Khilafah ; Password Kebangkitan

Spread the love

Oleh: Shafayasmin Salsabila

Muslimahtimes– Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini mampu mewakili strategi jahat kaum imperialis Barat. Mereka sengaja menjauhkan umat dari konsep Khilafah. Umat dibuat amnesia, tidak mengenal “ibunya” sendiri, dicuci otak hingga takut bahkan sampai membencinya. Madu yang menjanjikan kesembuhan, dipropagandakan sebagai racun mematikan dan berbahaya.

14 abad silam, dunia mengenalnya dengan istilah Khilafah. Sistem pemerintahan warisan Rasulullah Saw. Keberadaan bangsa Arab mulai diperhitungkan secara politik oleh negara adidaya saat itu. Padahal sebelumnya, Arab hanya dikenal sebatas kepiawaian dalam bersyair. Tidak memiliki pamor dalam kancah internasional.

Keterbelakangan negeri padang pasir tersebut akhirnya tinggal sejarah. Sejak peradaban Islam mulai menggeliat dan tumbuh di Madinah. Sepuluh tahun Rasulullah Saw. memimpin negara Islam, yang dikenal dengan sebutan daulah Islamiyah nabawwiyah. Wilayahnya terus meluas, sampai seluruh jazirah Arab. Dakwah digencarkan sesuai misi kenabian terakhir, memancarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (TQS. al Anbiya: 107)

Setelah wafatnya, tongkat estafet perjuangan Rasul, digenggam oleh para Khalifah sesudahnya. Seperti sabda beliau, “Dulu Bani Israil selalu dipimpin/diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, datang nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah yang banyak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Sejarah mencatat, tersebutlah Khulafaur Rasyidin, diantaranya: Abu Bakar ash-shidiq ra., Ummar bin Khattab ra., Utsman bin Affan ra. dan Ali bin Abi Thalib ra. Selama 30 tahun keempatnya memimpin ke-khilafahan. Setelah itu berlanjut kepada tiga dinasti hingga 13 abad lalu Khilafah berakhir di Turki pada tahun 1924.

Perjalanan panjang kekhilafahan, mengukir amat banyak prestasi. Tersebarnya Islam ke seluruh pelosok dunia dan menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan teknologi. Cendekiawan dan ilmuwan terlahir pada masa pemerintahan Islam ini. Bukankah Allah telah berfirman, “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia…” (TQS. Ali Imran: 110)

Kunci peradaban maju ini ada pada sistem yang menaunginya, yakni sistem hidup buatan Allah Swt, Khilafah. Pemimpin kekhilafahan umumnya disebut sebagai khalifah. Hanya ada satu orang Khalifah untuk satu kekhilafahan. Umat Islam sedunia dipimpin oleh seorang pemimipin. Uniknya, kepemimpinan dalam Islam ini fokus pada tujuan untuk menerapkan syariah dan menyebarluaskannya. Seluruh persoalan dikembalikan kepada nash karena Islam menjadi ideologi negara.

Umar Al-Faruq berkata: “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang rendah, lantas Allah meninggikan kami dengan Islam. Siapa di antara kami yang menuntut ketinggian tanpa dasar yang telah ditinggikan Allah kepada kami niscaya Allah akan merendahkan kita.” (Al-hakim, Al Mustadrak/1/130).

Jadi tinggi atau rendah kondisi suatu negeri, bergantung pada kuat atau lemahnya dalam memegang Alquran dan Sunnah, berikut undang-undang hukumnya.

Penerapan syariah oleh Khilafah akan membawa kemajuan yang menakjubkan, sebaliknya abai darinya menjadi titik lemah, terhantam berbagai krisis, kerusakan, dan ketertinggalan. Seperti kondisi saat ini. Belum genap satu abad Khilafah lenyap, tapi dunia kian suram, bumi pun terancam. Negeri kita kritis. Umat dihantam penderitaan bertubi-tubi. Tak aneh jika gemuruh kerinduan kepada Khilafah menguat. Umat ingin move-on dari segala keterpurukan.

Jika kebangkitan umat diibaratkan seperti brankas, maka Khilafah adalah password untuk membuka kuncinya. Tanpanya, peradaban gemilang hanya sebatas wacana, manisnya sulit diindera. Hanya ada satu jalan bagi kemenangan Islam, yakni dengan menegakkan Khilafah.

Garansinya, Allah sendiri yang janjikan dalam Alquran surat An Nur ayat 55. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [nb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *