Ketika Pernikahan Terasa Begitu Membosankan

pernikahan
Spread the love

Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S
(Redaktur Pelaksana Muslimahtimes.com)

MuslimahTimes.com–Pernikahan merupakan relasi halal antara laki-laki dan perempuan untuk berkasih sayang dan melestarikan keturunan. Di dalamnya terdapat banyak limpahan pahala, karena hakikatnya menikah itu sendiri adalah ibadah. Maka, mengarunginya dibutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan, di antaranya perjuangan untuk menakhlukkan ego diri dan pengorbanan untuk saling melayani. Dengan itulah, keberkahan senantiasa membersamai sepanjang usia pernikahan.

Namun, tak dipungkiri terkadang setiap pasangan menemukan titik jenuh di dalam pernikahannya. Hal tersebut adalah manusiawi, mengingat setiap hari selama bertahun-tahun lamanya kita bertemu dengan orang yang sama dan melakukan aktivitas yang selalu berulang. Akhirnya pernikahan terasa begitu membosankan. Oleh kerena itu, dibutuhkan treathment untuk mengatasinya agar rasa bosan itu segera menguap, berganti dengan perasaan jatuh cinta kembali pada pasangan.

Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kebugaran pernikahan.

Pertama, ingat kembali masa-masa awal menikah. Saat bunga-bunga asmara merekah memenuhi ruang-ruang hati. Bukankah saat itu kita bahagia berada di sisinya dan teramat bersyukur karena Allah telah menganugerahkan dia dalam hidup kita?

Resapi kembali rasa itu, layangkan ingatan kita pada semua hal indah bersamanya. Penuhi dada kita dengan memori terindah yang pernah terekam di sepanjang usia pernikahan kita. Kelak, kita akan kembali menemukan perasaan menggebu yang mungkin sempat padam tersiram waktu.

Kedua, jalin komunikasi efektif dengan pasangan. Kesibukan masing-masing tidak boleh membuat kita abai dari aktivitas mengobrol dengan pasangan. Mungkin hanya saling berbagi cerita tentang apa yang sudah dilalui hari ini, tetapi yakinlah bahwa mengobrol membuat hati menjadi hangat. Kedekatan dengan pasangan akan kembali terasa. Buktikan, the power of ngobrol, menjadikan ikatan batin di antara pasutri kian menguat.

Ketiga, pergi jalan-jalan berdua saja, tanpa mengikutsertakan anak-anak. Ini memang agak sulit diwujudkan bagi pasangan yang memiliki anak bayi dan balita. Karena ke mana pun sang Bunda pergi, otomatis si anak menyertai. Tapi benarlah adanya bahwa pergi berdua saja merupakan salah satu langkah efektif dalam mengembalikan kebugaran dalam pernikahan.

Nikmati kebersamaan bersamanya seraya merenungi bahwa kebersamaan itu takkan abadi. Akan ada masa ketika Allah memisahkan dengan datangnya maut. Dengan begitu, niscaya akan tumbuh keinginan untuk saling membahagiakan dan melayani dengan optimal, selagi masih ada kesempatan.

Keempat, beri kejutan pada pasangan. Jika pernikahan mulai terasa begitu membosankan, bisa jadi karena kurangnya letupan-letupan cinta di dalamnya. Setiap hari hanya mengerjakan rutinitas yang itu-itu saja. Flat rasanya. Maka, sesekali memberi kejutan pada pasangan merupakan langkah brilian untuk kembali memekarkan bunga-bunga cinta. Misalnya, menyiapkan kado istimewa untuk pasangan, menyiapkan makan malam romantis, memberikan sepucuk surat cinta dan setangkai bunga, atau melakukan hal sederhana namun berkesan istimewa untuk pasangan, dan lain-lain.

Demikianlah langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan pasutri demi menghidupkan kembali gelora mahabbah dalam pernikahan. Dan ingatkah pula bahwa setan tak pernah bosan menggoda pasangan suami istri dalam pernikahannya, karena bagi mereka hancurnya pernikahan seorang muslim merupakan sesuatu yang didamba. Memisahkan suami istri merupakan prestasi bagi kalangan mereka.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau.” (HR Muslim IV/2167 no 2813)

Maka, jangan terjerat dengan godaan setan, berpeganglah erat pada mitsaqon ghaliza yang telah terucap di lisan kita dulu. Sungguh, pernikahan merupakan sebuah ikatan suci yang layak dipertahankankan sampai mati. Oleh karena itu, kedua belah pihak yakni suami istri harus sama-sama pandai menjaganya, yakni menjaga agar tetap bersemi bahagia di dalamnya. Pondasinya adalah takwa, kerangkanya adalah adab, dan penghiasnya adalah cinta. Insyallah pernikahan akan terasa begitu menyengkan. Allah Swt berfirman, “…Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…” (QS Al-Baqarah: 187).

Wallahu’alam bis shawab.