian dari liberalismenya. Status sebagai produsen semen utama di dunia menjadi berbahaya jika harus mengorbankan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Namun dalam sistem ekonomi saat ini, semua boleh selama mendatangkan keuntungan dan pemasukan bagi negara yang sedang defisit. Inilah wajah asli kapitalisme.

Selama kapitalisme masih menjadi asas bagi perekonomian, dan bernegara, siapapun pemimpinnya. Bagaimana pun berjalannya rezim, maka kerusakanlah yang akan di dapat. Sudah selayaknya kawasan karst Sangkulirang dijaga dan dihormati karena kelayakan kualitas hidup kita bergantung kepadanya. Saatnya mengganti sistem pengelolaan sumberdaya kita dengan sistem yangmampu mengakomodir ekonomi dan kelestarian alam secara tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *